MENJADI PELAYAN TUHAN Posted by Made Noni on 2009-08-15 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam kasih,
Beberapa waktu yang lalu, saya dapat tengat waktu reporting sangat mepet, karena
hari kerja yang pendek akibat di potong tanggal merah dan hari sabtu-minggu.
mengingat waktu yang sangat mepet ini, saya memerintahkan staff saya untuk
lembur. namun ada satu teman yang tidak dapat ikut lembur, saya tanya alasannya
kenapa?
dia jawab "besok aku mau melakukan pelayanan De, mau pelayanan pada Tuhan"
saya ijinkan dia tidak ikut lembur, karena saya pikir kalo pun di paksa ngantor,
belum tentu dia akan konsentrasi pada kerjaan, disamping itu seseorang tidak
berhak mencampuri urusan setiap individu dengan Tuhannya.
disamping itu saya teringat dengan karya paramahamsa Yogananda, dalam bukunya
Autobiografi Yogi, dimana diceritakan dalam buku itu orang tua Paramahamsa
Yogananda yang dilarang cuti kerja untuk bertemu Gurunya, dimana kemudian
Gurunya orang Tua Pramahamsa mendatangi bossnya dalam bentuk Rohani,
saya pikir, jika saya larang kemudian tiba-tiba Tuhan mendatangi saya, apa yang
terjadi nanti, jujur saja saya belum siap saat ini bertemu Tuhan. apa yang harus
saya katakan pada Tuhan kalo saya melarang pelayannya bekerja melayani Beliau?
karena pelayannya sudah setiap hari saya ambil waktu hidupnya selama 8 jam, 40
jam seminggu. masa Tuhan minta satu hari saya tolak?
Belakangan saya sering berpikir, alangkah bahagianya staff saya itu dapat
melakukan pelayanan pada Tuhan, rasanya ingin juga seperti itu. tentu akan
banyak memupuk karma baik demi kehidupan yang lebih baik di masa yang akan
datang.
Namun terbersit dalam hati, apakah saya sudah cukup layak melakukan pelayanan
pada Tuhan? apakah qualifikasi saya akan lolos screening?
melamar kerja pada perusahaan yang bosnya adalah manusia mentah saja, saya harus melewati beberapa tahap tes, bahkan kadang menunggu pengumuman hasilnya pun harus menunggu dengan sabar, apalagi mau melamar jadi pelayan Tuhan? Tes apa yang akan diberikan Staff-nya Tuhan pada saya? demikian pikiran liar saya menimbang-nimbang.
teringat akan petuah Guru, bahwa menjadi pelayan Tuhan itu sangatlah sulit,
untuk kebanyakan orang seperti saya lebih masuk akal menjadi pelayan, pelayannya dari pelayannya pelayan-pelayan Tuhan yang paling bawah.
masuk akal buat saya, bagaimana melayani tuhan yang tidak tampak, yang
kata-katanya belum pernah saya dengar langsung, sangatlah sulit.
lebih mudah melayani Guru, pikir saya. dengan pertimbangan Guru terlihat,
katanya dapat saya dengar, mimiknya terlihat jelas. namun kembali pikiran saya
menimbang, apakah saya cukup qualified melayani Guru? apakah saya betul-betul
pantas? rasanya belum. rasanya sangat jauh dari kata pantas. jika seandainya ada
score, saya masih di level mendekati angka 1 dari 10 level. padahal yang lolos
hanya yang mempunyai minimal nilai 6, sulit sekali.
kalo begitu, lebih mudah melayani teman-teman medang, setidak-tidaknya dengan
teman medang saya dapat berbicara dengan mudah, namun apa iya melakukan
pelayanan pada pemedang itu lebih mudah? ahhh.... rasanya tidak mudah juga,
karena saya punya ego, yang sudah berkembang dari dulu agar menjadi nomer satu, setidak-tidaknya waktu sekolah saya di bentuk agar selalu dapat ranking di
kelas.
dengan demikian, menjadi pelayan pemedangpun saya tidak lolos, demikian sulitnya
menjadi pelayan, melihat hal ini saya berpikir ternyata kata pelayan itu adalah
kata yang suci, kata yang penuh dengan makna indah di dalamnya.
semoga suatu saat diijinkan, lolos dari semua tahapan ini agar dianggap cukup
layak menjadi pelayan-pelayannya pelayan Tuhan yang terendah.
Semoga suatu saat saya benar-benar mempunyai ketundukan hati, bukan menjadi
orang yang pura-pura sudah tunduk hati.
Sriguru
denoni
|