Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
Cd/vcd/dvd
Donasi
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
MENUJU TUHAN TANPA MENYIMPANG (BAGIAN 3)
Posted by Darmayasa on 2009-09-10
[ print artikel ini | beritahu teman ]

Salam Kasih,

Ketika seseorang telah berhasil menyeberangkan dirinya dari batas-batas agama organisasi, artinya agama hanya sebagai sebuah perkumpulan terbatas/tertentu, maka ia akan memasuki tingkatan spiritual di tingkat meditasi. Tetapi itu tidak berarti ia akan mengabaikan Agama, melainkan ia akan mengerti Agama sebagaimana Tuhan menurunkan Agama pada awalnya, yaitu sebagai suatu jalan suci dan indah untuk mendekatkan diri kepadaNya, dan bukan sebagai suatu alat untuk membeda-bedakan dirinya/kelompok/kepercayaannya dengan keyakinan orang lain.

Mungkin kita perlu mengetahui, mengapa diberikan istilah Agama? Yang berasal dari kata “a” dan “gama”. Gama artinya pergi..... dan kalau ditambahkan a di depannya, maka ia akan menjadi agama yang berarti dan memberi arti terbalik, yaitu “datang...”

Nah... dengan demikian, agama artinya datang ke dalam, alias pencarian sang diri sejati ke dalam dan bukan sebaliknya mencari di luar, bahkan jauh di luar sana. Itulah tujuan agama yang sebenarnya. Tetapi kita telah menjadikan agama sebagai sebuah cara atau alat untuk membeda-bedakan diri kita dengan orang lain, lalu kita kemas dia dengan berbagai kemasan menarik yang menyenangkan orang-orang dengan berbagai kepentingan duniawinya.

Nah, di sinilah peranan orang-orang atau individu tertentu, karena mereka bisa memasukkan kepentingan-kepentingan pribadinya untuk di"Agama"kan. maka jadilah pemikiran-pemikiran mereka sebagai agama, lalu membelokkan kalimat-kalimat pada kitab sucinya untuk melindungi kesenangan/keinginan duniawinya, dan bukan sebaliknya menjalankan perintah kitab suci untuk membantu dirinya menuju kepada Yang Maha Kuasa. Hal-hal seperti ini kita bisa lihat di masyarakat luas. Bagaimana adat kebiasaan masyarakat tertentu disentuhkan dengan agama, alias di-agamakan. Maka jadilah judi sebagai (bagian dari) agama.

Akhirnya...di sinilah kegagalan agama, atau lebih tepatnya kegagalan manusia di dalam menerima agama yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih, maka.... terjadilah jurang-jurang lebar pemisah antara satu hati dengan hati setiap insan lain di dunia ini. Orang-orang akhirnya menjadi terpisah lebih jauh lagi, sehingga perbedaan tersebut diterjemahkan sebagai permusuhan.

Ketika manusia tidak mengasihi manusia lain lagi, maka praktik Agama sekuat apapun tidak akan bisa berhasil mendekatkan dirinya pada Tuhan. Karena Tuhan hanya akan datang kepada mereka yang berhasil mengasihi semua insan Tuhan sebagai “Insan” Tuhan, dan bukan sebagai musuh atau yang berbeda darinya. Lebih jauh lagi, ketika seseorang telah memantapkan dirinya di dalam meditasi... sehingga mencapai tingkatan Samadhi, maka yang akan dicapainya bukan hanya cinta kasih spiritual kepada sesama saja, melainkan juga cinta kasih spiritual kepada asal muasal kita yaitu Sang Guru Sejati/Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Ketika seseorang telah mencapai tingkat kesadaran spiritual suci, maka mereka tidak akan mengadakan pendekatan kepada Tuhan demi motif-motif duniawi, sebab semasih ada motif dalam bentuk/bungkus apapun, maka pendekatan yang dilakukan kepada Tuhan adalah sebuah pendekatan yang masih belum murni alias masih menyimpang dari jalan pendekatan yang murni. Karena pendekatan diri kepada Tuhan yang murni adalah pendekatan tanpa motif apa pun di baliknya.
Bagi orang-orang yang telah berhasil di dalam jalan meditasinya, bahkan untuk mendapatkan surga atau pun pencapaian lebih tinggi dari surga... yaitu tingkat moksa...pun mereka tidak inginkan lagi. Pada level ini, ia akan menyerahkan dirinya sepenuhnya pada kehendak Tuhan. Jika Tuhan ingin dia mati, maka itulah jalan terbaik, karena mati dalam jalan dan kehendakNya. Bila Tuhan ingin kita hidup dalam jalan pelayanan kepada semua mahluk, maka itulah yang terbaik. Jadi ia tidak lagi menilai Tuhan sebagai Baik atau Jahat lagi, tetapi menerima segala yang baik atau buruk bagi pandangan dunia kita sebagai cara Tuhan untuk memberkahi dan mengasihi kita, meski dengan cara yang tidak seperti yang kita inginkan atau bayangkan.

