Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Donasi
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
Cd/vcd/dvd
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
SALAH, JIKA KAU MENGANGGAP ORANG MENCAKUPKAN TANGAN BERARTI MENYEMBAH DIRIMU
Posted by Tamtam Setiawan on 2010-06-06
[ print artikel ini | beritahu teman ]

Salam kasih,

Sebagai penutup pembahasan, berikut Kumpulan tulisan teman-teman terhadap
Renungan 108:

"Salah ..., jika kau menganggap orang mencakupkan tangan berarti menyembah
dirimu." (Darmayasa)

---o0o---

Suryantha:
salam kasih.


"Anggapan" selalu muncul dari keragu-raguan, keraguan muncul dari kebodohan,
ciri seseorang yang memiliki kesadaran badan yang kuat, yang mengira dirinya
adalah badan, orang seperti itu tidak mengenal dirinya dengan sungguh-sungguh,
ketika kesombongan muncul dia merasa itulah dirinya sesungguhnya, dijaganya
keadaan itu dengan segala jenis anggapan-anggapan yang membuatnya sangat
berbahagia, dan menjadi 'Lupa' (belum sadar) bahwa masih ada kebahagiaan yang
lebih tinggi lagi.

Om sri sri Guru...
Suryantha
---o0o---

Noni:
Salam kasih,

Sesungguhnya siapakah yang disembah ketika tangan tercakupkan? AKU kata
saya, siapakah SAYA? Badan ini? Pikiran ini?
Siapakah yang berpikir?
Apakah ini aku yang sesungguhnya? Jika bukan siapa aku?

Teringat akan sebuah cerita tentang kabir. Suatu ketika kabir mengikat seekor
babi di depan beranda rumahnya, kemudian datanglah seorang pendeta yang ingin
berdiskusi tentang filsafat, melihat ada babi di depan rumahnya, orang itu
menghardik kabir, "kabir, anda bukanlah orang suci, kenapa anda mengikat babi
yang begitu kotor di depan rumah anda? Binatang yang demikian kotor tidaklah
layak dekat-dekat dengan orang yang berjalan dalam jalan kesucian".

Kemudian kabir menjawab "Wahai pendeta yang bijak, anda ini kenapa memarahi
saya? saya menaruh babi yang kotor itu di luar rumah saya, sedangkan anda
menaruh babi yang kotor itu dalam pikiran anda".

Jika pikiran kita masih penuh dengan noda, apa yang dilakuakn orang lain
pada kita akan menyinggung EGO kita, cakupan tangan yang ditujukan pada
"KITA" kita tangkap pada "kita" yang lain. Namun jelas renungan ini adalah
renungan yang sangat berat untuk saya pahami dengan baik. Semoga apa yang
saya tulis mendekati apa yang dimaksud dalam renungan ini

Sriguru
denoni
---o0o---

Sanisca:
Salam kasih,

Ego saya sering melambung begitu orang lain mencakupkan tangan !
Kesombongan saya pun membumbung tinggi ! Lihat, orang lain pun menghormat
pada saya !

Karena tertutup oleh kesombongan dan ego, maka saya tidak dapat melihat
alasan orang tersebut mencakupkan tangan pada saya. Ada banyak alasan orang
tersebut mencangkupkan tangan. Misalkan karena cinta kasih,..atau karena kasihan
! Ya, kasihan melihat orang yang gila hormat tidak mendapatkan
penghormatan cangkupan tangan.

Kembali ke persoalan mencangkupkan tangan,... ego dan kesombongan telah
membutakan saya akan alasan mengapa saya mendapatkan cangkupan tangan.
Ada suatu kalimat bijak tentang kesombongan :
"Bila kamu sedang marah, sesungguhnya kamu sadar bahwa kamu sedang marah, Tetapi bila kamu di dalam kesombongan, kamu tidak sadar bahwa kamu sombong"

Sriguru,
Sanisca
---o0o---

Widyasthana:
Salam kasih,

Bila kita bersujud pada orang suci Hindu mereka biasanya akan mengucapkan
salah satu nama Tuhan misalnya "Narayana, Narayana...". Demikian pula ketika
saya bersujud pada seorang siswa rohani (brahmacarya) beliau juga
mengucapkan "Narayana, Narayana...". Ketika saya bersujud pada seorang
pendeta Hindu di Bali beliau mengucapkan "Sai Ram, Sai Ram..". Menurut saya,
ucapan yang mereka sampaikan itu merupakan sikap untuk menjaga kesadaran
diri bahwa orang-orang datang bersujud pada mereka bukanlah bersujud pada
badan mereka melainkan pada Roh Agung atau Tuhan yang bersemayam di dalam diri mereka. Kalau orang-orang suci melakukan itu tentu baik bagi kita untuk
mengikuti langkahnya, selalu menyadari bahwa cakupan tangan orang lain pada kita
bukan untuk diri kita tetapi untuk DIRI kita.

