MENUJU TUHAN TANPA MENYIMPANG (BAGIAN 1) Posted by Darmayasa on 2009-08-19 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Pada umumnya, tanpa disadari oleh yang bersangkutan…, karena “cara kerjanya” begitu halus dan tersembunyi…, kebanyakan tujuan orang-orang yang rajin bersembahyang dan bermeditasi, ternyata lebih banyak “mengganggu” Tuhan. Sembahyang dan meditasi yang mereka lakukan, karena alasan tadi, belum dapat dimasukkan sebagai suatu cara sembahyang atau meditasi.
Namun bagi seorang pe-Meditasi Angka, hendaknya kita tidak memilih jalan itu, ya… kita tidak mesti banyak mengganggu Tuhan dengan berbagai macam permintaan yang jumlahnya tidak terhingga, seperti ingin ini dan itu, kurang ini dan itu, padahal bermeditasi atau sembahyang yang dilakukannya hanya 1 menit kurang 59 detik...
Memang kebanyakan orang-orang di zaman kali ini bersembahyang atau bermeditasi hanya kalau ada yang diinginkan saja. Misalnya bersembahyang atau bermeditasi hanya kalau gajinya ingin dinaikkan perusahaannya, atau sembahyang atau meditasi kalau sedang sakit dan meminta Tuhan menyembuhkan penyakitnya. Tetapi, ada motif lain lagi yang lebih baik, yaitu bersembahyang dan bermeditasi hanya untuk memenuhi kewajiban sehari-harinya. Di level ini seseorang sudah tidak mengganggu Tuhan lagi, namun manfaat yang didapatkannya masih belum maksimal.
Seorang pe-Meditasi Angka Sejati akan memilih tekun bermeditasi dan bersembahyang hanya demi untuk mendekatkan diri pada Guru Sejati, tanpa menyimpang, artinya tanpa membelokkan tujuannya yang murni dalam usaha mendekatkan diri pada Tuhan YME untuk kepentingan-kepentingan duniawinya, atau tanpa ada perasaan terpaksa karena hanya merupakan kewajiban yang harus rutin dilakukan.
Diantara sekian banyak orang yang bersembahyang atau bermeditasi, mungkin semuanya memang sedang mendekatkan diri pada Tuhan, tetapi melakukan semua itu dengan motif yang berbeda. Dalam hal ini, kita tidak usah berkecil hati hanya karena ketika kita bersembahyang dan bermeditasi namun ternyata masih memelihara berbagai keinginan duniawi.
Memiliki keinginan duniawi seperti itu bukanlah sesuatu yang salah, mengingat saat lahir ke dunia ini kita semua berbekal berbagai jenis karma yang saling berbeda, kita semua lahir dalam suasana yang berbeda, dan juga suasana serta lingkungan yang berbeda-beda, sehingga pengaruhnya adalah pada tingkat kesadaran kita pun pasti berbeda-beda, maka wajarlah kalau dalam usaha kita mendekatkan diri pada Tuhan YME pastilah pendekatan diri tersebut disertai oleh iring-iringan berupa motif-motif yang berbeda, atau bahkan bertentangan.
Perbedaan-perbedaan motif kita dalam proses tujuan mendekatkan diri pada Tuhan tidaklah salah. Tetapi, tentu saja kita tidak boleh tetap tinggal di tingkat kesadaran yang tetap mandeg, atau bahkan pindah ke tingkat kesadaran yang lebih mundur lagi. Misalnya kita bersemangat untuk datang pada Tuhan hanya demi menghilangkan sakit pinggang, atau sakit gigi, atau sakit hati karena ditinggal pacar, atau sakit hati karena hutang tidak dibayar oleh orang lain, ingin menjadi orang yang memiliki berbagai macam kesaktian dan banyak hal-hal sejenis itu lagi. Tingkat kesadaran datang kepada Tuhan seperti itu adalah tingkat kesadaran yang terlalu rendah.
Ketika kita meneliti diri kita dengan sebuah kejujuran yang benar-benar jujur, sekali lagi kejujuran murni terhadap diri kita sendiri, maka kita akan mengakui bahwa seringkali motif kita datang pada Tuhan hanya karena kedukaan yang sedang memeluk kita dengan hangat, dan ingin cepat lepas dan pergi jauh-jauh dari dekapan kedukaan tersebut.
Karenanya kita ingin Tuhan membantu kita terlepas dari kedukaan, alias kita memerintah Tuhan untuk melayani diri kita. Juga tanpa sadar kita meminta Tuhan untuk menjadi body guard kita demi mengusir si kedukaan.
Tingkat kesadaran kita datang pada Tuhan seperti disebutkan tadi adalah tingkatan yang sangat rendah. Maksudnya, kita telah menempatkan diri kita begitu rendah untuk mengganggu Tuhan dalam urusan-urusan duniawi yang begitu remeh. Guruji pernah mengatakan bahwa, selain bermeditasi tanpa menyimpang pada Tuhan, maka segala hal-hal lain yang kita lakukan atau jalani dalam hidup ini adalah aktivitas mimpi belaka. Hanya pada saat bermeditasi sajalah kita benar-benar menjalani hidup yang nyata. Tanpa menyimpang disini berarti tidak memiliki niatan apapun untuk kepentingan diri sendiri, ataupun karena kewajiban sekedar memenuhi target bermeditasi setiap hari, seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya di atas.
Kita jangan pernah berpuas hati untuk tetap tinggal pada kesadaran rendah dan kegelapan karena ketiadaan pengetahuan suci. “Tamasah Ma.....”, Janganlah tetap tinggal di dalam kegelapan. Melainkan... “Jyotir gamaya...”, tujulah jalan terang.. jalan yang diterangi oleh sinar suci ilmu pengetahuan spiritual. Kesadaran yang indah seperti itulah hendaknya kita simpan di dalam kesadaran kita, yaitu kesadaran untuk selalu meningkatkan kesadaran kepada tingkat yang lebih suci dan spiritual.
... Bersambung ...
Sriguru,
Darmayasa
|