DALAM BAJU SPIRITUAL Posted by Aris Widyastana on 2011-11-17 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam kasih,
Sebagai insan biasa, yang terlahir dari dualisme dan juga mungkin nafsu, adalah wajar bila kita memiliki kebingungan, ketakutan, dan hayalan-hayalan. Kita terbelenggu oleh hayalan-hayalan yang saling bertentangan: seandainya begini, seandainya begitu; kalau begini, kalau begitu; dan sebagainya.
*/Icchaadweshasamutthena dwandwamohena bhaarata; /**
/Sarvabhootaani sammoham sarge yaanti parantapa./***
diliputi oleh ilusi, dualisme yang saling bertetangan, yang muncul dari harapan dan kesedihan, wahai keturunan Bharata (Arjuna), sesungguhnya semua manusia dilahirkan dalam kebingungan, wahai Parantapa (penakluk musuh/Arjuna)
Dalam kebingungan muncul ketakutan. Takut gagal, takut mati, kecewa, stress, depresi adalah disebabkan oleh keterikatan. Dalam keadaan ketakutan demikian sebagian orang akan mencari pelarian kepada hal-hal yang menyenangkan sesaat tapi kemudan membawa kehancuran. Sebagian lagi memilih berlindung pada Tuhan.
Seperti seorang anak yang berlindung pada orang tuanya, demikianlah kita berlindung pada Tuhan dan Tuhan tidak pernah menolak kedatangan kita pada-Nya, apa pun alasan kita. Walau Tuhan sendiri bersabda bahwa di antara 4 jenis orang yang datang pada-Nya yang bijaksana yang paling dikasihi, namun bukan berarti yang lain diabaikan.
Seperti halnya ketika bepergian, perjalanan spiritual pun selalu dimulai oleh langkah pertama. Langkah pertama ini bermacam-macam. Ada yang karena sakit, ada yang karena kekhawatiran kehilangan pekerjaan, walau ada pula yang memang memiliki ketertarikan untuk menekuni bhakti tanpa alasan apapun. Tuhan pun, seperti juga orang tua kita, pada awalnya memenuhi keinginan-keinginan cengeng kita sambil perlahan menuntun kita menuju jiwa yang lebih dewasa.
Yang perlu kita sadari adalah bahwa langkah-langkah berikutnya seharusnya membawa kesadaran kita pada kesadaran bhakti yang tulus pada Tuhan.
Untuk mencapai kesadaran demikina, tuntunan seorang Guru yang bonafid sangat diperlukan agar kita tak salah melangkah. Bersyukurlah, kita punya Guru yang demikian.
Ksama sva Shri Hari
Shri Guru,
paw
|