Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Cd/vcd/dvd
Donasi
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
KEBANGGAAN DALAM HARTA DAN KECERDASAN HANYA MENUNJUKKAN BAHWA KAU TIDAK KAYA DAN TIDAK TERPELAJAR
Posted by Tamtam Setiawan on 2010-07-21
[ print artikel ini | beritahu teman ]

Salam Kasih,

Berikut kumpulan sharing teman-teman.

Renungan 110:

“Kebanggaan dalam harta dan kecerdasan hanya menunjukkan bahwa kau tidak kaya dan tidak terpelajar.” (Darmayasa)
---o0o---

Suryantha:

Salam Kasih

"*BANGGA"* adalah sikap yang harus hamba hindari.
Pengalaman saya mengatakan bahwa atas dasar apapun;
apakah bangga karena memiliki fisik yang bagus,
apakah bangga karena mempunyai guru yang bonafide,
apakah bangga karena bisa meditasi berjam-jam,
apakah bangga karena bisa menghindari empat pilar dosa,
atau bangga-banga yang lain, dengan tegas! sikap *bangga* harus dibuang jauh-jauh.
Sikap itu sama sekali tidak membuat saya menjadi maju kearah Pencerahan, akan tetapi sebaliknya membuat saya semakin merosot kedalam jenis kehidupan yang paling tidak menenangkan bagi diri dan orang di sekitar*.*

Sriguru,
Suryantha

---o0o---

N. Janiasih:

Salam Kasih,

Bangga akan harta maupun kecerdasan adalah sah-sah saja, yang penting jangan berlebihan. Apalah artinya kebanggan akan harta maupun kecerdasan tanpa di barengi dengan kecerdasan spiritual dan sepanjang sisa hidup kita hanya mengisi kepala kita dengan materi dan materi tanpa pernah kita melihat sekeliling kita, batapa mirisnya kehidupan di sekitar kita, betapa masih banyak yang membutuhkan pertolongan. Demi melihat pemandangan seperti itu apakah masih bisa kita bangga akan harta kita? atau bisakah kita memakai kecerdasan kita untuk sekedar meringankan beban mereka? Dan masih layakkah kita menepuk dada menyatakan diri kaya atau pintar?

Hidup di dunia hanya sementara, semua hanya pinjaman dari yang Kuasa, hingga suatu saat nanti beliau berkehendak semua bisa diambil, dan kita tidak tahu seberapa lama Tuhan memberi kita hidup, karenanya sebisa mungkin semasih kita di beri hidup hendaknya kita berusaha untuk membagikan sedikit kekayaan ataupun kecerdasan yang kita miliki untuk membantu orang-orang yang kesusahan. Intinya buatlah hidup kita lebih berarti bagi sesama, sehingga begitu Tuhan memanggil kita, kita sudah siap. Jangan sampai setelah kita meninggal baru kita sadar, ternyata kita tidak pernah sekalipun berbuat baik..., bahkan kitab sucipun baru kita kenal setelah roh kita lepas dari badan.

Damai,
Janie
---o0o---

Widyasthana:

Salam Kasih,

Kalau renungan ini dibalik, apakah orang yang tidak bangga dengan harta dan kecerdasan berarti dia adalah orang yang terpelajar? Menurut saya belum tentu. Kalau tak punya harta dan kecerdasan pun pas-pasan apa yang bisa dibanggakan? Kalau ada orang yang berhasil meraih kesuksesan dari usaha yang dimulai dari “nol” apa dia tidak berhak untuk bangga? Kalau ada orang yang berhasil meraih prestasi dengan kecerdasannya apa dia tidak berhak untuk bangga? Lalu mengapa orang yang bangga terhadap harta dan kecerdasan justru dianggap orang yang tidak kaya dan tidak pula terpelajar? Dimana masalahnya?

Saya sempat melihat stiker yang tertempel di sebuah mobil dengan tulisan: Titipan Illahi. Rupanya si pemilik mobil sadar betul bahwa yang dia miliki bukanlah miliknya. Ia sadar betul bahwa segala yang ada pada dirinya adalah titipan Tuhan yang sering kita sebut sebagai berkah. Kita memang tidak perlu berbangga hati dengan rumah, mobil, dan harta benda lain yang ada pada kita karena sesungguhnya itu bukanlah milik kita. Hanya titipan. Sertifikatnya hanya Hak Guna Pakai dan itupun dengan klausula: Bahwa pihak kedua setuju dan memberi hak pada pihak pertama untuk mengambil segala yang dititipkan oleh pihak pertama kepada pihak kedua dengan cara apapun juga dan sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu baik lisan maupun tulisan. Harta bisa habis hanya dalam semalam.

