PERJALANAN JAKARTA - DENPASAR DENGAN PRABHU DARMAYASA Posted by Dendi Septiadi on 2009-07-29 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam kasih.
Saat dengar informasi Perabu akan ke Bali dengan bawa mobil, saya langsung tanya
kapan perginya..menurut beliau kemungkinan besar pergi nya hari jumat pagi atau
kira2 siang, tapi pastinya beliau pun belum bisa memsatikan..
Saya langsung terdiam. Stelah baru saja ambil cuti minggu lalu selama 2 minggu,
gak mungkin minta cuti pada hari jumat nya..
Hati gelisah ingin mengutarakan keinginan untuk ikut, tapi gak berani mulut gak
berani ngomong. Karna pasti Perabu punya perhitungan dan hitunga2an yg menjadi
alasan keputusan beliau..
Tiba2 saja mulut saya berucap diluar perhitungan hati saya..
"..Kalau bisa berangkat jumat malam, saya pingin sekali ikut, Perabu...kata saya
sambil deg-deg-an...
" Kalau jumat malam kecil kemungkinan nya.." Kata Perabu...
Sedikit sedih, tapi saya gak bisa ngomong apa2, takut merusak rencana yg sudah
Perabu susun. Kita juga sering tahu, bahwa susunan-nya juga bukan Perabu yg
mengatur..jadi yaahhh...sedih gak sedih deh..!
Bu.Ni Luh dan Pak.Sutisna kebetulan ada bersama saya saat itu juga turut
menyaran kan berangkat malam, untuk menghidari papasan dengan bus2 malam yg
jalan ngebut-ngebut...
Hari kamis tgl.23/07/09, malam. Saya baru pulang kerja, langsung kirim sms ke
Perabu menanyakan posisi sedang di mana karena saya akan membawa beberapa
titipan dari istri untuk persembahan ke Dhuna Guru. Sambil nuggu jawaban sms
dari Perabu, saya siap2 mandi dan bersih2.. Kebetulan waktu itu juga anak saya
minta diantar ke warnet karena ada tugas sekolah yg harus di print..
Selesai mandi karena blom ada jawaban dari Perabu, saya pikir saya antar anak
dulu deh, nge-print khan gak akan makan waktu lama, pikir saya, namun pada saat
yg bersama-an ada nada SMS dari HP saya..ternyata jawaban dari Perabu bahwa
beliau ada di Slipi..Karena anak saya sudah menunggu di halaman, istri bilang,
biar dia yg jawab SMS Perabu dan dia minta saya segera pergi ke warnet dgn
menemani anak saya.
Dari warnet, sekalian juga ke Indomaret sih, karena berdekatan, ada beberapa
belanjaan titipan istri, saya buru2 pulang dan dapat info dari istri kalau malam
ini saya gak usah buru-buru ke Slipi, besok pagi saja barang titipan nya di
kirim ke Slipi, karena Perabu akan berangkat nya jumat malam...
Jumat malam...tiba-tiba...dooorrrr....gue bisa ikut..gw bisa ikut...teriak saya
dalam hati.. Kali ini saya tidak tanya istri akan setuju atau tidak, tapi langsung bilang
kepadanya bahwa saya akan ikut Perabu ke center naik mobil....Istri saya diam
saja..Baru belakang hari, saya tahu ternyata dia juga ngiri ingin ikut...he-he.
Tidak lama HP saya berdering lagi, saya lihat kali ini dari Madenoni, menanyakan
saya ada dimana. Karena hati saya sedang riang gumbira, timbul keinginan
mengganggu Madenoni, saya bilang kalau saya sedang ada di kamar nya
Perabu..He-he, ternyata dia yg ada di kamar Perabu malah Madenoni..Jadilah malam
itu Maenoni dan istri juga nodong Perabu minta di ajak...Behhh...Perabu hanya
minta kalau masalah pulang sudah bisa diatasi, baru beliau akan mengijinkan kami
ikut. Perabu khawatir dengan masalah pulang, karena hari senin-nya saya harus
kerja sedakan Madenoni dan istri kebetulan bisa mendapat kan ijin dari kantor
masing2....
