SEBELUM AIR BAH KEMARAHAN, KENAFSUAN DAN KELOBAAN BERHASIL KAU KENDALIKAN, PENGUASAANMU TERHADAP AYAT-AYAT KITAB SUCI TIDAKLAH BERBEDA DENGAN KEMERIAHAN WARNA WARNI BUNGA PLASTIK. Posted by Tamtam Setiawan on 2009-07-05 [ print artikel ini | beritahu teman ]Renungan 092 berikut:
“Sebelum air bah kemarahan, kenafsuan dan kelobaan berhasil kau kendalikan, penguasaanmu terhadap ayat-ayat kitab suci tidaklah berbeda dengan kemeriahan warna warni bunga plastik.” (Darmayasa)
---o0o---
Sardiana:
Salam kasih,
Renungan itu ibaratnya sebuah batu asah yang menyiapkan dua muka pengasahan. Muka pengasahan pertama "Sebelum air bah kemarahan, kenafsuan dan kelobaan berhasil kau kendalikan", dan yang kedua "penguasaanmu terhadap ayat-ayat kitab suci tidaklah berbeda dengan kemeriahan warna warni bunga plastik".
Muka batu asah yang pertama menuntun kesadaran duniawi menjadi kesadaran spiritual dengan melantumkan "nyanyian" suara batu asah yang bekerja menghaluskan laku duniawi menuju laku spiritual melalui pencerahan "kecuali kau bisa kendalikan sifat kemarahan, kenafsuan dan kelobaan sebagai panglima hidupmu, kamu belum bisa memasuki alam spiritualmu" . Muka batu asah yang kedua mengasah laku spiritual palsu, sepalsu gemerlapan warna-warni bunga plastik yang jika dipandang dari kejauhan tidak ada beda dengan bunga aslinya.
Betapa pun indahnya pancaran bunga plastik itu, dia tidak seindah aslinya bila ditatap dengan seksama (hati nurani). Demikian juga betapapun kepiawian menguasai ayat-ayat kitab suci, dia hanyalah polesan kosmetik dibibir yang manis. Sebaliknya, keberhasilan pengendalian kemarahan, kenafsuan, dan kelobaan menuntun kesadaran secara perlahan namun pasti menunju laku spiritual.
Renungan ini menitipkan pesan sebetulnya jalan spiritual ini simple. Demikian simplenya kenapa hanya segelintir orang yang mencapai kesadaran spiritual (kesadaran roh = kesadaran Tuhan)? Jawabannya semua kembali kepada diri sendiri.
---
Bila kedua muka batu asah itu dipadukan , maka muka batu asah yang pertama memberi makna batu asah yang kedua. Jika tidak dipadukan ada tafsiran bahwa muka batu asah yang kedua tidak ada maknanya.
Berkiblat dari asumsi diatas bahwa tidak ada manfaatnya menguasai ayat-ayat kitab suci bila tidak disertai dengan kemampuan untuk mengendalikan kemarahan, kenafsuan dan kelobaan. Penguasaan ayat-ayat kitab suci akan menjadi tidak bernilai (palsu) dengan topeng kemarahan, kenafsuan dan kelobaan.
Disini timbul pertanyaan. Bukankah ayat-ayat kitab suci mengajarkan kehalusan spiritual? Mengapa orang yang piawai dalam ayat-ayat kitab suci masih belum bisa mengendalikan sifat kemarahan, kenafsuan dan kelobaan?
Damai selalu.
---o0o---
Herry Ermawan:
Salam kasih,
Seringkali air bah muncul karena sungai dibendung dan ternyata
bendungan tidak kuat menahan tekanan air. Akhirnya terjadilah air bah
nafsu atau yang lain. Oleh sebab itu,biarkan semuanya berjalan alami. Ingat selalu angka pilihan. Nikmati dunia sekaligus sadari keremehannya. Tuhan akan menuntun yang selalu terhubung dengaNYA.
Suatu saat semua unsur rajas,tamas dan satvam akan membantu kita masuk ke dalam diri. So...jangan terlalu dikekang temaaaan...
Love
---o0o---
Widyasthana:
Salam kasih,
Bunga plastik mungkin indah dari kejauhan bahkan tak kentara kalau itu bunga palsu.
Karena bunga palsu maka bunga plastik tak menebarkan wangi bunga yang sesungguhnya.
Bisa disemprot tetapi aromanya hanya sementara, aslinya akan tampak manakala aroma sirna tertiup angin.
