MENUJU TUHAN TANPA MENYIMPANG (BAGIAN 2) Posted by Darmayasa on 2009-08-28 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Kalau sebelumnya, atau saat ini kita masih berada pada tahapan bersembahyang dan bermeditasi hanya karena kita ingin terlepas dari beban kedukaan, penderitaan dan kesakitan duniawi, maka kita harus bersedia dan berusaha keras untuk meningkatkan kesadaran kita kepada tingkat yang lebih baik lagi serta merelakan kepergian kesadaran duniawi.
Nah... ketika kita memiliki keinginan untuk sedikit lebih maju dari kesadaran tadi, maka kita harus melihat apa saja yang masih menjadi kekurangan-kekurangan dari pendekatan kita pada Tuhan YME/Guru Sejati. Misalnya saja kalau kita mendekatkan diri pada Tuhan YME hanya karena kita ingin menghilangkan sakit pinggang yang sedang diderita, atau kita ingin Tuhan membantu kita mendapatkan kembali uang yang dipinjam oleh seseorang pada kita namun tidak dikembalikan setelah sekian lama melewati batas perjanjian, atau kita ingin Tuhan membantu kita dalam ujian-ujian, atau kita ingin Tuhan memenuhi keinginan kita untuk mempunyai rumah, mobil, dan berbagai macam harta-benda duniawi lainnya, maka kesadaran seperti itu adalah kesadaran yang sangat rendah. Karena kita menganggap atau menempatkan atau menyamakan Tuhan dengan tukang pijat untuk menghilangkan sakit pinggang kita, dan bisa dikatakan bahwa kita telah memerintah Tuhan bagaikan memerintah bawahan untuk memenuhi segala keinginan duniawi kita. Dengan demikian, maka artinya kita tidak mengenali Tuhan Sejatinya adalah untuk mengangkat tingkatan kesadaran duniawi/material kita saat ini, menuju kepada tingkatan indah spiritual yang kekal dan penuh kedamaian, untuk membakar habis karma-karma kita selama sekian banyak kali kelahiran di dunia ini, entah kelahiran sebagai tumbuh-tumbuhan, hewan atau badan manusia dan pada akhirnya mengantarkan pada kebahagiaan tertinggi, kebahagiaan sejati..
Pada hakekatnya itulah tujuan pentingnya kita bersembahyang dan bermeditasi, itulah arti pentingnya kita mendekatkan diri kita kepada Tuhan YME/Guru Sejati. Bukan hanya untuk sekadar menghilangkan sakit gigi atau sakit pinggang. Atau juga bukan untuk kita bisa memperkuat rasa memperbedakan diri dengan orang lain, saudara-saudara sesama kita. Tidak, kita harus memurnikan kesadaran kita ke tingkat kesadaran paling tinggi dengan sekuat daya dan kemampuan yang kita miliki. Maka dengan demikian kita akan menghargai pula tingkat kesadaran kita, bahwa kesadaran kita tidaklah kesadaran serendah itu, melainkan kita adalah orang yang diberkahi mempunyai kesadaran indah spiritual.
Biasanya pendekatan diri kepada Tuhan dibuat orang-orang atau kelompok orang yang belum mencapai kesadaran tingkat murni tersebut menjadi sedemikian rupa sehingga terasa sangat rumit dan tinggi atau sulit untuk dijalankan bahkan “impossible” untuk dicapai oleh orang-orang kebanyakan seperti kita. Misalnya dengan berbagai aturan-peraturan yang dijadikan harga mati, bahwa jika cara/tekniknya tidak sama persis seperti yang dilaksanakan secara turun-temurun, atau tidak sesuai dengan keinginan atau kecendrungan mereka, maka kita tidak akan bisa mendekatkan diri pada Tuhan.
Kebanyakan orang melakukan sembahyang/meditasi yang kemudian diakhiri dengan berbagai jenis permintaan-permintaan duniawi yang banyaknya tidak terkira, padahal sembahyang/meditasinya hanya 1 menit kurang 59,9 detik. Dan bahkan bagi sebagian orang-orang yang kesadarannya masih sangat lemah, akhirnya mereka "mengancam", bahkan memaki serta menyalahkan Tuhan jika Tuhan tidak memenuhi keinginan-keinginan duniawinya, kemudian mereka akan menghentikan aktivitas sembahyangnya, bahkan mereka akan tidak mau mengingat Tuhan lagi. Dan yang lebih mengerikan lagi adalah mereka meninggalkan jalan indah Tuhan untuk memasuki lembah perjanjian dengan mahluk-mahluk tingkat bawah yang dengan senang hati akan membantu untuk mendapatkan keinginan duniawinya, meskipun dengan resiko kelak dia akan menjadi budak mahluk-mahluk tersebut bila kelak meninggal nanti.
Itulah tingkatan sembahyang yang masih sangat rendah. Dimana setelahnya ia selalu diikuti oleh berbagai permintaan/permohonan. Lebih maju dari sembahyang, atau dengan bahasa lainnya kalau kita ingin melengkapi sembahyang kita, maka adalah merupakan kewajiban untuk menambahkan meditasi pada akhir sembahyang kita. Meditasi adalah tingkatan yang lebih maju daripada hanya sekadar sembahyang. Karena tingkatan meditasi adalah tingkat lebih khusus dan lebih mendalam dalam usaha pendekatan spiritual kita kepada Tuhan.
Pada umumnya sembahyang yang dilakukan oleh orang-orang kebanyakan, pada akhirnya ia hanya akan menjadi suatu rutinitas sebagai pelengkap keseharian belaka. Kita bisa melihat bagaimana orang-orang yang sangat rajin bersembahyang, tetapi mereka mempergunakan atau menjalankan sembahyangnya hanya sebagai sebuah kewajiban, yang kurang dan lebih tidak ada bedanya dengan kewajiban pagi ke kantor, dimana ia merupakan suatu keharusan untuk dilakukan. Kapan kita menerima sembahyang hanya sebagai sebuah keseharian atau aktivitas rutin, maka kita akan mentok di dalam kesadaran itu dan ia tidak akan berhasil memajukan spiritual kita dengan lebih baik lagi. Bahkan ketika kita tidak memajukan spiritual kita, maka pada tingkat rajin sembahyang itu bahkan akan berakibat buruk, dimana kita akan menjadi orang angkuh dan tinggi hati. Kita akan menganggap diri kita sudah berada pada tingkatan yang sangat tinggi dan suci, kemudian akan menempatkan atau menganggap orang lain atau orang yang menganut kepercayaan dan Agama lain adalah tidak lebih baik dari diri kita, bahkan menganggap orang lain yang tidak menjalankan seperti apa yang dia lakukan sebagai orang yang berada di jalan sesat. Dalam pandangannya, mereka akan melihat orang yang mempraktikkan cara lain yang berbeda dengannya tidak lagi sebagai Insan Tuhan, melainkan sebagai kelompok-kelompok yang berbeda dengan kelompoknya, dan inilah yang menyebabkan ia tidak berhasil menyeberangkan dirinya dari Agama "organisasi".
Sriguru,
Darmayasa
Renungan No. 150
|