Maka jadilah hari jumat malam, kami bertiga menjegat kendara-an Perabu di pintu
tol jati bening kira2 pukul 21.30 karena kami dapat info Perabu meluncur dari
Slipi sekitar pukul.21.00 WIB..
Kira-kira pukul 10.15 WIB, Perabu bersama seorang rekan lain merapat di pintu
tol Jati Bening. Setelah memasukan barang-barang , lalu kami pun meluncur ke
arah barat pulau Jawa. Mengutip judul lukisan Basuki Abdulah : A start of along
journey..dari Jakarta ke Center Padanggalak, Bali..
Selepas Bekasi, ada bunyi nguing-nguing di belakang kami. Ternyata ada mobil
jenasah, Perabu menepi sesaat untuk memberikan jalan bagi mobil jenasah tsb yg
kemudian meluncur melewati kami dengan cepat dan segera menghilang di kepadatan lalu lintas tol Jakarta - Cikampek..[Cikampok, demikian pelesetan Perabu untuk membaca nama Cikampek di papan penunjuk jalan]..
" ..Setiap hari, kita melihat orang meninggal, tapi kejadian itu jarang membuat
ada orang yg berpikir dengan sungguh-sungguh bahwa diri kita juga PASTI akan
meninggal...Jika hal yg SUDAH PASTI ini di pikirkan dengan serius, mestinya akan
banyak orang yg mencari bekal untuk persiapan waktu masing-masing..."
Selepas Bekasi, di depan kami jalan masih panjang menghitam - secara nya aspal
geto lohhh - hingga kami sampai di daerah Kerawang. Perabu menanyakan jika kami
ada menyimpan tlp rekans dari Kerawang..Lalu Perabu pun menyempatkan untuk
kontak dengan Pak.Goestack. Just say Hello saja sambil memberitahukan bahwa saat itu kami sedang melintas Kerawang. Sementara Perabu ngobrol sesaat dengan
Pak.Goeastack, pikiran saya juga sesaat menerawang, sudah berapa lama ya tidak
ada kontak dengan pemedang Kerawang, kapan ya ada saat indah bisa meditasi
bersama lagi dengan mereka..[di tunggu beritanya, ya pak.Goestack..he-he..]
Selepas tol Jakarta - Cikampek, kami hanya sempatkan berhenti untuk berhenti
mengisi bensin, lalu perjalanan berlanjut menembus kepekatan malam [ gak
sepanjang jalan ada lampu jalan nya chooyyy, payah Indonesia,jalanan aja gelap,
untung saya tinggal di Jakarta..]
Beberapa mobil sempat beriringan dengan kami, tapi karena di belakang kemudi
mobil kami ada pengemudi yg ahli, jarang ada mobil yg bisa bertahan beriringan
dengan kami untuk waktu yg cukup lama...[ kalau ada Made Dewi, yakin deh dia gak
bakal berani duduk di depan..huehehe..].. tadi nnya saya pikir bisa bergantian
menyetir, tapi melihat kecakapan perabu menyetir, hati saya jadi ciut alias
minder, habis lincah bangeth Perabu membawa mobil menembus gelap nnya jalan
route utara jawa..
Akhir nya saya cuman berani ambil bagian jadi co-driver nya aja. Kerja-an nya
agak gampang, cuman tinggal kasih tahu apakah lajur kiri kosong atau
tidak..Kalau kosong, saya tinggal bilang masuk..kalau tidak, saya tinggal bilang
jangan..Yang berat cuman melawan kantuk..Sementara di jok belakang hanya
terdengar sayup suara nafas yg teratur dan berirama. Bukan, bukan dengkur
kok..cuman bunyi nafas yg teratur saja...tapi duh kok suara nafasnya itu begitu
memanggil-manggil mata saya untuk ikut merem..Rasanya saya juga sempat
tidur-bangun-tidur bangun gitu deh...Habis seharian kerja, ya jamak ya kalau
capek dan tidak bisa terus terjaga..he-he [mencari pembenaran nih..hehe]
Menjelang dini hari, mata sipit saya cuman bisa terbuka setengah saja tapi kalau
saya melirik, maka yang saya lihat adalah sosok muka Perabu yang serius, tenang
dan rilek aja..Kadang sesaat beliau menyederkan badan nya di pintu, nyetir agak
sedikit miring [kayak gaya supir mikrolet..he-he] tapi hanya sesaat saja.