Suatu ketika di tahun 2008 saya melihat sebuah foto di surat kabar lokal di Bali yang isinya adalah sosok teman sekelas saya di SMA diapit keluarga dan beberapa orang lainnya. Berita terkait menyebutkan bahwa teman saya itu, yang sempat menjadi dosen di ITB, mengalami masalah kejiwaan dan saat itu terpaksa dirawat di kampung halamannya.

Harta dan kecerdasan hanyalah titipan dengan sertifikat HGB maka untuk apa berbangga? Biasa-biasa sajalah.

Semoga semua mahluk berbahagia.

Sriguru,
Paw
---o0o---

Noni:

Salam Kasih,

Kebanggan yang dimaksud dalam renungan ini mungkin adalah kemelekatan pada harta dan kecerdasan, dimana dua hal tersebut bersifat sementara. Harta misalnya, salah sedikit berhitung akan lenyap, pun juga kecerdasan, ketika kemampuan otak kita menurun sesuai umur juga akan hilang.

Jadi kedua kebanggan pada dua hal ini adalah sia-sia, seperti apa yang di sebutkan pada akhir renungan sebagai orang yang tidak kaya dan tidak terpelajar.

Apakah kekayaan sejati dan keterpelajaran yang sejati?

Dalam sebuah wacana Guru mengatakan pengetahuan akan Tuhan, pengetahuan akan Atma adalah yang sejati.

Sriguru,
Denoni
---o0o---

Hari Dharma:

Salam Kasih,

Menurut Hari, sepertinya memang benar, kebanggaan terhadap harta dan kecerdasan justru membuat yang memilikinya menjadi tidak memilikinya. "Sang pemiliknya" pasti
akan mengambil segala yang tidak baik untuk kita (istilah lainnya, segala yang di berikan"Nya" pasti adalah berkah, apapun bentuknya adalah yang terbaik untuk kita).

Menurut Hari, harta dan kecerdasan memang perlu untuk menunjang kehidupan dan juga spiritual. Tetapi harta dan kecerdasan bukanlah milik kita, kapanpun bisa diambil oleh "Pemiliknya". Jadi cara yang paling tepat adalah bukan
dengan berbangga jika memang benar-benar memilikinya, tetapi dengan mempersembahkannya kepada"Nya". Dan satu lagi, harta dan kecerdasan bukanlah tujuan, tetapi itu hanya penunjang untuk jalan menuju kepadaNya.

Sriguru,
Hari
---o0o---

Ganda Kusuma:

Salam Kasih,

Renungan ini mengingatkan peraturan di kantor saya, bahwa setiap orang diharapkan tidak mencantumkan gelar akademisnya di surat dinas untuk urusan internal maupun eksternal, padahal banyak juga yang S2, ini untuk menghindari kebanggaan akan kecerdasan yang menjadikan orang tidak mau kerja atau malah tidak bisa kerja.. Karena menurut Guru, kerja/kecerdasan adalah dipersembahan untuk Tuhan dan bukan untuk atasan, dan kerja bukan berdasarkan kebanggan kecerdasan...
Ini sama juga dengan Orang berharta "lebih" yang bangga dengan kekayaannya, tetapi miskin dalam memanfaatkan kekayaannya, dalam arti tidak mempersembahkan kepada Tuhan dan kurang sosial, maka sebenarnya miskinlah orang itu..

Sriguru,
Ganda Kusuma











Godaan Spiritual (bag-1)
Peliharalah Badan Kita
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (3)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (2)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (1)
Tak Ada Yang Gagal
Tabloid Suluh Meditasi Edisi Nopember 2011
Kenapa Medang?
Dalam Baju Spiritual
Legenda Cinta Radha Krishna
Geliat Pembangunan Aula/wantilan Di Parama Dhama Denpasar
Bersama Guru Dalam Setiap Langkah
Menolak Kesempatan Emas (bagian 2)
Menolak Kesempatan Emas (bagian 1)
Teknik Menerima Berkah (bagian 2)
Teknik Menerima Berkah (bagian 1)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.2)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.1)
Sembah Sujud
Kucing Putih Di Parama Dhama

Gerakan Suryanamaskar