TEKNIK MENERIMA BERKAH (BAGIAN 2) Posted by Darmayasa on 2011-09-05 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Teman kita yang menekuni usaha berbisnis kambing tersebut tanpa sadar akhirnya berbalik malah mengajarkan hal-hal yang dia yakini sebagai kebenaran kepada saya, walaupun saya menjelaskan dengan perlahan bahwa yang saya maksudkan adalah bahwa saat itu ia tertarik pada jalan meditasi, yang berarti ia sedang mengadakan pencarian keinsyafan diri, alias sedang mencari sang jati diri. Untuk itu, ia memang harus menjauhkan dirinya dari kegiatan yang berlawanan yaitu terlibat dalam lingkaran kegiatan bunuh-membunuh hewan yang tidak berdosa.
Mendengar hal itu ia segera menceramahi saya lagi, "Lha… saya kan tidak membunuh? kan orang lain yang membunuh?". Saya katakan, seorang koruptor memang pelaku, tetapi orang yang menyuruh melakukan juga adalah pelaku, saya jelaskan juga bahwa dalam tradisi dan kitab suci disebutkan ada enam jenis pembunuh… dan seterusnya dan seterusnya. Tetapi, ia tetap pada pendirian dan keyakinannya dan.... saya kira kita semua sudah tahu kemana arah pembicaraan, yang pada saat itu segera saya akhiri dengan kalimat, "Saya minta maaf kalau kalimat saya telah membuat bapak menjadi tidak nyaman....". lalu saya permisi pergi.
Demikianlah teman-teman, ketika seseorang tidak berhati-hati dalam mengarahkan meditasinya, maka ia tidak akan jauh dari keadaan yang dialami bapak tersebut. Ia akan berada pada keadaan dimana ia mengalami kesulitan untuk menerima pelajaran-pelajaran indah dan murni yang sedianya akan mengangkat kesadaran dan taraf hidup spiritualnya. Ia betul-betul tidak akan mampu lagi menerima, sebaliknya ia hanya mau agar dirinya selalu diterima...dalam segala keadaan.
Pada suatu malam, saya memutarkan CD ceramah Bhagavad-Gita. Banyak teman-teman yang hadir duduk dengan sangat tekun,
dan bersungguh-sungguh juga ikut mendengarkannya. Tetapi di barisan belakang ada yang ribut dan sibuk bercerita sendiri. Kemudian saya sengaja pancing dengan berbagai kalimat-kalimat untuk memberi peringatan, namun ternyata mereka tidak mengerti dan tetap saja ribut sehingga mengganggu teman yang lain yang sedang dengan serius mendengarkannya. Akhirnya saya sebut nama teman itu, meminta ia berhenti bercerita dan akhirnya iapun mulai mendengarkan ceramah Bhagavad-Gita tersebut. Teman tersebut memang akhirnya telah diam, tetapi di depannya ada lagi saudara kita yang lebih bersemangat bercerita. Sama dengan yang tadi, saya berikan beberapa kalimat pertanda saya meminta yang bersangkutan memberikan perhatian pada Bhagavad-Gita yang sedang diperdengarkan. Namun akhirnya saya terpaksa secara langsung meminta ia berhenti pula.
Disaat Ibu dan Istri saya datang pun saya perlakukan hal yang sama. Tentu saja terhadap Ibu, saya sapa beliau dan ajak bercerita sebentar, dan setelah itu ibu saya mengerti lalu permisi menuju ke depan ruang Dhunaguru, lalu berjapa di sana dan larut dalam japa-nya. Sedangkan terhadap istri saya hanya berikan tanda telunjuk di hadapan bibir, meminta ia tidak bicara.
Pelajaran yang ingin saya sampaikan di sini adalah mengenai betapa pentingnya kesensitifan akan keterbukaan kita dalam menerima pelajaran-pelajaran spiritual. Karena tanpa sadar, bayak orang yang tidak jeli melihat bagaimana setiap saat Guru Spiritual datang memberikan pelajaran-pelajaran dan agar kita terbuka menerima pelajaran-pelajaran tersebut. Namun banyak yang tanpa sadar menutup pintu Sang Diri untuk terabaikan dari pelajaran-pelajaran indah, alias tanpa sadar orang menolak pelajaran-pelajaran indah yang sedianya akan membentuk karakternya menjadi jauh lebih baik dan spiritual.
Seperti halnya dengan seorang bapak yang pengusaha kambing tadi, ketika saya memberikan nasihat, ia malah berbalik menasihati saya. Artinya ia telah menutup berkah pelajaran indah dan penuh manfaat bagi kesadaran dirinya. Seperti yang pernah saya ibaratkan, sebagaimana seseorang yang ingin menerima berkah susu, tetapi ia menerima susu yang dituangkan dengan posisi gelas yang terbalik kebawah, sehingga tidak setetespun susu yang ia dapatkan dalam gelas tersebut, alias sia-sia dan menyia-nyiakan berkah yang telah diberikan kepadanya.
Seorang pe-Meditasi hendaknya senantiasa menjaga ketundukan hatinya serta membuka pintu Dirinya untuk menerima dan membiarkan segala pelajaran-pelajaran indah dari Gurunya untuk masuk dan meresap kedalam Dirinya, demi keberhasilannya dalam meniti jalan spiritual yang penuh dengan liku-liku dan jebakan-jebakan di dalamnya.
Pelajaran yang disampaikan oleh seorang Guru Spiritual tidak mesti selalu berasal dari bibir beliau, karena dalam segala keadaan, kapan saja, dalam bentuk apa saja, dengan cara apa saja, dan dimana saja, seorang Guru Spiritual dapat datang demi memberikan pelajaran-pelajaran yang diperlukan kepada sang murid.
Sekarang tergantung si murid itu sendiri, apakah ia menyadari atau tidak akan kehadiran gurunya dalam memberikan pelajaran, akan sangat tergantung dari ketulusan sang murid untuk menjaga kemurnian hubungan batin dengan gurunya. Jika ia mampu menjaga hubungan batin itu dengan baik, maka pelajaran-pelajaran akan datang mengalir setiap saat pada sang murid. Dan yang lebih penting lagi sang murid akan memiliki keterbukaan dalam menerima pelajaran-pelajaran dari gurunya.... Guru sejatinya yaitu Tuhan YME.
Semoga kita semua diizinjanNya untuk melangkah di jalan spiritual melalui Meditasi Angka.
…Selesai…
Sriguru,
(Darmayasa)
|