GODAAN SPIRITUAL (BAG-1) Posted by Darmayasa on 2012-01-06 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Pada suatu saat, ketika masih bekerja di India, dalam suatu pertemuan saya sempat mengajarkan pada orang-orang India tentang masalah “hati-hati”. Hati-hati dalam pengertian kebanyakan orang artinya adalah pelan-pelan. Tetapi yang lebih penting dari pelan-pelan itu adalah awas penuh ketelitian dan perhatian, atau dapat juga diartikan penuh kewaspadaan. Dalam kehidupan sehari-hita kita perlu selalu waspada, karena isi dunia di Zaman Kali saat ini, kenyataan yang tersembunyi di dalamnya benar-benar tidak seperti apa yang kita lihat atau harapkan. Istilah puitisnya: “nothing as it seems”.
Dalam hal Dunia saja kita perlu waspada dan berhati-hati, maka dalam hal Spiritual pun kita perlu lebih berhati-hati lagi. Sebab kita menghadapi beberapa (baca: banyak) halangan, yang bagi kita insan biasa ini, merupakan rintangan yang berat-berat. Pertama sekali, rintangannya adalah dari diri kita sendiri, yaitu halangan yang timbul dari badan dan dari pikiran, dan dari karma-karma yang berhubungan dengan badan, dan yang ber-akumulasi pada kehidupan kita saat ini yang datang dari karma-karma yang berhubungan dengan sang roh sejak penjelmaan-penjelmaan terdahulu. Hal ini yang akan kita bahas dalam Renungan Mingguan kali ini.
Dapat kita bayangkan berapa banyak karma-karma yang harus kita hadapi dalam kehidupan ini, terlebih ditambah lagi dari kehidupan-kehidupan kita sebelumnya.
Namun hal ini tentunya bukan untuk kita jadikan sebagai sebuah tanda ‘menyerah kalah”, tetapi justru harus kita jadikan penyemangat dalam usaha pembersihan Diri Sejati, dan agar lebih dapat “Nrimo” jika kita menghadapi banyak rintangan dalam kemajuan spiritual, padahal kita telah berusaha sekuat tenaga, dan bahkan telah mendapat berbagai macam berkah dari Guru Sejati/Tuhan YME.
Rintangan pertama yang cukup susah untuk kita hadapi adalah yang datang dari pikiran kita. Pikiran adalah Maha Rajadiraja dari seluruh indria. Dalam sastra-sastra suci disebutkan bahwa pikiran itu larinya jauh lebih cepat dari angin. Dia mudah lari kesana-kemari tanpa arah tujuan, dan menyebar ke segala arah. Kerlap-kerlip pikiran begitu cepat membawa kita menjauh dari tujuan Spiritual. Untuk itulah orang-orang bijaksana menganjurkan agar kita melatih pengontrolan kerlap-kerlip pikiran dan indria-indria bagaikan kura-kura yang menarik anggota badannya ke dalam badan/rumahnya.
Seperti itulah ketika godaan dan rintangan yang muncul dari kerlap-kerlip pikiran, hendaknya kita sebisa mungkin menarik perhatian dari hal-hal diluar, untuk fokus ke dalam diri kita. Cara paling mudah, karena kita telah diberkahi teknik Meditasi Angka, maka jika pikiran mulai berhembus kencang pada hal-hal yang menjauhkan kita dari tujuan spiritual, segeralah tarik kesadaran ke dalam dan ikatlah kesadaran tersebut melalui teknik pengulangan dan konsentrasi pada “Angka Pilihan” kita. Tentu saja jika di hadapan banyak orang, kita tidak harus duduk serius lalu memejamkan mata untuk berkonsentrasi pada angka pilihan, tetapi ingat pada angka dapat dilakukan dalam keadaan apa saja, bahkan kalau perlu jangan sampai orang lain tahu bahwa kita sedang melakukan konsentrasi pada angka pilihan,
karena meditasi bukanlah sesuatu untuk kita pamerkan atau omongkan dalam teori-teori obrolan di warung kopi. Ia juga bukan sesuatu yang perlu kita pamerkan untuk dijadikan kebanggaan yang bersumber dari “false ego” kita.
Dalam hal ini, angka pilihan ibarat penyedot debu yang mampu membersihan berbagai kotoran tanpa menimbulkan debu lain yang justru ternyata menimbulkan efek berbahaya bagi kesehatan, seperti jika kita membersihkan debu pada karpet dengan menggunakan sapu lidi. Seperti itulah kemampuan Angka Pilihan dalam membersihkan dan melindungi kita dari debu-debu yang menjauhkan diri kita dari tujuan indah spiritual, tanpa menimbulkan efek samping lainnya.
Selain pikiran, halangan yang muncul adalah dari kelima indria kita. Kita menghadapi satu indria seperti mata saja sudah susah. Kita akan dibawa kemana-mana, diajak melihat semua yang menyenangkan indria luar dan dijauhkan dari target spiritual. Jika hasil yang muncul dari melihat itu berupa hal yang menyenangkan, maka kita akan dijauhkan dari tujuan sejati dengan membuat kita terlena karena asyik dalam kesenangan tersebut. Sedangkan kalau yang dilihat tidak menyenangkan, maka kita akan dijauhkan juga dari tujuan spiritual, melalui kedukaan, ketidaksenangan, kekesalan, kemarahan dan lain-lain. Maka dari itulah kita perlu berhati-hati dalam hal ini. Itu baru halangan yang timbul dari satu indira saja, yaitu mata.
… bersambung …
Sriguru,
(Darmayasa)
|