Sriguru,
paw
---o0o---

Adi Candra:
Salam kasih,

Mencakupkan tangan adalah salah satu cara/tradisi dalam memberi penghormatan
kepada sesama. Ada berbagai cara memberi hormat: ada hormat seperti upacara
bendera, saling membungkuk seperti orang Jepang, ada yang saling pegang bahu ala orang Indian, ada yang dengan mengangkat tangan setengah ala Arab, dan
lain-lain. Saat ini salam mencakupkan tangan juga dipakai oleh salah satu
maskapai penerbangan, yang ingin diusung menjadi model salam Indonesia.

Salam mencakupkan tangan dengan kepala sedikit membungkuk, akan kelihatan sangat INDAH. Meski tahu hal ini Indah, namun saya masih sangat sering mengabaikannya, atau kadang merasa canggung/kikuk.:( Padahal Guru dan Guruji sudah memberi contoh dengan selalu memberi salam dengan cakupan tangan di dada.

Tentulah salah jika kita merasa DISEMBAH jika ada orang yang mencakupkan tangan kepada kita. Hal itu adalah pertanda salam dan kita saling menghormati sebagai sesama mahluk Tuhan. Bahkan Guru dan Guruji pun selalu menyampaikan cakupan tangan kepada kita semua, meski harusnya kita yang terlebih dahulu
menyampaikannya. Seharusnya, murid terlebih dahulu menyampaikan salam pada
gurunya, anak muda harus lebih dahulu menyampaikan salam pada yang lebih tua,
dan seterusnya. Seperti yang ditulis teman-teman, cakupan tangan juga kita
tujukan pada Sang Atma/Roh yang ada pada sang diri mahluk hidup. Jadi kita
seharusnya tak perlu melihat apakah orang itu jahat/baik, harum/dekil,
kaya/miskin, cakupan tangan tetap harus kita sampaikan untuk Tuhan/Atman/Roh
yang ada di dalam dirinya.

Salam damai,
adi
---o0o---

Parwati Agung:
Salam Kasih,

Menyambung cerita kabir yang mengikat seekor babi di depan rumahnya......., saya
jadi teringat pertanyaan saya akan baik dan kebaikan.
ada kalanya kita di suruh jangan bergaul dengan orang yang tidak baik!
saat orang-orang puasa, yang tidak puasa 'dipaksa' tuk tidak makan di depan yang
menjalankan puasa. Orang yang vegetarian, dilarang masak masakan non vegetarian dan lain sebagainya.

Timbul pertanyaan dalam benak saya:
Kenapa kita mesti tidak boleh bergaul dengan orang yang (dinyatakan) tidak baik?
Kenapa orang vegetarian tidak boleh masak masakan non-vegi?

Dengan adanya larangan-larangan tersebut, bukankah itu berarti kita menolak
untuk memperkuat iman kita? Orang menjadi tidak baik belum tentu karena dia
bergaul dengan orang yang (dinyatakan) tidak baik.
Orang yang sedang menjalankan puasa, jika mampu mengendalikan indriyanya tidak terpancing oleh makanan yang dimakan oleh orang lain, tentu manfaatnya bagus sekali buat yang berpuasa. Seorang vegetarian jika mampu mengekang indriyanya tuk tidak tertarik pada masakan non vegetarian yang dia masak, tentu imannya akan lebih kuat lagi?

Sriguru,
Parwati
---o0o---

Atek:
Salam Kasih,

Mencakupkan tangan kepada seseorang berarti menghormati Atman (divine soul) yang ada di dalam tubuh fisik seseorang. Itu sama artinya dengan "Namaskar"

Salam,
Atek
---o0o---

Mahardika:
Salam Kasih,

Yang menjadi tantangan, walau kita sudah tahu bahwa cakupan tangan itu pengantar
salam hormat "Namaste", apakah kita sudah mampu merealisasikan dalam keseharian?

Saya selalu mencoba berpikir sederhana saja, setiap laku dan kata refleksikan
kedalam diri, sebisanya. Natural saja. Sekali-sekali terpeleset tak apa-apa,
bukan masalah besar. Sejauh refleksi diri itu terus berjalan, itu sudah lumayan.

Ada yang memberikan ajuran brillian: Supaya selalu ingat dan sujauh mana
perkembangan spiritual, maka sebaiknya buatlah buku harian bathin. Buku harian
yang mencatat pergolakan bathin yang dirasakan setiap harinya. Dengan demikian
kita akan selalu ingat pergolakan yang terjadi dan melihat perkembangan dari
ampuhnya salam "Namaste" itu.

Sriguru,
MG Mahardhika
---o0o---

Parwati Agung:
Salam kasih,

Tambahan sedikit, kalau di India bukan hanya seorang pendeta saja yang
menyampaikan salam dengan menyebut nama salah satu Tuhan, semua orang juga
demikian. Sangat bagus kalau kita bisa membiasakan diri menyebut nama salah satu
Tuhan sebagai salam kita. Ucapan serta perbuatan harusnya saling mendukung;
jangan sampai setiap hari menyebut nama Tuhan tetapi kegiatan mabuk-mabukan
tidak di tinggalkan (begitu misalnya), tentu itu tidaklah sepadan dan penyebutan
nama Tuhan tidak metaksu jadinya, bukankah begitu?