Selebih nya beliau duduk tenang di senderan bangku nya. Gak keliatan lelah atau
apa gitu lohh..[bagi2 kek energy nya, biar perjuangan saya melawan kantuk gak
segini parah..hehe]
Kami sempatkan istirahat sebentar di kawasan Alas Roban, Jawa Tengah. Saat itu
pagi sekitar pukul 05.00..
Setelah istirahat sejenak, kami lalu meluncur lagi, tapi tak lama karena
kemudian mobil melambat dan berhenti di pinggir jalan. Di suatu tempat, saya
menyebutnya, lapak, tempat orang menggelar dagangan, tempat nya berupa saung
sederhana tanpa dinding. Hanya tebing di belakang yg di jadikan dinding warung
tsb. Di tempat itu Perabu memnggirkan mobil nya..
" Kurang lebih 30 thn lalu, dalam perjalanan dari JKT ke DPS saya sempat
beristirahat di sini.."
Sambil keluar dari mobil dengan peralatan mandii. Oohh.ternyata beliau cuman mau
gosok gigi saja..
" Waktu di tempat istirahat tadi saya tak sempat sikat gigi karena air di bak
kamar mandinya tidak mengalir. Ini pelajaran untuk pemeditasi angka. Belum di
bilang bersih jika tidak bersih2 dengan air bersih [ mengalir dari kran atau
sejenisnya..kira2 gitu..]. Perabu gosok gigi dengan air aqua..Madenoni nakal,
dia sempat motret Perabu yg sedang jongkok gosok gigi..Ada tambahan pelajaran
lagi nih, ujar saya dalam hati sambil senyum2..
Madenoni nakal, dia sempat motret Perabu yg sedang jongkok gosok gigi..
" Ayo siapkan diri, jangan ngantuk, mumpung pagi, ingat angka pilihan..." Lalu
kami pun mulai ber-japa dalam hati..tapi saya gak bisa lama2, takut ketiduran..!
Mobilpun meluncur kembali degan tujuan di depan kami kota Semarang dan kembali
co-driver mulai ngintip2 rambu penunjuk arah jalan ke kota SMG..
Mata saya mulai terasa sedikit panas dan tidak tahan silaunya matahari pagi
karena tidak tidur semalaman..
Perut sih tidak lapar2 bangeth, cuamn saya teringat aja dengan bekal dari
ibu.Rai dan pisang bakar dari istri saya. Kapan ya bekal nya bisa di buka..
" Sudah lapar, Ki.Dendi.." Tanya Perabu bikin saya kaget..lho kok..?
" Lapar sedikit tapi tidak mengganggu kok, Perabu..kata saya
malu..badaaaahhhhhh..mendingan terus terang deh..!
Untuk menghemat waktu tempuh, rasanya walau Perabu tidak ngomong, tapi kami
semua setuju untuk tidak berhenti untuk sarapan. Sarapan kami adalah cemilan dan
bekal yg di buat oleh Ibu.Rai..Lumayan waktu tempuh jadi gak nambah lama karena
sarapan pagi nya sambil ngemil makanan2 kecil saja di dalam mobil yg terus
melaju dengan cepat.
Sampai di Daerah Demak,kami kena macet yang lumayan lama. Kemacetan nya karena ada perbaikan jalan..Tadinya saya bisa berharap sampai SBY sekitar jam 12.00 atau Jam.13.00 WIB, ternyata baru sampai di Tuban saja sudah pukul.15.30..
Akhirnya kami putuskan makan siang di daerah Tuban..Mobil berhenti..wuehhh..makan nih makan..Semula rencana nya kami ingin mampir untuk
makan siang di rumah pak.Ganda di SBY, tapi karena waktu tidak mengijinkan lagi,
rencana kami terpaksa kami batalkan. Padahal Madenoni sudah ngontak2 Saniscara
buat minta no HP nya pak.Ganda.