Bunga plastik sudah pasti tidak bisa menjadi buah. Maka demikianlah, walau kita hafal di luar kepala isi kitab suci, namun tidak mampu mengendalikan kemarahan, nafsu, dan loba, maka hanya mulut kita yang indah bertaburan hiasan warna ayat-ayat suci, namun keseluruhan diri dan hidup kita tidak ada maknanya.
Sriguru,
paw
---o0o---
Sardiana:
Salam kasih,
Sifat alami:
Damai: yang jinak bisa diajak damai.
Kendali: yang liar tidak bisa diajak damai, dan ia harus dikendalikan.
Faktor resiko:
Damai: yang jinak bisa diajak damai dengan mengelusnya, tanpa resiko.
Kendali: yang liar tidak bisa diajak damai, krn penuh resiko. Makanya ia harus dikendalikan.
Kemarahan, kenafsuan dan kelobaan:
1. Jika mereka itu sudah jinak tidak perlu dikendalikan. Mereka harus dielus dan dipelihara dalam sangkar emas Meditasi Angka. Tempat bertenggernya adalah Angka Pilihan (divine stick) menuju menyatu luluh denganNYA bersama sang Roh. Sang roh yang telah berhasil melepaskan attribut maya (kemarahan, kenafsuan dan kelobaan). Dalam kondisi ini, baru muncul kedamian, kedamian Sang Diri Sejati.
2. Jika mereka masih liar harus dikendalikan agar mau masuk ke sangkar emas Meditasi Angka. Dalam sangkar ini nantinya mereka akan dijinakan. Program serta aktifkan Angka Pilihan sebagai tempat bertenggernya. Jika berhasil menjinakan mereka, maka tali kendali dilepaskan. Jika tidak, tali kendali harus tetap diikatkan pada mereka. Jika dalam usaha keras tidak juga mereka mau jinak ....ya ...dilanjutkan terus sampai pada "the next life" ....next life...and next life...sampai akhirnya mereka berada pada kondisi poin 1.
3. Kemarahan, kenafsuan dan kelobaan adalah attribut sang roh pada kelahiran ini, maan kudiang jani (terus diapain mereka) ...pasrahkan saja? ...heee...heee
Damai selalu.
---
Kencang tidaknya tali kekang atau tali kendali itu kiranya diukur dari rajin tidaknya, tekun tidaknya pe-Meditasi Angka dukun (pinjam istilah Pak Dendi). Semakin tekun/disiplin pe-Meditasi Angka melakukannya, semakin kencang tali kendali itu, seyogyanya demikian. Artinya kemarahan, kenafsuan dan kelobaan semakin berhasil dikendalikan. Seperti misal, pada suatu peristiwa yang menjengkelkan dia biasanya marah-marah, tetapi sekarang dalam situasi yang
sama dia sudah bisa tidak emosian lagi dan bahkan senyum-senyum walupun dalam hati masih ada rasa rekayasa. Terus semakin kenceng tali kendalinya berkat kedisiplinan ber-Meditasi Angka, sehingga marah-marahnya itu secara tulus berubah menjadi senyum dan bahkan menjadi tawa bahagia. Senyum dan tawa bahagia yang tulus.
Sebaliknya semakin jarang ber-Meditasi Angka, semakin kendur tali
kekang/kendalinya. Semakin jarang lagi meditasi dilakukan, dan akhirnya dengan tidak samasekali ber-Meditasi Angka, semakin tak terkendalilah sifat maya itu (kemarahan, kenafsuan dan kelobaan). Dalam kondisi itu, dia mengumbar sifat mayanya dengan rasa senang dan bangga. Kemarahan, kenafsuan dan kelobaan itu adalah atribut Sang Roh. Pengumbaran atribut Sang Roh pada kehidupan ini menjadikan attribut itu berubah menjadi air bah yang tak dapat
dibendung. Sang Roh lelap dalam cengkraman itu tanpa kendali.
Pada akhirnya, air bah (kemarahan, kenafsuan dan kelobaan) menghanyutkan Sang Roh. Air bah itu sangat besar sebesar kelalaiannya bermeditasi, sebesar akibat dari berhentinya bermeditasi. Jika dibayangkan hebatnya setara dengan air bah Situ Gintung bagi yang nyaris bermeditasi, dan jika dibayangkan lebih juah air bah itu mirip dengan tsunami Aceh bagi yang berhenti meditasi samasekali. Aduh ....ngeri ah ....
Damai selalu.
