MENOLAK KESEMPATAN EMAS (BAGIAN 2) Posted by Darmayasa on 2011-09-15 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Pada akhirnya saudaraku semua...pada akhirnya....kita telah berhasil menyulap kekurangan dan kesalahan teman kita itu menjadi sebuah kejahatan! Sehingga begitu ada yang mendengar nama orang tersebut...orang akhirnya menjadi jijik, dan bahkan seakan hendak muntah-muntah begitu bertemu dengan orang itu. Akhirnya setiap orang menjadi mencibir dan menjauh dari teman tersebut dengan wajah kusam. Kalaupun tokh berkenan bertegur-sapa... kita akan memakai kata yang sangat ketus untuk bertutur kata dengannya.
Kejadian seperti itu adalah sebuah kenyataan dalam pergaulan keseharian yang kita dapat jumpai di masyarakat, dan bahkan kita sangat mungkin menjadi bagian dari pemain di dalamnya. Karena itulah jika kita tidak ekstra berhati-hati dalam batasan “divine love” maka kita akan terperangkap dengan sangat rapi di dalamnya.
Teman-teman..., ketika kita bertemu dengan orang yang berhati emas..., kenalilah dan manfaatkan kesempatan tersebut untuk merangsang hati kita menjadi berkapasitas emas pula. Seperti halnya besi biasa yang akan memiliki kekuatan seperti besi sembrani (magnet) ketika berada dekat dengannya. Oleh karena itu, kesempatan emas hendaknya jangan pernah diabaikan, pun jangan dilalaikan. Dan jangan pula justru dibalikkan menjadi sebuah tuduhan dan hujatan. Kenalilah..bahwa Dhunaguru/Tuhan telah berkenan mengirimkan dewa penyelamat bagi keruntuhan moral spiritual kita berupa kehadiran orang-orang baik di dalam hidup kita.
Untuk itu lupakanlah segala jenis kekurangan dan keburukan orang tersebut. Segeralah lihat, segeralah amati serta cermati, betapa banyak dan mulianya sifat dan kemampuan orang tersebut yang membuat kita patut berguru padanya. Sangat banyak keindahan dan kemuliaan yang dimilikinya yang tidak ada pada diri kita.
Saya berkata kepada dr. Marina yang saat itu juga berada di tempat kami duduk-duduk sambil menunjuk pada tamu kita yang dari Jakarta tersebut, saya katakan, "Marina... I don’t like this kind of person...." Marina bertanya, "Why?". Lalu saya jawab, "Because he is too good....". Sambil tertawa lepas Marina menyampaikan ketidak mengertiannya. Saya lalu menjelaskan bahwa kehadiran orang yang hatinya terlalu baik bagi saya tidak banyak membantu saya untuk belajar praktik. Maksudnya di hadapan orang yang baik, saya tidak sempat mempraktikkan “divine love”.
Selanjutnya saya memberikan contoh dalam kehidupan saya, bahwa dahulu di tahun 1980-an, ada orang yang mengancam untuk membunuh saya secara tertulis. Saya sama sekali tidak membenci orang itu, malah saya sangat kasihan dan berusaha menemui orang itu untuk memeluk dan mengasihinya.
Penyebabnya sangat sepele, suatu saat dia menjadi sangar marah kepada saya karena saya tidak mampir ke rumahnya ketika berkunjung ke kotanya. Saya tidak sempat mengunjunginya karena saat itu saya mengajak tamu terhormat dan waktu yang sangat terbatas.
Ketika suatu saat saya hampir bertemu dengannya, begitu melihat saya orang itu segera masuk gang dan melarikan diri. Padahal pada saat itu saya berusaha menemui orang itu untuk memeluk dan menyadarkannya dari kekeliruannya.
Ketika bertemu dengan orang-orang yang berpikir tidak baik tentang kita, berbicara tidak baik tentang kita, berlaksana tidak baik tentang kita, sebenarnya hal itu merupakan kesempatan emas bagi kita untuk mempraktikkan ilmu “divine love”, agar ia tidak hanya menjadi penghias bibir dan hapalan semata di kepala kita, agar kita tidak hanya berhasil berbicara tentang teori “divine love” di dalam diskusi-diskusi dan tulisan-tulisan saja. Ketika saya berusaha mempraktikkan divine love, maka saya akan segera secara total mengabaikan kekurangan serta kesalahan orang yang berada di hadapan saya.
Tuhan akan kecewa telah mengirimkan ribuan kesempatan emas bertemu orang baik-baik dan/atau mempertemukan kita dengan para guru yang tulus serta bonafid, jika satu pun dari kesempatan itu kita tidak berhasil menangkapnya. Namun bukannya akan berhenti memberkahi kita, sebaliknya Tuhan akan memberkahi kita dengan ribuan kesempatan lagi. Tetapi dari ribuan kesempatan itu, kita sendirilah yang dibatasi oleh usia di dunia material. Artinya bahwa Tuhan selalu berkarunia, namun jika sampai akhir hayat di dunia ini kita tidak berhasil menangkapnya, maka alangkah sia-sianya hidup kita sebagai manusia dalam kehidupan ini. Padahal kita tahu bahwa lahir menjadi manusia sangatlah sulit dan kesempatan yang sangat langka.
Oleh karena itulah jika dalam kehidupan kali ini kita berhasil menangkap hanya satu saja dari ribuan kesempatan emas tersebut dengan cara seperti yang tadi kita bahas diatas, maka Mahaguru/Tuhan YME akan sangat berpuas hati dengan kita.
Dengan cara seperti itu, pastilah beliau pada akhirnya akan berkenan mengangkat kita dari kubangan lumpur "lapindo" material tanpa meminta syarat kelayakan apa pun dari diri kita, tanpa kita harus menjalani "fit and proper test" terlebih dahulu, maka Tuhan akan berkenan menerima kita menjadi pelayan dari pelayanNya yang terendah di dalam pelayanan “divine love”, yaitu cinta kasih yang tanpa dibatasi oleh pamrih, maupun perbedaan-perbedaan duniawi seperti suku bangsa, agama, ras dan lain-lainnya.
Semoga teman-teman berbahagia..
…Selesai…
Sriguru,
(Darmayasa)
|