Sriguru,
Parwati
---o0o---

Noni:
Salam kasih,

Bu agung, saya akan coba sekedar berbagi, sama sekali tidak bermaksud menggarami lautan...

Untuk pertanyaan ini, Kenapa kita mesti tidak boleh bergaul dengan orang yang
(dinyatakan) tidak baik?

Jika ibu sedang sehat, bergaul dengan orang Flu tidak menjadi masalah, tapi
jika ibu sedang kurang FIT gampang sekali ibu terkena FLU.

Demikian juga kondisinya jika ibu dalam kesadaran yang belum stabil,
sangatlah gampang terimbas hal-hal tidak baik. Bersyukurnya medang
memberikan solusi dalam hal ini, yaitu meditasi mengingat angka dengan rutin,
hingga hal-hal buruk dapat di minimalisir efeknya.

Kenapa saat teman-teman puasa, kita tidak diperbolehkan makan di depan mereka?

Ini adalah hal yang wajar, jangan sampai tindakan kita mengakibatkan tapa
mereka gagal, tentu saja akan banyak perdebatan disini, tapi sebagai insan
lebih baik kita membantu "pertapaan" mereka berhasil, anggap saja kita
sedang menabung kebaikan.

Kenapa orang vegetarian tidak boleh masak masakan non-vegi?
Dalam kasus yang lebih ketat, tidak hanya masalah vege dan non vege, tapi
kondisi mental sang pemasak pun mempengaruhi makanan, energi pemasak akan
terserap ke dalam masakan. Walaupun seorang vege, namun jika memasaknya dalam kondisi "marah" efeknya pada makanan juga tidak bagus.

Namun kembali ini akan menjadi perdebatan yang sangaaaat panjang, kita harus
menghormati semua pendapat, kembali pada kondisi kita masing-masing, jika
merasa sreg lakukan, jika tidak abaikan. Asal jangan sampai menyinggung
perasaan orang lain.

Sriguru
denoni
---o0o---

Mahardika:
Salam Kasih

Menurut saya, semua larangan atau batasan-batasan tersebut jangan dibaca dengan
kacamata yang umum / sama, karena diperuntkkan bagi orang yang baru pada tahap awal dalam melakoni sadhana spiritual. Batasan-batasan itu untuk membantu yang bersangkutan dalam membangun pondasi laku spiritual. Bila sudah merasa memiliki pondasi yang kokoh, tekad kuat, tahan hujan angin gledek, maka yang bersangkutan malah memiliki kewajiban menyebarkan kasih pada siapapun tanpa pandang bulu.

Tapi jangan tanya saya, seperti apa orang pemula atau yang sudah mantap itu,
semua kembali pada refleksi diri masing-masing. Namun tetap tidak bisa jadi
pegangan yang umum, karena org dengan spiritual tinggipun masih bisa mengalami
kejatuhan dalam pendakian spiritual. Selama badan ini manusia, maka segala
kemungkinan masih bisa terjadi. Itulah kenapa dalam tradisi sangat dianjurkan
bergaul/dekat dengan orang-orang suci atau memiliki guru spiritual, bila ingin
mantap pada jalan olah bathin. Demikian juga sang lebah menyarankan untuk selalu
"ingatlah - pujilah - nyanyikanlah Nama Tuhan".

Sriguru,
MG Mahardhika
---o0o---

Dayu Sri:
Salam Kasih,

Saya agak kurang sepaham jika dikatakan kita tidak boleh bergaul dengan orang
yang kurang baik, bagaimana kita bisa menilai seseorang baik dan tidak baik
kalau kita sendiri belum tentu sangat baik? Saya teringat wejangan guru, bahwa
kita jangan melihat orang dari sisi baik dan buruk, kita tidak berkosentrasi
pada hal itu, tapi kosentrasi kita hanya pada peningkatan jumlah kebaikan.

Tentang kenapa orang vegetarian tidak boleh memasak non vegi?
Seseoreang yang mengikuti pola hidup vegetarian pastilah memiliki tujuan sendiri
dalam hidupnya sehingga rela untuk mengekang indranya untuk tidak memakan
makanan non vegi. Biasanya berhubungan dengan paham ahimsa. dalam kitab suci sdh jelas dikatakan bahwa orang disebut ahimsa adalah orang yang memakan, memasak dan membeli makanan non Hewani.

Sriguru,
Dayu
---o0o---











Godaan Spiritual (bag-1)
Peliharalah Badan Kita
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (3)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (2)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (1)
Tak Ada Yang Gagal
Tabloid Suluh Meditasi Edisi Nopember 2011
Kenapa Medang?
Dalam Baju Spiritual
Legenda Cinta Radha Krishna
Geliat Pembangunan Aula/wantilan Di Parama Dhama Denpasar
Bersama Guru Dalam Setiap Langkah
Menolak Kesempatan Emas (bagian 2)
Menolak Kesempatan Emas (bagian 1)
Teknik Menerima Berkah (bagian 2)
Teknik Menerima Berkah (bagian 1)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.2)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.1)
Sembah Sujud
Kucing Putih Di Parama Dhama

Gerakan Suryanamaskar