Jadilah saya gak ada kesempatan buat kenalan dengan pak.Ganda dan temans lain di SBY..
Demikian di Kerawang, demikian juga di SBY, Perabu tetap menyempatkan untuk
menilpun pak.Ganda, sekedar menyampaikan salam dan niat yang batal karena waktu yang tidak mengizinkan lagi. Saat melintas di Tuban kami tergoda oleh pemandangan alam pantai yg indah, kami sempat berhenti untuk foto2 sejenak. Benar2 sejenak karena kami kemudian bergegas masuk mobil lagi..Melihat pemandangan ini, dalam hati saya berkata jika ada rejeki ingin mengajak anak2 melewati jalan2 dengan pemandangan alam yang indah ini..
Menjelang pukul.17.00 kami sudah berada dalam jalan tol SBY..[saya juga tidak
ingat, dimana pintu tol-nya, karena nampaknya saya ketiduran..he-he]. Saya
kembali sibuk mencari petunjuk arah yang menuju ke kota Malang. Namun karena ada kelokan yg tidak terduga, kami salah ambil arah sehingga bukan jalan tol yg
menuju ke Malang yg kami arah, tapi jalan tol yg kearah dalam kota SBY yang kami
ambil. Waalahhh...macet lagi dimana-dimana, terutama jalan menuju kearah
Sidoarjo. Setelah beberapa kali tanya2 dan menghabiskan waktu kurang lebih satu
jam di SBY akhirnya kami bisa meluncur mengambil arah jalan ke Malang, tapi
jalan lancar ini tidak berlangsung lama, karena beberapa saat kemudian kami
kembali terhadang oleh kemacetan. Kali ini di Porong, Sidoarjo saat melewati
lumpur Lampindo, rasanya sih kurang lebih 2 jam kami baru bisa lepas dari
Porong.
Hari sudah menjelang mahgrib saat kami lepas menuju Situbondo, kepala sudah
cenut2 karena capek dan kurang tidur. Makin lama, cenut-cenut nya makin
mengganggu dan behh.lumayan sakit..Tapi syukur lah Perabu menepikan mobil dan
berhenti.
"..Kita cari minuman hangat dulu yah di warung2 pinggir jalan itu.." Menunjuk
deretan warung2 di sebrang jalan..
Saya langsung cari jamu tolak angin, sementara Yeni dan Madenoni pesan kopi dan
sedikit kueh jajanan.. Tak lama Perabu bergabung dengan kami untuk ngopi..Saya
tidak percaya jamu tolak angin bisa bereaksi demikian cepat, tapi sewaktu
ngobrol2 dengan Perabu, Yeni dan Madenoni, saya sadar sakit kepala perlahan
berkurang,berkurang dan berkurang.
Waktu kami semua masuk ke mobil lagi untuk meneruskan perjalanan, sakit kepala
saya sudah hilang sama sekali...Akhh...Perabu, tidak ada satu pun yg
memperhatikan kondisi Perabu, yang pasti sudah kelelahan setelah mengemudi
hampir 24 jam nonstop, malah sekarang kepala saya di buat hilang...!!..eh..maaf,
maksud saya, sakit kepala saya di buat hilang...!
Setelah istirahat sejenak untuk menghilangkan sakit kepala, Terios pun kembali
meluncur.
Di depan kami, sebuah bus dengan asap hitam dan suara menderum nya nampak merayap searah dengan jalan yang kami tuju. Perabu memutuskan untuk menahan laju Terios agar pandangan tidak terganggu..
" Lebih baik kita tahan dulu agar kita tidak terganggu oleh bus yang di depan
itu atau kalau mau kita juga bisa cepat2 salip bus di depan dan lari
sejauh-jauh nya meninggalkan bus tsb agar terhindar dari gangguan......"
" Demikian juga...coba sambil di rekam ya.." sambil Perabu mengambil recorder
dari saku nya dan di berikan ke Madenoni untuk di siapkan..Recorder pun segera
siap saya pegang dan saya sorongkan ke depan wajah Perabu..