---o0o---
Lojana:
Salam kasih,
Ikutan... .sharing. Untuk mengendalikannya nafsu, loba, marah .... ada pepatah lama ; tidak kenal maka tidak sayang.... maka saya berusaha untuk lebih mengenalnya . .. selanjutnya menyayanginya. ... Namun bila semua itu akan muncul disadari/eling tanpa memberi reaksi.... lama-lama akan hilang sendiri... karena semua itu produk dari "Si pikiran" yang memberi reaksi. Saya berusaha untuk tidak mengakimi/memberi label agar tidak menimbulkan konflik dalam batin...
Buah dari praktik agama dan meditasi yang sejati adalah kebenaran dan cinta kasih..
---o0o---
Dayu Sri:
Salam Kasih,
Terkadang juga dukun juga perlus sedikit tuntunan teori ( ajaran ), menurut Gita, berapa banyakpun kitab suci yang telah dibaca, tidak akan ada gunanya jika kita gagal mengendalikan diri, dan cara pengendalian diri yang paling utama adalah Ksama ( tabah dan pemaaf )...dalam kata tabah ada unsur pasrah ( penyerahan diri secara total ) dalam kata pemaaf ada unsur cinta kasih
Setiap permasalahan akan terselesaikan dengan penyerahan diri total kepada Tuhan, setiap kelemahan seperti rasa iri, dengki, cemburu akan dihadang oleh tembok cinta kasih... jadi, pengendalian diri dapat dilakukan dengan mudah hanya dengan melakukan dua hal yaitu tabah dan maaf.
Ada beberaja ajaran guru yang sangat menyentuh hati saya, yang dua diantaranya adalah ajaran cinta kasih sejati, bahwa dalam kasih sejati tidak ada salah dan benar, benar adalah benar, salahpun benar adanya... jadi dalam pergaulan meditasi angka selayaknya tidak ada rasa ketersinggungan, kemarahan, kebencian dan lain-lain, karena kita berada dalam lingkaran cinta kasih sejati ( maaf ). Ajaran ke-2, serahkan diri sepenuhnya pada Dhuna Guru, biarkan kita dicabik-cabik dan diobrak abrik karena semua itu tujuannya untuk membentuk kita menjadi lebih baik ( tabah ).
---o0o---
Noni:
Salam kasih,
Dari Renungan ini ada 3 point yang di tekankan Guru yaitu :
1. Marah,
2. Nafsu, dan
3. Loba
Dari tiga hal diatas, apakah point ini berdiri sendiri ataukah dia berkawan karib? Ibaratnya kita mengerjakan soal ujian di sekolah, ada pameo yang mengatakan, kerjakanlah yang paling mudah terlebih dahulu, nah dari tiga hal diatas, manakah yang paling mudah diselesaikan terlebih dahulu?
Mari kita kaizen sejenak...
sriguru
---o0o---
Herry Ermawan:
Salam Kasih,
Sesungguhnya manusia sudah dipenuhi oleh kehadiran Tuhan. Dikatakan Tuhan bersemayam dalam hati nurani manusia, tetapi kenyataannya getaran Tuhan memenuhi setiap sel tubuh manusia. Tuhan sangat dekat dengan manusia, tetapi hanya mereka yang bisa masuk dalam keheningan yang mendalam yang bisa secara jelas menangkap tuntunannya. Sebenarnya Tuhan selalu memberikan tuntunan pada manusia, tetapi "suara" Tuhan menjadi tidak terdengar karena "gemuruh" gejolak pikiran.
Dilain pihak, kitab suci merupakan peta untuk dapat "bertemu Tuhan", namun harus disadari bahwa kitab suci bukanlah Tuhan. Sang Budha mengatakan daun-daun yang berserakan di tepi hutan tidak menunjukkan keseluruhan pohon yang ada di hutan. Kitab suci mungkin bisa mengantarkan manusia sampai separuh jalan menuju Kebenaran Sejati yaitu Tuhan. Perlu disadari juga bahwa dalam perjalanan waktu, kitab suci sudah banyak mengalami perubahan dan kemungkinan besar sudah dicampuri dengan ambisi-ambisi orang yang mengubahnya. Hal tersebut membuat kitab suci menjadi sumber pertentangan, banyak pertentangan, banyak dogma-dogma dan juga bahkan tahyul-tahyul.
