JALAN YANG SAMA TETAPI BERCABANG (BAGIAN 1) Posted by Darmayasa on 2009-07-24 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Seorang pemeditasi Angka yang tunduk hati dan telah maju di dalam meditasinya walaupun dicerca berulangkali dan didoakan biar lama sembuhnya, tetapi ia masih tetap tegar dan tidak kehilangan kontrol perasaan hormat bhaktinya. Ia tetap memegang ketundukan hatinya dan berbalik menyampaikan persembahan karangan bunga mawar dan melati yang serba indah dan harum kepada orang yang mencercanya. Tindakan terpuji seperti itu merupakan sebuah ketundukan hati dan hormat bhakti yang tinggi, yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang telah maju di dalam meditasinya. Ia telah berhasil mengarahkan meditasinya demi pencapaian ketundukan hati dan bukan demi pencapaian-pencapaian kecil lainnya seperti kesaktian, kekebalan, kekayaan, ketenaran dan lain-lain.
Ia tetap berada di dalam tempatnya semula walaupun ia telah melangkah jauh di depan sana. Orang biasa tidak mampu mengenali kemajuan yang telah dicapai oleh yang bersangkutan. Suatu langkah mulia yang tidak dicapai oleh sembarang orang. Ketika ia datang dan ikut di dalam kumpulan Meditasi Angka dan ketika ia telah mencapai pencapaian indah, keberadaannya tetap sama. Ia tetap menunjukkan dirinya begitu tunduk sehingga ia tidak dikenali oleh teman-temannya sebagai seorang yang telah maju. Tidak ada kata ke luar dari bibirnya walaupun ia memiliki banyak pengetahuan. Tidak ada cerca ke luar dari bibirnya karena ia telah mengisi bibirnya penuh dengan kata-kata halus indah dan penuh kasih. Ia tidak melihat orang lain sebagai kurang atau jelek karena ia telah memasang “lensa” kasih di dalam matanya. Nah, keberhasilan seperti itu yang patut menjadi contoh acuan tujuan bagi setiap pe-Meditasi Angka.
Kadang kala kita memang melihat contoh orang-orang yang baru datang ke kumpulan Meditasi Angka sudah mempraktikkan
“meditasi itung-itungan” lalu menunjukkan “kekekaran dan kebidangan dada”-nya, tetapi orang seperti itu hanya bertahan dua atau tiga hari di dalam kumpulan Meditasi Angka, karena akhirnya Dhuna Guru ‘mengitungnya’. Dhuna Guru (Tuhan YME sebagai Guru Sejati) akhirnya menunjukkan jalan yang “terbaik” untuknya.
Memang adalah keberhasilan benar-benar berhasil di dalam meditasi ketika seseorang menemukan harta karun ketundukan hati. Tetapi, di dalam Meditasi Angka, harta karun seperti itu kita tempatkan nomor sekian. Kita memang perlu, tetapi ia bukan target terdepan kita.
Pencapaian apa pun di dalam Meditasi Angka, ia tidak salah dan juga tidak mulia. Pencapaian sekecil apa pun, ia adalah pencapaian. Misalnya pencapaian kesehatan membaik, munculnya kemampuan-kemampuan gaib, perbaikan rezeki dan lain-lain, semuanya tidak akan berarti apa pun jikalau ia tidak diarahkan pada pengabdian kepada sesama dan bhakti pada Tuhan YME. Batu permata berlian jenis apa pun dan semahal apa pun tidak akan ada artinya kecuali ia dirangkai di dalam hiasan cincin atau mata kalung yang indah. Ia akan bernilai hanya setelah dikenakan di jemari indah atau sebagai penghias leher yang indah.
Orang-orang yang telah berhasil di dalam pencapaian ketundukan hati harus segera datang maju ke depan serta aktif melakukan suatu pelayanan demi orang lain. Dia seharusnya mulai menyibukkan dirinya untuk melatih yoga dan meditasi demi kesehatan dan ketenangan orang-orang sekitarnya yang kebanyakan sedang mengalami kesulitan untuk mendapatkan kesehatan dan ketenangan. Kalau ia meninggalkan ketenangannya demi menenangkan orang lain, apa salahnya? Bukankah hal itu merupakan sebuah pencapaian lebih indah daripada memiliki ketenangan hanya untuk tenang?
Pencapaian apa pun kalau kita tidak arahkan kepada pelayanan sesama dan bhakti pada Tuhan YME, maka pencapaian tersebut pada akhirnya hanya akan menjadi “gangguan” yang tidak diperlukan di dalam perjalanan spiritual orang itu.
Sering orang memasuki jalan spiritual tetapi mereka tidak mengerti atau lupa mengertinya bahwa jalan yang ditempuh itu walaupun satu arah tetapi pada akhirnya akan terpecah menjadi dua arah, satunya menuju arah spiritual yang benar dan satunya menuju arah spiritual dalam tanda kutip alias palsu. Tetapi, keduanya memang di dalam jalan yang sama; pakaiannya memang sama-sama pakaian suci dan segala cirri-ciri kesucian, tangannya juga pegang Japamala atau tasbih dan memang bibirnya juga komat kamit mengucapkan mantram atau kalimat-kalimat suci, atau yang lain.
Beberapa waktu yang lalu, ketika saya berada di Yogyakarta, pada saat kembali menuju Jakarta (30/6/2009), begitu memasuki jalan toll ada petunjuk jurusan JAKARTA (dan dibawahnya) SURABAYA. Membaca petunjuk itu, saya jadi menjadi sedikit kaget, takut salah jalan, sebab kesalahan masuk jalan toll berarti kesalahan amat fatal. Untuk menghilangkan keraguan itu saya bertanya pada teman yang mengendarai mobil kita, "Lho koq jalan toll ini aneh??? ia menuju Jakarta dan Subaraya???" Saya lanjutkan, "Bagaimana mungkin??? Jakarta ke arah Barat dan Surabaya ke arah Timur sana??? Bagaimana tujuan berlawanan arah bisa ditempuh dalam satu arah???" Ini sangat memusingkan kepala saya. Maksud saya bukan pusing yang memerlukan obat sakit kepala, tetapi pusing dalam arti tidak mengerti bagaimana mungkin dua tujuan bertolak belakang dan berlawanan arah dapat dicapai melalui satu jalan yang sama????? Satu jalan toll yang sama???? Lalu teman yang mengendarai kendaraan berkata, "Mungkin di depan sana ada petunjuk berikutnya ..." Dan…ternyata perkataan teman itu memang benar. Tidak berapa lama kemudian terbaca petunjuk arah ke kiri dan ke kanan. Ya yang ke kiri adalah arah menuju Jakarta dan arah kanan menuju Surabaya.
... Bersambung ...
Sriguru,
Darmayasa
Renungan no. 147
|