" Demkian juga dengan kita para pemeditasi angka. Sebaiknya kita menarik diri
dari pergaulan dunia jika hal tersebut malah mengganggu tujuan dari perjalanan
spiritual kita. Kita tidak bisa meminta bus di depan kita untuk menyingkir agar
jalan kita bisa lapang, demikian juga kita tidak bisa meminta masyarakat untuk
menepi dari kehidupan kita. Dari pada kita jadi menyimpang jauh dari tujuan
kita, lebih baik kita lah yang membatasi diri atau malah menyingkir sama sekali
dari hiruk pikuk dunia...Khan lebih mudah menepikan diri sendiri dari pada
meminta masyarakat untuk menepikan diri mereka..
Menepikan diri kita berarti kita membiarkan diri kita selalu tertuju pada
tujuan..
[ Wejangan ini lebih lengkapnya akan diuraikan dalam artikel khusus
renungan...yang syabar yaaaa....]..
Perabu sudah selesai dengan nya, namun di telinga saya masih terngiang kalimat
wejangan dari Perabu : "..Menepikan diri kita berarti membiarkan diri kita
selalu tertuju pada tujuan..".
Kalimat ini membuat pikiran saya menerawang pada kejadian beberapa tahun lalu di
Bandara Changi, Spore..Sebenar nya kejadian ini tak perņah saya lupakan, saya
hanya tidak pernah mengingat-ngingatnya lagi saja.. Kejadian-nya ádalah
pertemuan saya dengan seorang - nampaknya - seorang Pendeta Budhis. Mungkin
kami sedang sama-sama transit.
Pada televisi di ruang tunggu, saat itu sedang di tayangkan acara seperti
sinetron dengan menampilkan wajah artis dan aktor yg cantik dan ganteng..
" Mereka bisa kita jadikan guru..katanya sambil matanya tetap memandang ke arah
televisi.." Saya menoleh dan mulai memperhatikan dia. Se-seorang dengan kelapa
botak, separuh baya duduk selonjoran di lantai berkarpet di samping saya. Saya
memang duduk di lantai setelah pegal duduk berjam-jam di bangku ruang tunggu.
Lumayan, walau duduk di lantai tapi jadi bisa selonjoran. Saya sendiri tidak
begitu memperhatikan kapan dia mulai duduk di samping saya..
Eh..tunggu dulu rasa gak ada relevansinya kalau saya bercerita soal yang ini,
tapi saya janji bakal meneruskan cerita ini jika temans tidak bosan..
Kita teruskan lagi cerita perjalanan JKT-DPS-nya ya...
Perabu meminta kita makan malam di Pasir Putih, sambil mengingat ke 30 tahun
tahun berselang dimana Perabu pernah beristirahat makan di tempat ini..Sementara
kami sibuk memesan makan [ gaya nya sibuk pesan makan, padahal cuman pesan nasi putih dan sambal serta sayuran..he-he] pada tengah malam begini, Perabu masih sibuk terus bertelpun ria..
Kami juga tidak lama di Pasir Putih, agar tidak lebih lama lagi di perjalanan,
kami pun segera melaju lagi.
"..Coba tebak, berapa tagihan makan kita tadi.." kata Yeni...Jelas diantara kami
tidak ada yang tahu karena Yeni hanya sendirian di kasir waktu bayar bon makan
kami. Jadi kami hanya memandang dan menunggu dia menyelesaikan tebak kan nya
sendiri...
" Rp.55.555, 00 tapi karena tidak ada pecahan Rp.5.00 jadi hanya di bayar
Rp.55.550,00. Kebetulan saya ada pecahan Rp.50,00..."
Beberapa menit sebelum kami memasuki restauran tadi, di jalan Perabu sempat
nyanyi lagu yang jadi favorit kami selama perjalanan. Lagu2 India tempo dulu,
tapi kata2 di rubah jadi : 55555-55555-55555..dst. Mulanya hanya Perabu
sendirian yg nyanyi, lalu kami mulai ikut-ikut..Akhir nya Terios penuh dengan
suara nyanyian kami.