Dengan kondisi yang demikian maka ayat-ayat kitab suci yang sungguh-sungguh merupakan kebenaran haruslah di cross cek dengan hati nurani. Nah, orang yang batinnya masih bergelora tidak akan mampu melakukan hal tersebut. Untuk itulah kita disarankan untuk menemui manusia yang sudah advance dalam bidang spiritual yang sudah mencapai 'anubhava' atau yang dapat mengakses langsung kebenaran yang ada di hatinya. Manusia yang advance ini akan menyampaikan ayat-ayat yang memang merupakan 'suara kebenaran' untuk diajarkan dan dijelaskan secara mendetail makna yang tersirat di dalamnya. Yang jelas kita bersyukur telah menemukan manusia advance yang menuntun kita...
SriGuru
---o0o---
Widyasthana:
Salam kasih,
Berkubang daku dalam air bah kemarahan,
Mereguk lautan nafsu,
Menyelam dalam samudera kelobaan,
Hasrat membuncah mejadi datu,
Dikelilingi para murid dan pengikut,
Disanjung, dipuji, dan dipuja,
Ku hias rupa dengan hafalan ayat-ayat suci
Sungguh,
Laksana bunga-bunga plastik,
Indah merona,
Namun,
Tiada aroma,
Tiada makna.
Damai
---o0o---
Sudarma:
Manusia adalah mahluk yang paling uttama diciptakan oleh Brahman, karena dengan Budhhinya manusia dituntut untuk dapat menggunakan viveka dan vinayanya mengenali,
menganalisa, dan memilih serta menentukan keputusan terhadap sesuatu yang benar
dan salah. Pikiran diciptakan oleh Brahman bukan untuk memikirkan hal-hal yang
jelek, tapi untuk memikirkan dan merenungkan kemuliaan Brahman setiap saat.
Mata diciptakan untuk melihat kebenaran Brahman yang ada pada setiap mahluk, karena setiap mahluk adalah perwujudan kebenaran, mata bukan alat untuk melihat hal yang
tidak benar dan senonoh. Hidung diberikan oleh Brahman untuk dapat menghirup
keharuman nama Brahman dalam setiap tarikan dan hembusan napas, karena setiap tarikan napas dan hembusan napas sesungguhnya adalah perwujudan Brahman yang selama ini kita cari, bukan untuk mengendus kejelekkan dan kebusukan mahluk lain. Telinga dikaruniakan oleh Brahman agar manusia dapat mendengarkan wacana-wacana kebenaran, lembutnya lantunan kidung pujian untuk Brahman, bukan untuk mendengarkan kata-kata bohong dan kasar serta mendengarkan gosip yang menyesatkan. Mulut dan lidah diberikan agar manusia dapat mengucapkan nama-nama suci Brahman melalui kegiatan Namasmaranan/ japa,
Kirtanam, berbicara kebenaran dan lemah lembut serta manis kepada semuanya.
Agar dapat mengunyah makanan dan minuman yang sattvam, bukan untuk membicarakan
kejelekkan orang lain, berkata dusta dan kasar serta menikmati makanan yang rajasik
dan haram.
Kedua belah tangan lengkap dengan sepuluh jari-jarinya diberikan agar manusia dapat
membantu mereka yang lemah, melayani semua mahluk dengan perasaan saying dan
cinta kasih, menggenggam erat prinsip kebenaran, selalu berbuat kebajikan, memuja
Brahman dengan sujud bhakti, bukan untuk memukul, menghina ataupun menyakiti
mereka yang lemah. Organ tubuh seperti Jantung, Paru-Paru, Lever, Pankreas,
ginjal, Usus, Limfa diciptakan agar manusia mampu menghargai kehidupannya ini
secara wajar dan benar, bukan untuk diselewengkan kepada hal-hal yang hina dan keliru, bukan untuk menikmati kesenangan yang menyesatkan. jika kita tidak menghargai, menghormati, dan memperlakukannya dengan wajar dan benar hal inilah yang akan mendatangkan bencana bagi kelangsungan hidup kita. Banyak penyakit yang timbul karena disharmoni fungsi organ vital ini.
Demikian pula organ sex dikaruniakan kepada manusia agar mereka dapat memenuhi kamanya secara wajar dengan pasangannya yang sah, pada hari-hari yang telah digariskan
dalam susastra Veda, dimana peruntukannya hanya semata-mata untuk prokreasi bukan untuk rekreasi. Penyalahgunaannyapu n pasti akan mendatangkan penderitaan.
Alat pelepasan adalah rahmat yang utama walau keberadaannya jarang diperhatikan. Sebagai media yang akan membuang semua hasil pembakaran karma badan ini, karena jika tidak dikeluarkan tentu akan mendatangkan penyakit pada badan.
