MENGAPA KITA MALAS BER-MEDITASI ANGKA? ( BAG. 2) Posted by Darmayasa on 2010-01-14 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman pe-meditasi Angka yang datang kepada saya. Ia menceritakan tentang bapak dari temannya yang hidup di Kota Jakarta sedang mengalami sakit yang muncul secara tiba-tiba. Ketika teman itu bertanya mengapa ia tiba-tiba sakit? maka teman itu bercerita sebelumnya ia sehat-sehat dan baik-baik saja, selalu melakukan segala aktivitas seperti anak muda sebagaimana layaknya.
Nah.... bapak itu yang dalam kesehariannya begitu lincah bagaikan anak muda, ternyata sedang menghadapi masa pensiun. Saat itu ia sedang mendapat kesempatan dari kantornya untuk melaksanakan check up kesehatan komplit. Ketika diberikan hasil medical check up yang dilakukannya, data-data menunjukkan bahwa ia menderita kolestrol, ginjal, dan lain-lain. Maka seketika itu pula tiba-tiba ia menjadi sakit dan harus dilayani oleh dua orang menantunya. Demikianlah akibat yang ditimbulkan dari sugesti negatif, akan sangat mempengaruhi kelincahan dan kesehatan seseorang.
Kita kembali pada alasan malas bermeditasi. Jadi, alasan capek dan sakit yang kita jadikan pembenaran untuk tidak bermeditasi angka ternyata tidak kuat. maka sudah seharusnya ia kita “delete” saja dari kepala serta kesadaran kita. Kecuali sakit yang memang sangat parah. Misalnya hanya dapat berbaring diatas tempat tidur dalam keadaan sakit parah. Tetapi untuk alasan inipun masih tetap ia bisa bermeditasi dalam keadaan berbaring. Jadi malas bermeditasi angka dengan alasan malas tadi sangat tidak dapat dibenarkan.
Ada lagi penyebab malas meditasi sebagai lanjutan dari capek. Yaitu kalau tidak sakit, tidak capek, tetapi lebih mengutamakan mengerjakan urusan yang lain selain meditasi angka, maka itu adalah suatu kesalahan juga. Kita telah diberikan banyak kesempatan, tetapi tidak dimanfaatkan dengan benar, melainkan menempatkan prioritas medang di bawah urusan yang lain, maka hal itu adalah suatu kebodohan yang disengaja. Karena kita menempatkan meditasi angka di barisan jauh di belakang daripada kepentingan-kepentingan duniawi. Mohon dipahami bahwa kata bodoh diatas sebagai sebuah berkah dari Guru untuk menyadarkan kesadaran kita, dan bukan sebagai sebuah cercaan atau hinaan. Tetapi kalimat bodoh dari Guru tersebut bertujuan untuk menyadarkan anak-anaknya yang sedang asyik berpesta pora duniawi. Kalau karena kalimat bodoh itu kita berontak, maka kita telah mengarah kepada kegagalan. Paling tidak kita telah gagal berdekatan dengan Guru Sejati/Tuhan YME.
Ketika kita menjadi cerdas dan terjauhkan dari kebodohan, maka kita akan menempatkan meditasi angka pada barisan terdepan, sehingga ia akan menjadi leading point bagi semua barisan aktifitas sehari-hari kita. Dan... hanya pada waktu itu sajalah ia akan berhasil membawa kita kepada kesuksesan yang benar. Karena kalau tidak, maka dalam hal meditasi angka....... kita gagal, dalam urusan dunia pun.... kita gagal.
Ketika kita telah berhasil menempatkan meditasi angka di barisan "terdepan", maka kita akan melihat bahwa meditasi angka yang kita tekuni ternyata tertinggal jauh di belakang sana. Karena kita akan menjadi sibuk pada segala macam urusan material.
Barangkali kalimat ini sedikit membingungkan, tetapi begitulah kenyataannya. Ketika meditasi angka telah berhasil ditempatkan di barisan terdepan, maka ia akan kelihatan tidak begitu serius, dan kita nampak sibuk dalam urusan duniawi. Berbeda halnya ketika kita sibuk dalam urusan duniawi tanpa menempatkan meditasi angka di barisan terdepan, maka kita akan selalu menjadi capek setiap saat. Yang menjadi persoalan sekarang adalah pengaturan waktunya saja, yang akan menentukan apakah kita berhasil menempatkan meditasi angka di barisan terdepan ataukah tidak?
Kemudian, yang diperlukan sekarang adalah membuka mata batin kita. Jangan hanya berdoa saja memohon penerangan spiritual dari Guru Sejati/Tuhan YME, tetapi harus dengan mata batin..., mata spiritual...., mata kecerdasan batin..., Hal itulah yang perlu diperhatikan.
Perlu dicatat dan dipahami dengan baik, bahwa yang dimaksudkan dengan menempatkan meditasi angka di barisan terdepan tidak berarti bahwa kita menjadi abai pada kepentingan keseharian kita, karena kita ada di dunia material ini, maka kita tetap harus mengikuti alur tatanan kehidupan material. Namun kita cukup menempatkan angka 1 pada urutan terdepan, yaitu meditasi angka 5 menit, kemudian barulah larut dalam urusan duniawi untuk memenuhi tugas-tugas sebagai seorang kepala keluarga atau ibu rumah tangga, atau pelajar dan lain sebagainya.
Semoga semua berbahagia...
(Selesai)
Sriguru,
Darmayasa
Renungan no. 160
|