5555-5555-5555-55555...dst...dst..gak lama sih, karena mobil kemudian masuk
halam Pasiir Putih tadi itu...
Pada jalur Situbondo - Ketapang saya lebih banyak
tidur-bangun-tidur-bangun..Badan sudah letih tapi malu kalau tidur dan meninggal
kan Perabu nyetir sendirian sehingga jadi-nya ya gitu deh
tidur-bangun-tidur-bangun gak karu-karuan..he-he ..Sampai tiba-tiba saya merasa
ada ketukan di kaca jendela mobil. Nampak dalam temarang dinihari ada orang2 di
luar seperti mengatakan sesuatu. Tapi karena saya baru terjaga, saya masih
bingung..
"..Eh ada apa nih.." Kata saya dalam hati...
Setelah di luar mobil baru saya sadar, rupanya ada pemeriksa-an dari
kepolisian...Setelah sadar, saya lihat di depan juga ada beberapa mobil yang di
setop..Pemeriksa-an tidak berlangsung lama.. duh rupanya saya tertidur..dasar
kebluk, rupanya saya kembali tertidur, karena saat saya sadar, nampak Madenoni
sedang mau membayar kapal fery.
Whuaaa...udah sampe....!
Nah sekarang sudah di dalam fery, saya pikir ini saat nya saya tidur dengan
tenang...
Badah..ternyata di dalam fery malah gak bisa tidur.....!
Entah kenapa tiba2 mata saya tertuju pada seseorang lelaki yg sedang berdiri
tidak jauh dari kami..karena tidak ada yg aneh, jadi saya gak terlalu
menghiraukan orang tsb..saya naik ke atas mencari tempat duduk..
Setengah jam kemudian kami sampai di pulau seberang dan begitu lepas dari pintu
parkir pelabuhan Gilimanuk, tiba belakang mobil kami di pukul2 orang. Nampak
oleh saya seorang polisi meminta kami berhenti.
Ternyata pemeriksa-an polisi lagi. Tapi kok polisi nya sendirian ya..Saya ikut
turun waktu polisi itu memeriksa barang2 bawa-an kami...Tampaknya seperti
pemeriksa-an yang basa-basi..saya bingung juga melihat gaya polisi ini..Tak lama
dia pun mengijinkan pergi. Tak jauh dari situ, saya melihat orang yang tadi saya
lihat di kapal fery, sedang berdiri di dekat tempat kami tadi di stop oleh
polisi..Ngapain ya tuh orang ..??
Akhir, kami semua tiba selamat di Bali, walau pun masih ada beberapa jam lagi
untuk sampai ke Tambana, tapi saya bersyukur, setidak nya ban mobil kami
menggelinding di atas jalan aspal di Pulau Bali, boleh di bilang kami sudah
sampai..Saat itu waktu di jam tangan saya menunjukan pukul.02. Kalau gak salah,
he-he..Maaf, saya lupa persisnya jam berapa...
Akhirnya setelah Perabu nyetir selama 28 Jam non stop, kami berhasil mendarat di
rumah Perabu di Tabanan dengan selamat...Jam saat itu sudah menunjukan kurang
lebih pukul.4.00 dini hari...
Kami pun semua langsung istirahat...Akhhh....nikmat nya bisa tidur selonjoran...
Pak.Dharma, jadi tidak ada yg gantian nih, pak. Pilot nya tetep Perabu seorang
dari berangkat hingga sampai..
Waktu di Bali Perabu, saat kami melintas di suatu tempat beliau sempat
menunjukan suatu daerah kepada kami..
"..Kalau kita belok ke arah sana, di sebelah sana tempat tinggal pak.Dharma.."
Kata beliau.
Tapi karena saya di daerah yg asing, jadi saya gak tahu daerah yg sebelah mana
pastinya..he-he
Pak.Giri..silahkan di tulis pengalaman nya ya...Perabu sangat suka dengan lokasi
daerah tempat tinggal orang tua pak.Giri.
Sekian laporan perjalanan JKT- DPS..
Dendi.
|