Kedua belah kaki, juga gariskan agar manusia dapat menapak kehidupan ini di jalan
yang benar, melangkah ke arah pembebasan diri dari lautan samsara, bukan untuk
keluyuran dan kelayapan di jalan yang tidak pantas, menendang mereka yang tidak
berdosa, menginjak mereka yang tidak bersalah.
Jika semua organ tubuh ini dapat direnungkan secara mendalam maka pengabdian karunia
Brahman melalui tubuh ini tidak akan sia-sia. Jadi jangan selewengkan pengabdiannya kepada hal-hal yang tidak benar, jika engkau tidak mau masuk ke dalam lubang penderitaan.
Renungkan keberadaanya setiap hari, ucapkan terima kasih atas jasa dan pengabdiannya, hormati keberadaannya melalui meditasi setiap hari, sadari bahwa tanpanya hidup kita
tidak berarti apa-apa, kita tidak bisa menjadi manusia sempurna jika salah satu tidak berfungsi dengan baik, apalagi sampai ada yang tidak ada, maka keberadaan kita sebagai manusia akan terasa kurang. Sadari bahwa masih banyak saudara kita yang tidak seberuntung kita yang memiliki tubuh yang kuat dan lengkap. So...take care of your self! ****
---o0o---
Janiasih:
Salam kasih,
Maaf Saya menanggapi sedikit masalah teori dalam meditasi angka, khususnya di Bali, dimana Bu Dayu bilang bahwa teori tidak ada dan tidak di ajarkan di lingkungan Pemedang Bali. Saya kira, tidak demikian, Teori dalam medang sangat di perlukan dan dalam setiap kesempatan Guru selalu menyelipkan teori-teori meditasi angka, baik dalam wejangan-wejangan beliau, maupun di saat saat beliau melakukan pelayanan di center.
Tidak ada Praktek tanpa Teori. Hanya kita memang tidak pernah diajarkan berteori terlalu menjelimet, kita justru lebih memfokuskan diri pada praktek itu sendiri, pada pelayanan tanpa mengesampingkan teori yang ada.
Damai....
---o0o---
Adi Candra:
Salam kasih,
Kemarahan, kenafsuan dan kelobaan adalah merupakan salah 3 dari 6 musuh Utama manusia. Sialnya lagi, 6 musuh tersebut adanya sangat dekat dari kita, yaitu dalam diri kita sendiri. Setiap manusia yang lahir mempunyai 6 musuh tsb, tanpa terkecuali. Menyadari keberadaan musuh dalam diri yang begitu kuatnya, berbagai usaha dilakukan oleh manusia untuk menaklukkannya, atau paling tidak untuk mengurangi kekuatan musuh tersebut. Ada yang melakukannya dengan membuat suatu upacara tertentu pada usia tertentu, dengan menanamkan nilai-nilai moral kemanusiaan sejak bayi (yang berasal dari cerita-cerita rakyat), dengan menanamkan budi pekerti di sekolah (semoga masih ada),dan lain-lain.
Musuh Kemarahan, kenafsuan dan kelobaan sifatnya menghancurkan. Setinggi apa pun pencapaian meditasi/spiritual kita, jika sampai terkuasai oleh Kemarahan, kenafsuan dan kelobaan, orang tersebut akan mengalami kehancuran. Ambil contoh tentang Kemarahan, coba amati diri kita saat dilanda Kemarahan hebat. Daya nalar kita hilang, akal sehat kita tidak jalan, bahkan secara fisik nafas kita menjadi ngos-ngosan, dan setelahnya kita akan merasakan kelelahan yang sangat.
Melihat bunyi renungan kali ini, ternyata penguasaan pada Kemarahan, kenafsuan dan kelobaan, jauh lebih penting dari pada penguasaan ayat-ayat suci. Saat dikuasi oleh Kemarahan, kenafsuan dan kelobaan, ayat-ayat suci tak akan bisa membantu kita. Ada banyak orang yg bisa menguasai ayat-ayat suci, juga bisa dengan mudah kita dapatkan di toko buku, atau cukup dengan copy paste dari internet, maka kita akan terlihat sebagai layaknya orang suci yg menguasai dgn baik ayat-ayat suci. Tapi mungkin tak banyak orang yg menguasai Kemarahan, kenafsuan dan kelobaan. Biar tidak penasaran, 6 Musuh Utama kita tersebut, yaitu Kemarahan, kenafsuan, kelobaan, kebingungan, kemabukan dan irihati. Beberapa hari lalu di Center Denpasar, Guru sempat membahas tentang iri, bahwa iri bisa terjadi antara guru-murid, murid-guru, murid-murid. Ini semua harus kita hindari, karena jika tidak akan bisa membuat kita "binasa".
