JALAN YANG SAMA TETAPI BERCABANG (BAGIAN 2) Posted by Darmayasa on 2009-07-30 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Beberapa waktu yang lalu, ketika saya berada di Yogyakarta, pada saat kembali menuju Jakarta (30/6/2009), begitu memasuki jalan toll ada petunjuk jurusan JAKARTA (dan dibawahnya) SURABAYA. Membaca petunjuk itu, saya jadi menjadi sedikit kaget, takut salah jalan, sebab kesalahan masuk jalan toll berarti kesalahan amat fatal. Untuk menghilangkan keraguan itu saya bertanya pada teman yang mengendarai mobil kita, "Lho koq jalan toll ini aneh??? ia menuju Jakarta dan Subaraya???" Saya lanjutkan, "Bagaimana mungkin??? Jakarta ke arah Barat dan Surabaya ke arah Timur sana??? Bagaimana tujuan berlawanan arah bisa ditempuh dalam satu arah???" Ini sangat memusingkan kepala saya. Maksud saya bukan pusing yang memerlukan obat sakit kepala, tetapi pusing dalam arti tidak mengerti bagaimana mungkin dua tujuan bertolak belakang dan berlawanan arah dapat dicapai melalui satu jalan yang sama????? Satu jalan toll yang sama???? Lalu teman yang mengendarai kendaraan berkata, "Mungkin di depan sana ada petunjuk berikutnya ..." Dan…ternyata perkataan teman itu memang benar. Tidak berapa lama kemudian terbaca petunjuk arah ke kiri dan ke kanan. Ya yang ke kiri adalah arah menuju Jakarta dan arah kanan menuju Surabaya.
Nah seperti itu pulalah perjalanan spiritual kita. Pada phase awal-awal, perjalanan spiritual memang membingungkan karena semua pencari, baik pencari spiritual maupun pencari yang lain yang bukan spiritual, ternyata semua berbaris dan melangkah di jalan yag sama. Semua memang melangkah di jalan yang sama dengan langkah gerak dan pakaian yang sama dan masyarakat umum hanya mengerti bahwa semuanya adalah spiritual. Tetapi, lama-kelamaan dan semakin lama, akhirnya tujuanlah yang memisahkan jalan mereka dan masing-masing akan membayar toll berbeda dan akan mengalami perjalanan yang berbeda pula. Nah, yang memilih jalan bukan spiritual ia akan mendapatkan berbagai kemeriahan sementara, sedangkan yang memilih spiritual akan mendapatkan segala jenis kebahagiaan. Keduanya memang mencapai tujuannya tetapi tujuan itu membedakan hasilnya.
Beberapa hari lalu kita sempat diskusi dengan seorang teman dalam ruang tertutup. Mengapa??? Karena ia ingin menyampaikan masalah-masalah agak pribadi yag ia tidak ingin share dengan yang lain. Oleh karena itu, teman-teman lain saya kirim keluar kamar untuk sementara dan saya berdua dengannya di dalam kamar. Teman itu menyampaikan pengalaman-pengalaman meditasinya dan salah satu penyampaiannya adalah bahwa ia kini telah mampu berhubungan atau, istilahnya dia kontak dan berdialog dengan para dewa dan dewi.
Mendengar penuturannya itu, saya menyambutnya dengan tersenyum dan pelan-pelan memberikan penyadaran padanya bahwa apa yang dia anggap kemajuan sesungguhnya adalah kemunduran mutlak. Saya awali dengan pertanyaan, siapakah para dewa itu??? ia mengatakan bahwa para dewa/dewi adalah sinar suci dari Tuhan yang Maha Esa dan merupakan representatif-Nya di dalam berhubungan langsung dengan alam material ini untuk membimbing dan memberkahi umat manusia. Saya katakan, "Ok...jadi para dewa itu adalah sinar suci Tuhan..."
Dia mengatakan "Iya..."
Terus saya bertanya, "Siapakah anda???"
Ia mulai terdiam sambil mengkerutkan keningnya. Nah, daripada ia mengkerutkan keningnya terlalu lama maka saya melanjutkan, “Jika kita meneliti diri kita dengan jujur, maksud saya, dengan kejujuran seorang pe-Meditasi Angka yang telah berhasil menundukkan keakuan palsunya, maka ia akan melihat bahwa ternyata ia masih tenggelam di dalam lumpur busuk dan berbau.” Lalu saya minta ia meneliti dirinya, apa saja yang dia lakukan mulai dari bangun tidur pagi sampai dengan tidur malam hari. Saya tanya, "Apa yang anda lakukan pagi hari sejak anda jaga dari tidur?"
Dengan jujur ia mengatakan bahwa begitu jaga dari tidurnya yang ia lakukan adalah mencoba mengingat Tuhan Yang Maha Esa tetapi ternyata yang tampak adalah tetangga yang setiap hari membuang kotoran sampah ke area rumahnya melalui pembatas tembok/pagar tanaman di sela-sela pagar tanaman. Ia merasa kesal dan sangat marah dengan tetangganya itu. Saya tanyakan terus acara paginya sampai ia masuk kantor. Nah, di kantor ia pun lelap di dalam pergaulan kantornya. Melalui percakapan yang jujur dan terbuka itu ia juga menyampaikan bahwa ia pun tidak bisa menghindari perbuatan-perbuatan yang ia sesungguhnya tidak sukai tetapi lingkungan kantornya telah tercipta seperti itu, kalau ia tidak ikut maka ia akan dikucilkan oleh masyarakat kantornya.
Selanjutnya saya menjelaskan kepada teman itu bahwa jika para dewa itu adalah sinar suci Tuhan, berarti beliau adalah dan berada pada tingkat yang sangat suci. (Ia mengangguk-anggukkan kepalanya....)
Lalu saya katakan padanya bahwa ketika kita melihat dengan jujur keberadaan diri kita, maka kita akan jumpai bahwa diri kita ternyata sedang bergelimangan lumpur duniawi, bahwa ternyata kita mau dan/atau tidak mau tertelap di dalam kegiatan-kegiatan yang tidak baik atau bahkan permainan kotor. Terhadap kalimat-kalimat saya ini pun ia mengangguk-angguk tapi agak menundukkan kepalanya. Lalu saya lanjutkan, "Jadi, kalau para dewa/dewi adalah berada pada tingkat yang sangat suci, sedangkan kita berada dalam lumpur berbau busuk, apakah kontak antara diri kita yang kotor itu bisa nyambung mulus dengan para dewa/dewi yang maha suci itu???" Ia menunduk dan tidak menganggukkan kepalanya lagi. Saya bilang, "Coba lihat saya." Ia mengangkat kepalanya memandang saya dengan sedikit ragu atau malu, lalu saya katakan,"Nah, bagaimana perasaan anda saat ini ketika memandang saya itulah jawaban dari pertanyaan anda. "
Ia menunduk kembali. Nah teman-teman yang membaca renungan ini, tolong lanjutkan apakah jawaban yang tersimpan di balik pandangan mata teman itu kepada saya pada waktu itu???
Silakan. Semoga semua berbahagia.
... Selesai ...
Sriguru,
Darmayasa
Renungan no. 148
|