MALANG, DI DALAM KEMANTAPAN SEMBAHYANG TERNYATA AKU SEMAKIN MENJAUH DARI TUHAN DAN TERLEMPAR DALAM KEHAUSAN PUJIAN-PUJIAN Posted by Tamtam Setiawan on 2009-12-21 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Setelah sekian lama dibahas di milis ini, maka tibalah saatnya untuk menutup
Renungan 101:
"Malang..., di dalam kemantapan sembahyang ternyata aku semakin menjauh dari
Tuhan dan terlempar dalam kehausan pujian-pujian." (Darmayasa)
---o0o---
Berikut pembahasan dari teman-teman di milis:
Widyasthana:
Salam Kasih,
Nah...ini dia....kena deh...
Tidak hanya saat sembahyang, saat melakukan pelayanan pun saya sangat sering
terlempar jauh dalam kehausan akan pujian....
Oh...betapa malangnya diriku...... ..
Damai,
paw
---o0o---
Mangku Danu:
Salam Kasih,
Kita punya pilihan. Kita bisa mulai membicarakan Tuhan Yang Maha Esa seolah-olah
Beliau berada "di sini" atau jauh "di sana." Dewasa ini para theologis, para
filsuf dan agamawan berbicara mengenai Tuhan Yang Maha Esa seolah-olah Beliau
berada "di luar sana." Mereka menasehati manusia untuk mencari,
memuja, mendekati dan mencapai Tuhan Yang Maha. Tetapi bila anda pergi ke
Gereja, ke Pura atau ke tempat-tempat suci lainnya untuk mencari Beliau,
sesungguhnya anda secara literer tidak berada lebih dekat denganNya daripada
anda hanya duduk di bak mandi. Sepanjang menyangkut Tuhan Yang Maha Esa pada
hakekatnya tidak ada bedanya antara mimbar dengan bak mandi. Perbedaannya hanya terletak pada keinsyafan dan kesadaran kita pada Tuhan Yang Maha Esa. Pada akhirnya di mana pun Anda dan saya duduk hanya merupakan satu realitas dan entitas yang sama.
Sriguru,
mk. Danu
---o0o---
Deloja:
Salam Kasih,
Realiatanya memang dimasyarakat umumnya seperti itu.
Karena "kemantapan" sembahyang dengan tujuan ada udang dibalik batu.
Semasih ukuran kemantapan itu fisik-lahiriah dengan atribut-atributnya maka akan
selalu seperti kucing yang berputar-putar mengelilingi ekornya yang tidak akan
mendapatkan malahan kucingnya akan pusing lalu terdampar... .
Silakan ditambahkan dan dikoreksi kembali.
Terimakasih.
Salam Cintah Kasih
Deloja
---o0o---
Atek:
Salam Kasih,
Sang EGO sangat berperan penting dalam membentuk kita jauh dari tujuan/gol.
Ego bermain sangat halus sampai-sampai kita tidak tahu kita telah dikontrol ego.
Dalam pencapaian spritual juga begitu. Ego akan mencari titik lemah (lubang)
untuk masuk ke dalam pikiran kita.
Kita juga harus menyadari bahwa kita terbentuk oleh pola-pola karma yang di
dalamnya terdapat beberapa jenis ego yang menonjol.
Beberapa orang mungkin terlahir dgn kecenderungan ingin memiliki kekuasaan,
beberapa suka dgn harta, beberapa orang lain suka dgn puji-pujian, dan
lain-lain.
Jadi, sekali terpicu oleh kelemahan pikiran, ego akan berkembang.
Ada berapa hal yang mungkin harus kita pegang untuk menghindari diri dari Ego:
1. Seperti kata Prabhu, segala sesuatu harus di konek dengan Tuhan. Kita harus
beranggapan bahwa apa yang telah kita perbuat, apa yang telah kita capai,
hanyalah pemberian dari Tuhan, dan bukan dari kehebatan/kepintaran kita.
2. Surrender dan bhakti adalah keharusan.
3. Yama dan Niyama haruslah diterapkan untuk menjaga kekuatan pikiran.
Damai,
Atek
---o0o---
|