PR kita semua (baca: saya) untuk belajar mengendalikan 6 musuh utama tersebut.
Salam damai
---
Barusan selesai posting ini...saya dapat berita dari seorang teman bahwa ada teman saya yang dihina oleh teman lainnya. tidak habis pikir saya, teganya dia berbuat begitu pada temannya juga. Saya pun langsung marah, keluar semua umpatan dan caci maki saya untuk orang itu.
Setelah beberapa lama, dibuai oleh kemarahan, saya baru sadar, baru saja saya sudah mengamalkan ajaran Marah seperti yang saya tulis di bawah. Nafas jadi ngos-ngosan, darah terasa mengalir cepat, jantung berdegup kencang, dan kemudian badan terasa lemas. Teman yang saya ajak bicara hanya tertawa lebar.... dia mentertawakan bahwa saya hanya baru bisa berteori tentang menundukkan Kemarahan, sedangkan kenyataannya saya masih ditaklukkan oleh Marah.
Ayoo kita berlatih lagi....
Semangaaattt. ..
---o0o---
Meranggi:
salam kasih,
Kemarahan, Nafsu dan Kelobaan adalah unsur-unsur yang merugikan bila salah asuh, salah asuh ini adalah kelemahan sekaligus kesenangan insan manusia, daya seret kejurang nista dari tiga unsur ini (masih ada lagi: malas dan kebodohan) sangat kuat menjadikan diri kita semakin kuat terbalut baju-baju hitam kegelapan, kalau sudah kehitaman... bagaimana sinar suci abadi yang didalam sana bisa memancar keluar untuk menggapai isinya kitab suci yang penuh berkah, isi kitab sucipun sering tersembunyi rapi dibalik tulisan kata perkata, yang kuncinya adalah kebersihan hati. kebersihan hati ada di area sinar abadi didalam diri manusia.
Secara teori kira-kira demikian arahannya, namun mendapatkan rasa menyatu dengan teori itulah yang mesti dilatih secara berkesinambungan dan serius, waktu tak bisa dibeli, dan umurpun tak bisa ditawar.
Semoga pengetahuan ini tak hanya sekedar tulisan, namun membawa kita
ke arah kehidupan lebih bermakna... lebih baik semangat dan mengaca
diri ketimbang menghukum diri karena suatu kegagalan, jadi maju terus
pantang mundur untuk selalu mengekor ke guru, bahwa ada tarikan memundurkan semangat dan sebagainya.. . selama masih ada keinginan untuk maju... itu namanya irama menuju keberhasilan.
Kompak selalu...
---o0o---
Noni:
Salam kasih,
Saya belum menemukan bagaimana cara mengendalikan marah, nafsu dan loba tersebut.
karena lebih sering 3 nafsu ini muncul tanpa saya sadari, seperti ninja yang muncul tiba-tiba dan menghilang tiba-tiba.
Mungkin karena angka saya belum saya set dalam setiap helaan nafas. Jika angka ter-set dalam setiap hela nafas, otomatis semuanya terkontrol. Jadi intinya, bagaimana kesadaran kita menyatu dengan angka (manunggal kawula lan angka), dengan demikian 3 nafsu ini akan terkoreksi juga.
Sriguru
---o0o---
Herry Ermawan:
Salam Kasih,
Bli Bagus Noni, niki cuplikan ceramah Guru mengenai sadripu, sekedar untuk mengingat kembali.
"Sad itu enam ,Ripu itu musuh jadi ada enam musuh yang perlu mendapat
perhatian dari kita. Sadripu terdiri dari Kama, Krodha, Lobha, Moha, Mada dan Matsarya. Perlu kita memperhatikan Kama, Kama itu hawa nafsu, kadang kita tanpa sadar cenderung memaki-maki Kama itu, kadang kita melihat Kama itu sebagai sesuatu yang jelek, kita meremehkan Kama itu atau kadang kita penuh dengan hawa nafsu. Karena kita penuh dengan Kama , kita dikelilingi oleh Kama dimanapun kita dan dengan Kama ini, kita akan lelap. Tetapi, kalau orang lain kena Kama kita langsung menjelekkan orang lain itu, kita langsung memotong orang lain itu, kita langsung memaki orang lain itu sebagai orang berdosa, sebagai orang yang patut dikeluarkan dari Desa, orang yang wajahnya
tidak pantas dilihat, kalau melihatnya kita harus segera mandi atau
menyucikan diri.
