MELIRIK MENARA PENGAWAS Posted by Mg Mahardika on 2009-07-23 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Damai Yang Terlewatkan
Liburan week end kemarin, saya sekeluarga meluangkan waktu bersama ke
Pangandaran. Dari awal, tujuan week end kali ini adalah untuk memberikan waktu pada badan dan pikiran ini sejenak beristirahat dari pengaruh hiruk pikuk ibu kota. Kondisi yang ingin dicapai, seperti kita melakukan reset kembali menjadi factory default pada sebuah handphone. Dan sekeluarga juga mencoba berbagi dan menyamakan missi, yaitu "Enjoy in peace". Terutama anak2, belajar untuk tidak saling bertengkar satu sama lain (biasa anak2, nyanyian rutinnya adalah saling ganggu). Sepanjang perjalanan Jakarta - Cikampek - Bandung, semua berlalu sesuai dengan harapan, travelling in peace. Godaan mulai muncul selepas Cileunyi memasuki kawasan berkelok-kelok Nagreg. Traffic mulai tersendat, baik karena perbaikan jalan maupun karena banyak kerndaraan yg mogok dan jalan perlahan. Satu - dua kendaraan mulai menarik gas menambah panasnya suasana traffic, mulai ada yang serobot kiri dan kanan, tanpa peduli pengendara lainnya. Tanpa disadari, kaki yang menginjak gas inipun ikut bekerjasama dengan tangan, meliak-liuk kiri dan kanan, mencari celah kosong untuk dimasuki. Hanya untuk mengejar percepatan selisih waktu yang tidak lebih dari 5 menit. Ketenangan mulai terusik oleh ketegangan demi ketegangan dari liukan jalan yang dilalui. Ah... ini lebih mirip suasana jalanan di Jakarta, daripada suasana pedesaan. Hanyut dalam arus kendaraan yang tanpa aturan, membuat kita terlena dan terseret oleh ketegangan jalan raya. Tanpa ada yang ingat dan mengingatkan, semuanya berzig-zag ria seperti mengejar bayangannya masing-masing. Lupa dengan missi, lupa dengan komitmen. Kedamaian berubah definisi menjadi "Terasa" damai dalam ketegangan itu sendiri. Kedamaian yang sudah terbungkus oleh keinginan dan ego untuk lebih cepat dari yang lainnya. Padahal... pepatah mengatakan "Tak kan lari Pangandaran dikejar". Dia akan tetap ditempatnya semula. Dan ternyata, semua kesenangan dan ego itu hampir tidak ada artinya dalam melawan "waktu" tempuh, karena tetap saja waktu tempuh ke Pangandaran berkisar pada 9 jam berjalan. Yang ada adalah seluruh badan terasa tegang - letih - otot kaku - perut mual dikocok jalanan. Semua perjalanan ini seperti sebuah siksaan selama 9 jam, terasa seperti 9 hari. Semua itu membuat kami lupa akan tujuan kedamaian yang semula disepakati. Terlewatkan dalam menikmati keceriaan beberapa anak-anak di kampung yang sedang bermain layangan, terlewatkan beberapa pekerja yang dengan peluh keringat memperbaiki jalanan, demi kelancaran lalu lintas. Merekalah yang menikmati "rasa" damai itu. Merekalah yang menikmati waktu tahap demi tahap tanpa dibungkus oleh keinginan yang berlebihan. Saya hanya menikmati ketegangan dan otot kaku.... cape de.
Menara Pengawas Pantai
Bersua dengan pantai Pangandaran, suasana demikian riuh oleh kepadatan pengunjung. Bila kita berenang, maka jarak antar orang hampir hanya menyisakan 1 meter ruang kosong, itupun tidak jarang terjadi saling bersinggungan satu sama lain. Namun namanya anak-anak, keceriaan tetaplah keceriaan. Semua hiruk pikuk itu tidak melunturkan keceriaan mereka berkecimpung dan berenang menantang buih ombak. Entah bagaimana mereka bermain-main, semuanya lepas dari pengamatan karena kita sendiri sibuk mencari sesuatu yang unik. Menit demi menit berlalu, waktu mulai beranjak ke siang hari, panas matahari mulai terasa menggigit pori-pori kulit kepala. Memandang pantai, yang terlihat hanya kerumunan pengunjung, sangat sulit menandakan satu titik untuk mencari anak2. Semua orang pakai baju, semua orang punya kepala hitam. Tidak ada tanda khusus yang menandakan keberadaan anak kami. Saya mulai mencari, menelusuri pantai dari ujung ke ujung, tidak juga ketemu. Rasa panik mulai terbersit, terpaksa memakai jasa menara pengawas untuk memanggil mereka. Sambil terpaksa harus terjun menerjang ombak, menyusuri ombak dari ujung ke ujung. Meneliti sekian banyak badan dan kepala yang tersembul diatas air laut. Satu kali menyisir, belum juga ketemu, dua kali menyisir, akhirnya pada sisiran ke tiga, terlihat mereka sudah sangat jauh dari tempat pertama kali mereka berenang, tempat saya menunggu. Rupanya dalam keceriaan mereka, bersama-sama dengan keceriaan dan tawa dari pengunjung lainnya, mereka tanpa sadar mengikuti arus gelombang ombak yang semakin menjauh menuju ujung pantai. Anak-anak terlalu terlelap dengan keceriaan berenang dan dalam kurungan keceriaan pengunjung lainnya. Mereka larut didalamnya. Pada saat itu, saya mulai sadar diri, lupa mengingatkan pada satu hal yang bisa dijadikan rujukan bila kita berenang, yaitu keberadaan Menara Pengawas, atau tonggak apapun yang ada di pantai yang bisa kita lihat dengan leluasa dari arah tengah laut. Demikian jauh mereka terlelap oleh kenikmatan berenang dan bermain, mereka lupa sesekali untuk menoleh keberadaan Menara Pengawas, sehingga mereka semakin jauh terseret oleh arus laut. Setelah kejadian itu, saya mulai mengingatkan berulang-ulang kepada mereka untuk selalu melirik menara pengawas, untuk selalu berenang pada arah yang lurus dengan menara tsb. Menara itu bisa menjadi rujukan yang sangat mudah untuk menandakan keberadaan dan jalan mereka dalam berenang. Itulah anak-anak, itulah orang tua dan itulah fungsi Menara Pengawas.
Nah.. itu sekelumit cerita perjalanan saya, silahkan denoni menambahkan
dengan rujukan renungan refleksi thd Meditasi Angka, ini denoni ahlinya.
Bisa apa tidak, jeg paksakan saja. Semoga bermanfaat.
Sriguru, mgm
|