Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
Cd/vcd/dvd
Donasi
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
SELAMAT DI JALAN SPIRITUAL
Posted by Darmayasa on 2010-08-13
[ print artikel ini | beritahu teman ]

Salam Kasih,

Sebagai seorang penekun atau pencari Spiritual, hubungan antara guru dan murid pasti selalu menjadi hal yang pasti ada. Tanpa kehadiran seorang guru spiritual, maka pencarian seorang penekun spiritual lebih besar kemungkinan gagal. Ya… karena dalam segala hal kita perlu bimbingan guru, baik itu di sekolah, di rumah, apalagi dalam urusan yang rambu-rambunya sangat rumit yaitu jalan Spiritual.
Biasanya seorang murid sangat mudah terkecoh oleh kesederhanaan atau ketundukan hati seorang guru spiritual yang bonafid. Seringkali murid merasa dirinya sama dengan gurunya, bahkan lebih parah lagi murid merasa lebih pintar dari gurunya. Sedangkan rahasia kemajuan di jalan spiritual adalah seorang murid harus menerima perintah guru sebagai perintah Tuhan itu sendiri, karena Guru Sejati adalah Tuhan itu sendiri, sedangkan guru dalam badan manusia hanyalah simbol saja yang dapat menyampaikan kepada murid yang meniti jalan spiritual. Mengenai hal ini sudah dibahas lebih detail lagi dalam renungan-renungan terdahulu.
Kedekatan hubungan seorang Guru dan Murid Spiritual seringkali dianggap sebagai rambu-rambu bahaya. Tentu saja bukan berarti Murid tidak boleh dekat dengan Gurunya..., justru Murid harus sebanyak mungkin dekat dengan Gurunya untuk mendapatkan berbagai bimbingan, tuntunan serta petunjuk praktek-praktek untuk melancarkan penitiannya di jalan spiritual. Berbahaya di sini adalah seperti yang sudah dibahas di atas, adalah kalau murid merasa dirinya sama atau bahkan lebih dari gurunya..., apalagi kalau mulai muncul rasa iri hati sang murid kepada gurunya, maka itu artinya sang murid telah membuat lubang maha dalam untuk mengubur dirinya sendiri, karena itu artinya kehancuran bagi sang murid (Silahkan baca kembali Renungan “Kembalilah engkau menjadi Tikus”). Untuk itu, hendaknya seorang murid jangan pernah terpancing membicarakan guru di belakang layar, meskipun keadaan memaksanya untuk itu. Karena membicarakan guru adalah sesuatu yang sangat menarik hati, namun tetap saja dapat berbelok menjadi membicarakan kekurangan atau kesalahan sang guru.

Hal ini harus terus dan terus kita tanamkan dalam bathin bahwa demi keselamatan perjalanan spiritual kita, maka jangan pernah membicarakan guru di belakang beliau. Saya telah melihat banyak bahwa, ketika kita "menyentuh" guru yang mengasihi kita dengan tulus, maka yang bersangkutan akan bersentuhan dengan "stroom" spiritual dan tanpa disadari, yang bersangkutan secara perlahan namun pasti akan "terjauhkan" dari jalan indah spiritual, walaupun yang bersangkutan tidak pernah menginginkannya, maka segala kebaikan akan dia lupakan lalu kecerdasan duniawi (maya) akan mengambil alih perjalanan "spiritual"nya untuk mengarahkan dia kepada jalan lain....yang mati-matian ia akan mengatakan bahwa ia berada di jalan yang benar.

Hal ini sangat perlu diperhatikan jika kita ingin selamat di jalan Spiritual, karena kalau tidak maka kita akan hilang, karena Tuhan tidak akan melihat apakah seseorang hebat atau tidak, melainkan beliau hanya akan melihat orang yang tunduk hati dan berhati bersih. Saya ingin mengarahkan semua teman-teman saya di jalan indah seperti ini, oleh karena itulah saya tidak pernah bosan mengingatkan dan bahkan saya masuk ke dalam kehidupan mereka untuk menata, membujuk, serta menyadarkan agar mereka mengarahkan hidupnya pada jalan yang benar.
Pada kenyataannya, memang terlalu banyak halangan dan cobaan bagi seseorang yang sedang berusaha menuju jalan indah spiritual, terutama adalah halangan di dalam jalan kerlap-kerlip kebaikan dan kesenangan yang sangat susah untuk dilewati oleh seseorang. Ketika Tuhan memberikan halangan berupa hal-hal yang tidak baik, barangkali ia mudah untuk diseberangi, tetapi ketika Tuhan memberikan halangan di dalam jalan kebaikan dan berbagai kerlap-kerlip kesenangan atau kehebatan duniawi, maka di sanalah kebanyakan orang bertekuk lutut dan jatuh, karena ia akan dengan sengaja (karena tekanan maya) meminggirkan dirinya dari jalan mulia itu.