Padahal Kama itu normal saja, kita lahir karena apa? karena Kama! Kalau Bapak dan Ibu kita tidak bertemu maka kita tidak lahir, nah wajarlah benih Bapak dan Ibu kita itu ada didalam diri kita, wajar juga kalau kita punya Kama. Hanya saja bagaimana usaha kita supaya Kama itu kita murnikan, kita sucikan Kama itu. Nah dengan kita melakukan Berata, Tapa, Yoga, Semadhi, Meditasi, Puja, membaca ayat-ayat suci (kitab-kitab suci), mendiskusikan hal-hal suci, pengaturan makanan, Berata-berata, maka Kama kita akan disucikan. Bagi ibu-ibu/wanita, pelaksanaan vrata-vrata akan mampu membersihkan kandungannya (disucikan). Sedangkan yang laki Viryanya/air
maninya akan dikuatkan dan dibersihkan, disucikan. Maka disebutkan bahwa Deva-deva antre untuk masuk ke kandungan Ibu yang demikian itu, yang telah menyucikan kandungannya. Sebagai tempat yang bersih ,ya… tidak mungkin lalat kesana atau sebaliknya sebagai tempat yang kotor tidak mungkin kumbang bisa kesana. Begitu juga dikandungan Ibu yang bersih itu tidak mungkin roh-roh jahat itu bisa masuk, jadi Kama demikianlah kama itu. Kalau dikandungan ibu yang bersih roh-roh jahat tidak tertarik kesana sebaliknya dikandungan Ibu yang kotor sulit sekali roh-roh suci melirik kesana, kecuali sangat terpaksa.
Nah oleh karena itu sangat penting sekali Kama ini kita akui keberadaan. Kama ini kadang kalau gebuannya besar pun kita harus terima tanpa harus menganggap diri kita jelek tanpa harus memaki-maki diri kita, tetapi kita usahakan menenangkan dia, menyucikan dia sehingga dari Kama kita ini akan muncul roh-roh yang baik. Jadi kewajiban kita sebelum kita kawin hendaknya kita menyucikan Kama kita. Kalau yang perempuan menyucikan kandungannya sedangkan laki-laki meyucikan viryanya (sepermanya) /air mani, akan disucikan dan diperkuat dengan melakukan tapa Berata dan seterusnya yang disebutkan.
Indah sekali jika kita menerima Kama seperti itu dan kapan kita melihat orang yang dikerumuni oleh Kama, kita jangan ketawa. Disitu justru kita harus kasihan melihat orang tersebut. Itulah mentalitas yang harus kita pegang karena kenyataannya memang begitu, karena memang kita dibentuk oleh Kama, kita lahir dari Kama. Sekarang yang kedua Krodha/kemarahan. Kemarahan juga ada disetiap orang dan sering kemarahan itu perlu. Ada saat perlu kita munculkan, perlu kita keluarkan kemarahan itu. Kadang kemarahan kalau kita keluarkan bisa membuat kita tenang, tidak sakit, jantung kita tidak akan pecah karena kemarahan itu sudah kita buang. Kedua kemarahan itu sering
membentuk orang. Nah kalau kita marah pada seseorang orang itu bisa sadar dan bisa kembali lagi ke jalan yang benar, juga kemarahan itu kadang sering membuat orang menjadi disiplin seperti di Army. Ketegasan yang kelihatan seperti marah itu ternyata dapat membentuk kedisiplinan yang baik. Namun sering pula kita melihat dan mendengar di masyarakat kalau mendengar orang marah masyarakat sudah langsung memvonis orang itu jelek... Dia sering marah ya! Pada saat dia melihat orang lain marah ya dia sudah vonis orang itu jelek, tetapi sering kemarahan itu perlu, hanya saja seperti halnya kuda
perlu tali pengendalinya begitu juga kemarahan perlu kita kendalikan.
Kapan kita perlu marah maka marahlah yang kuat. Bahkan di kitab suci
disebutkan kalau kita marah ,marah yang keraslah, yang kuat, yang benarlah sehingga satu anda akan sembuh dari sakit mental serta badan tidak akan sakit karena mengekang marah, dan dua kemarahan itu akan membentuk orang. Lebih jauh kemarahan itu disebutkan ‘vajerad atmi katorami’ harus kuat sekali, bagaikan Bajra. Kalau marah itu orang bisa kaget , harus lebih keras dari Bajra, apakah Bajra itu?
