MEDITASI ANGKA MEMBANGKITKAN KUNDALINI ? (BAGIAN 4) Posted by Darmayasa on 2009-11-06 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Demikian banyak kekuatan-kekuatan atau kemampuan siddhi/kemampuan spiritual yang dapat dimiliki oleh seorang Yogi yang telah berhasil membangkitkan kundalininya. Semua kemampuan ini, baik kemampuan spiritual kecil maupun kemampuan spiritual besar yang dimiliki oleh seorang Yogi dan dipergunakan oleh beliau-beliau sesuai dengan sifat, karakter, dan bawaan dalamnya.
Dalam segala hal, orang-orang harus berhati-hati berdekatan dengan para Yogi seperti itu. Karena kalau kita tidak dekat dengan kepasrahan dan penyerahan diri total, apalagi kita berani mengadakan penilaian serta "pengadilan" terhadap segala yang beliau-beliau lakukan, maka kita ibaratnya memasukkan tangan lembut kita pada kobaran api menyala-nyala hebat, yang dalam sekejap dapat membakar benih spiritual kita.
Seperti suatu contoh dalam kisah berikut. Pada suatu saat, seorang Raja mengajak temannya yang adalah Raja dan Ratu di negara barat. Sang Raja Benares tersebut mengajak temannya berperahu ria di sungai Gangga di Benares. Ketika mereka sedang asyik-asyiknya bercakap-cakap di atas perahu, tiba-tiba seorang Yogi telah ikut duduk di perahu mereka.
Yogi tersebut adalah guru dari Raja Benares. Tanpa basa-basi, sang Yogi meminta seluruh perhiasan Ratu dari negara barat itu. Begitu diberikan, semua perhiasan berharga yang terbuat dari bahan emas murni dan intan berlian tersebut dibuang oleh sang Yogi ke Sungai Gangga.
Melihat kejadian itu, Raja Benares dan Raja orang barat itu tidak berbuat apa-apa. Mereka tidak protes, pun permaisuri yang perhiasannya dibuang ke Sungai Gangga juga tidak menunjukkan reaksi apa-apa, karena mereka semua mengerti sedang berhadapan dengan siapa. Setelah beberapa lama sang Yogi memasukkan tangannya di dalam air Gangga sambil sedikit membungkuk di tepi perahu. Dan...... seketika itu pula seluruh perhiasan yang ditenggelamkan tadi sudah ada di tangan sang Yogi, lalu dikembalikan kepada permaisuri.
Demikianlah, kalau kita beruntung berhadapan atau berdekatan dengan orang suci atau Yogi, hendaknya kita berusaha memelihara kesadaran tenang, damai, disertai rasa sujud bhakti tanpa berusaha menafsir, curiga, atau mengadili segala tindak-tanduk sang Yogi, sebab alam beliau sangat lain, sedangkan alam kita adalah alam kolam berlumpur penuh bau.
Ada orang yang begitu bertemu orang suci langsung dapat mengambil manfaat dari pertemuan itu, walaupun ia baru bertemu hanya sekali itu saja sepanjang hidupnya. Sedangkan ada juga orang yang mendapatkan kesempatan untuk tinggal setiap saat bersama orang suci, tetapi tidak berhasil mengambil suatu keuntungan dari orang suci tersebut.
Karena apa? Karena ia terpancing untuk menilai orang suci tersebut, maka ia telah dengan tanpa sengaja melepaskan dan mengabaikan berkah yang sesungguhnya telah berada di genggaman tangannya. Ia tiada ubahnya dengan seekor kodok yang dengan sangat tekun serta dengan suara merdu menyanyi non-stop di bawah bunga lotus,
tetapi ia tidak mengerti sama sekali bagaimana caranya untuk mengambil sari-sari dari bunga lotus tersebut.
Sedangkan seekor kumbang yang datang dari jauh, akhirnya berhasil megnambil sari-sari dari bunga lotus, walaupun ia datang hanya sekejap dan bahkan mungkin hanya sekali dalam hidupnya.
Di sinilah kita harus tahu diri ketika kita berhasil mendapatkan kesempatan untuk berdekatan dengan orang suci. Ia adalah sebuah kesempatan yang merupakan hadiah dari berbagai perbuatan saleh yang kita dapatkan dari kehidupan lalu yang kita capai dengan susah payah, bahkan setelah beberapa penjelmaan, yang jangan sampai kita buang begitu saja hanya karena kita terlalu bangga pada kepandaian otak kita, yang akhirnya justru menggagalkan pencarian kita.
Jalan spiritual sungguh berbeda dengan jalan material. Sama halnya dengan arah Timur dan arah Barat yang sangat bertolak belakang. Oleh karena itulah sebaiknya kita ikuti tindakan Raja Benares, dan jauhkan diri dari penilaian yang berbahaya.
Karena kapan kita mulai menilai, maka kita telah manarik mundur langkah kaki kita jauh ke belakang, menjauh sekian step dari berkah suci. Sebaliknya Kapan kita mampu berpasrah diri pada orang Suci tanpa penilaian apapun, maka orang Suci tersebut yang melangkah maju ke arah kita sekian ribu langkah. Itulah aturan dan cara kerja dunia spiritual. Ia sangat berbeda dengan permainan logika, dan di sinilah banyak siswa spiritual mengalami kejatuhan... ya mereka jatuh di dalam berkah.
( .... Bersambung ... )
Sriguru,
Darmayasa
|