Kesalahan-kesalahan lain barangkali masih bisa terampuni, tetapi kesalahan dalam "menilai" dan "menghakimi" guru adalah kesalahan fatal. Ia tidak bisa ditebus kecuali guru memaafkan kita. Itulah aturah atau hukum yang berlaku di dunia spiritual. Untuk itu hendaknya kita jangan pernah mencoba "menyentuh" guru yang mengasihi kita. Barangkali kita sekarang sudah memiliki bermacam pengetahuan yang tinggi dan sudah mendapatkan kesehatan dan lain-lain yang kita inginkan, tetapi kita jangan lupa pada "guru" yang dahulu ketika kita sedang dibanjiri oleh kasih beliau.

Mungkin ini adalah aba-aba kecil yang ingin saya sampaikan agar kita jangan membiarkan diri terpancing memanggang diri di dalam kobaran api tanpa alasan sama sekali hanya demi kemeriahan "gosap-gosip" yang memuaskan indriya ngawur kita. Inilah jalan spiritual, dimana kasih guru yang tulus tidak bisa kita ukur hanya dengan dua tiga lembar uang kertas, karena ia tidak bisa dibayar sama sekali. Oleh karena itu, hindarilah kesalahan terhadap guru dalam segala bentuk, dan seandainya ada hal-hal yang kita tidak mengerti sebaiknya kita sudahi saja dan jangan terlalu dibesar-besarkan. Kasih guru tidak terbatas, tetapi kasih murid barangkali terbatas, khususnya ketika gurunya tidak memuaskan keinginan pribadi si murid, maka dalam keadaan seperti itu murid biasanya akan sangat mudah menjauh dari gurunya dengan diiringi kobaran api ketidakpuasan. Oleh karena itulah hendaknya kita menghindari kesalahan terhadap guru dalam segala bentuk.

Dalam cerita-cerita spiritual, dikisahkan ada cerita yogi sakti luar biasa yang memberikan mantram kepada Dewi Kunti untuk menghadirkan dewa apa saja yang diinginkan. Beliau sangat sakti. Namun yogi itu pada suatu kali berbuat kesalahan pada abdi Tuhan yang bernama Ambrisa. Lalu Cakra Sudarsana Tuhan keluar mengejar yogi sakti itu, dan meskipun sang yogi datang pada semua dewa untuk meminta perlindungan, tetap saja tidak satupun dari para dewa tersebut dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya dari Cakra Sudarsana tersebut. Akhrinya yogi sakti itu harus datang kembali kepada Maharaja Ambrisa, dan setelah meminta maaf, barulah Cakra Sudarsana itu lenyap dari hadapan sang yogi tersebut.

Jadi, memang ada rambu-rambu spiritual ibarat tembok China yang tidak boleh kita robohkan jika kita menginginkan keselamatan perjalanan spiritual kita. Ketundukan hati dan ketulusan akan sangat membantu kita dalam meniti jalan spiritual yang sangat rumit ini. Hanya ketika kita bisa berjalan di dalam ketundukan hati tanpa menyentuh atau mengadili gurulah.... maka kita akan bisa dengan selamat sampai di tujuan. Kalau tidak, kita hanya akan terlempar kesana kemari tanpa alasan, hanya dipuaskan oleh kesenangan-kesenangan dan keinginan-keinginan duniawi kita oleh Tuhan sambil menunggu usia tua. Dengan kata lain kita akan gagal di dalam keberhasilan. Kita merasa berhasil tetapi sesungguhnya kita terlempar jauh dari medan keberhasilan.

Karena saya sangat menyayangi teman-teman semua, maka saya ingatkan kembali agar berhati-hatilah dalam hal ini dan jangan terpancing oleh rangsangan mahluk-mahluk penuh ketidakpuasan untuk mengajak kita bersama-sama masuk ke dalam lumpur berbahaya itu. Saya harap teman-teman jangan membaca renungan kali ini dengan serius dan tegang, karena saya tidak bermaksud menuduh siapa pun, melainkan ada "aba-aba" kasih dan ini adalah pelajaran. Hanya pelajaran. Oleh kerena itu, ia jangan diterima terlalu serius. Untuk kesalahan yang teman-teman lakukan jika pernah berbuat salah, saya telah memaafkan sebelum teman-teman berbuat kesalahan tersebut. Jadi harap dicatat bahwa saya tidak bermaksud lain, selain ini adalah sebuah pelajaran untuk kita semua, termasuk untuk diri saya sendiri, karena saya memerlukan batasan tembok China seperti itu.

Semoga semua berbahagia.

(.....Selesai.....)

Sriguru,
Darmayasa











Godaan Spiritual (bag-1)
Peliharalah Badan Kita
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (3)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (2)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (1)
Tak Ada Yang Gagal
Tabloid Suluh Meditasi Edisi Nopember 2011
Kenapa Medang?
Dalam Baju Spiritual
Legenda Cinta Radha Krishna
Geliat Pembangunan Aula/wantilan Di Parama Dhama Denpasar
Bersama Guru Dalam Setiap Langkah
Menolak Kesempatan Emas (bagian 2)
Menolak Kesempatan Emas (bagian 1)
Teknik Menerima Berkah (bagian 2)
Teknik Menerima Berkah (bagian 1)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.2)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.1)
Sembah Sujud
Kucing Putih Di Parama Dhama

Gerakan Suryanamaskar