Ada beberapa pengertian Bajra, Bajra itu nama kota diTabanan,(* Rumahnya Yang Dipertuan Agung Herry Ermawan, tambahan saya*) dua Bajra itu Keleneng, tiga itu teman saya namanya Bajra, Pak Bajra, tetapi Bajra yang dimaksud disini adalah kilat / halilintar / petir...duar! Kalau halilintar itu jatuh... duar!!!... bikin orang kaget dan Ibu-ibu langsung nyebut eh!!!.. Karena kaget..
Jadi kemarahan diperbolehkan kalau anda mau tetapi tidak setiap saat, ada saat tertentu, saat yang harus tepat untuk marah. Kalau ketemu kesempatan yang pas sekali untuk marah, marahnya ‘gojrat’ nanti ketawa. Kalau bisa marahnya lebih kuat,lebih keras dari ledakan petir, dia akan mampu menyembuhkan anda, dia akan mampu menghilangkan beban-beban batin dan orang yang dimarahi itu akan terbentuk. Tentu saja bukan marah yang ngawur, marah seperti yang saya alami pada waktu kecil dimana saat itu ada piring terbang, adegan (pilar) rumah saya gergaji, pisau saya bengkokkan sampai hancur pisaunya. Kemarahan yang demikian kemarahan yang ngawur namanya.
Jadi,.ada kemarahan yang pas yang boleh dilakukan.
Seperti halnya Kama tadi, karena kita memiliki bibit kemarahan maka kita jangan melihat kemarahan itu sebagai jelek. Memang tidak dianjurkan setiap saat marah, sedikit-sedikit marah, nyelesaikan apapun harus dengan marah. Nah, itu yang salah dan kemarahan yang tidak terkontrol akan membuat kepala orang menjadi aneh ,kenapa? Seperti orang cuci pakaian diperas, kain itu diperas begitu juga otak itu akan digitukan sehingga saraf-saraf otak kita akan panas. Terus yang terjadi adalah seperti mesin,mesin yang panas akan rusak, kawat-kawat yang panas akan meleleh. Deikian juga otak , otak akan rusak banyak sel dan saraf yang rusak. Oleh karena itu kendalikanlah kemarahan tetapi bukan berarti tidak boleh marah, marah ada pasnya.
Suksma
---o0o---
Mahardika:
Salam Kasih,
Saya mengartikan renungan ini sederhana saja ya..., bahwa musuh-musuh dalam diri manusia selalu ada, tak pernah hilang. Sebagai insan Illahi dan umat beragama, kita juga sering belajar, mengutip, mempraktekkan ayat-ayat suci dan petunjuk-petunjukny a. Namun, bila kesenangan kita dalam menguasai / mempraktekkan ayat-ayat suci, tetapi kita juga tetap
terlelap pada pemenuhan kesenangan musuh-musuh itu, maka semua penguasaan
ayat-ayat suci itu hanyalah bentuk lain dari pemuasan ego. Pada akhirnya hanyalah bentuk lain dari pemuasan musuh itu sendiri, seperti ; mabuk kebanggaan, nafsu.. dan sebagainya. Semua keahlian dan penguasaan itu sia-sia saja.
Yang benar adalah, penguasaan ayat-ayat suci itu haruslah bisa membuat kita menyadari keberadaan musuh-musuh diri itu, mampu mengenalinya, mengurangi letupan-letupan kemunculannya, dan pada akhirnya mengendalikannya untuk tujuan-tujuan kebaikan dan kebenaran.
Sriguru
---o0o---
Noni:
Salam kasih,
Jadi kita sekarang sadar mempunyai 6 musuh. Tinggal sekarang mengendalikannya. ..
ibarat kereta perang yang ditarik kuda-kuda indria, (6 musuh itu pemicunya 5 indria).
Pengendalian si pencetus ini menjadi sangat penting, agar si 6 musuh tidak
mempunyai kekuatan, bagaimana caranya mengendalikan kuda-kuda liar ini? tentu butuh sais yang hebat. Di dalam perang Bharatayuda, Arjuna mempunyai kusir yang maha hebat.
Bagaimana dengan kita? saya berpikir kita punya Angka, heheeh... jadi tambah ruwet....
simplenya... mengingat angka setiap saat, Titik! dengan mengingat angka
otomatis saisnya (pikiran) tidak sempat mencari objek yang lain. Betulkah begitu?
Sriguru
---o0o---
Mahardika:
Noni memang hebat,.. mestinya dari dulu menjadi notulen.
Setuju Non... Angka bisa menjadi alert system atau rambu lalulintas.
Object yang sama ditangkap oleh indriya, melalui "angka pilihan", akan
diterima dan direspons oleh pikiran dengan cara yang lebih baik.
Damai
---o0o---
|