Orang yang telah berada di level ini, mereka bersembahyang dan/atau bermeditasi hanya untuk mendekatkan diri pada Tuhan di dalam jalan cinta bhakti, alias penyerahan diri total tanpa syarat. Itulah Divine Love sejatinya. Dan hanya ketika itulah mulai terjadi perjalanan spiritual sejati di dalam lautan kebahagiaan tanpa batas. Sementara ini saya hanya mengajarkan Divine Love pada tingkat cinta kasih pada sesama, dan itu pun kita telah mengalami kesulitan untuk menghayatinya.
Tetapi kita ini adalah insan biasa, jadi kalau kita mengadakan pendekatan diri pada Tuhan, melalui sembahyang atau pun meditasi, lalu kita masih ada menyimpan motif-motif tertentu atau berbagai permintaan duniawi, maka kita tidak usah bersedih hati, apalagi mengutuk diri kita sendiri sebagai orang yang telah gagal. Namun kita tetap hendaknya berusaha mengantarkan kesadaran kita kepada kesadaran yang lebih maju....lebih maju...lebih maju..., sedikit demi sedikit sampai akhirnya kita diizinkan berada pada pintu gerbang Divine Love.

Kesimpulannya, kita harus dengan sengaja dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membawa kesadaran kita ke tingkat lebih baik, dan jangan berpuas hati hanya dengan jalan di tempat.

Lalu bagaimana caranya agar di dalam meditasi kita dapat mengatasi segala macam pikiran atau motif duniawi yang muncul? Apakah dengan menata, menolak, atau kesadaran pasif ?

Dengan tekun serta rajin bermeditasi, maka pikiran akan dibersihkan dan disucikan. Seperti yang sudah pernah dicontohkan sebagaimana kita melemparkan sebuah batu ke tengah kolam, maka riak atau gelombang yang ditimbulkan akan membawa kotoran-kotoran di tengah menuju keluar kolam. Semakin besar batu yang dilemparkan maka semakin besar kekuatan riaknya. Demikian pula ketika dalam bermeditasi kita menyentuhkan “Angka Pilihan” di kelima cakra, maka angka dengan kekuatan yang sangat powerful akan meminggirkan segala kekotoran-kekotoran yang masih menempel atau masih kita simpan dalam diri kita.
Semoga semua berbahagia.

( .... Selesai ... )

Sriguru,

Darmayasa

Renungan no 151











Godaan Spiritual (bag-1)
Peliharalah Badan Kita
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (3)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (2)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (1)
Tak Ada Yang Gagal
Tabloid Suluh Meditasi Edisi Nopember 2011
Kenapa Medang?
Dalam Baju Spiritual
Legenda Cinta Radha Krishna
Geliat Pembangunan Aula/wantilan Di Parama Dhama Denpasar
Bersama Guru Dalam Setiap Langkah
Menolak Kesempatan Emas (bagian 2)
Menolak Kesempatan Emas (bagian 1)
Teknik Menerima Berkah (bagian 2)
Teknik Menerima Berkah (bagian 1)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.2)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.1)
Sembah Sujud
Kucing Putih Di Parama Dhama

Gerakan Suryanamaskar