Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Cd/vcd/dvd
Donasi
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
MENDENGAR TANPA TELINGA, MEMBAU TANPA HIDUNG, MENIKMATI TANPA LIDAH, MENANDAKAN KAU TELAH MEMASUKI TANGGA MEDITASIMU.
Posted by Tamtam Setiawan on 2009-06-20
[ print artikel ini | beritahu teman ]

Salam kasih,

Setelah dibahas sekitar dua minggu di milis kita ini, maka tibalah saatnya menutup Renungan 091 terdahulu:

“Mendengar tanpa telinga, membau tanpa hidung, menikmati tanpa lidah, menandakan kau telah memasuki tangga meditasimu.” (Darmayasa)
---o0o---

Herry Ermawan:
Salam Kasih,

Menurut sastra suci , badan kita tersusun atas 5 lapisan yaitu:

- Annamaya kosa adalah badan kasar yang terbentuk dari makanan
- Pranamaya kosa merupakan badan yang lebih halus dari badan kasar dan merupakan badan energi yang berperanan dalam pencernaan, denyut jantung dan sirkulasi darah dll.
Pranamaya kosa menggerakkan lima indria gerak yaitu tangan, kaki, mulut, alat kelamin dan anus
- Manomaya kosa adalah lapisan badan pikiran dan berhubungan dengan lima indria pengetahuan yaitu mata, hidung,telinga, kulit dan lidah
- Vijnanamaya kosa adalah lapisan pengetahuan yang memberikan keputusan yang menuntun pikiran untuk memberikan kesimpulan yang benar
- Anandamaya kosa adalah lapisan badan penyebab yang merupakan karana sarira

Kita masuk dalam tangga meditasi jika kesadaran annamaya kosa dapat
dilewati, semua indria fisik dapat di non aktifkan sehingga sering orang mengatakan bahwa meditasi adalah memasuki kematian dalam hidup.
Kondisi meditatif tersebut dapat dilakukan jika manomaya kosa dan pranamaya kosa yang berkaitan dengan ke sepuluh idria dapat diminimalkan keaktifannya.
Manomaya kosa dan Pranamaya kosa meresapi annamaya kosa.
Keaktifan dari manomaya kosa dapat diukur dari frekwensi gelombang otak yaitu dari kondisi alfa sampai gelombang otak delta. Dalam frekwensi otak delta seseorang dikatakan masuk dalam kondisi meditatif. Kondisi ini dapat dicapai melalui latihan konsentrasi pada satu obyek sampai gejolak-gejolak fikiran selain obyek konsentrasi bisa didiamkan. Seseorang yang dengan mudah masuk ke dalam kondisi ini akan melapangkan jalan untuk menaiki tangga meditasi sampai mencapai Savikalpa Samadhi. Dalam Savikalpa Samadi seseorang terserap dalam kondisi yang sepenuhnya bebes dari kesadaran Annamaya Kosa
dan Pranamaya kosa. Ide-ide dan pikiran-pikiran masih datang tetapi
seseorang dalam tahap ini dapat mengabaikannya dengan mudah.
Selanjutnya jika seseorang naik lebih tinggi maka dia akan masuk ke tahap Nirvikalpa Samadhi dimana pikiran benar-benar sudah zero.

Dalam autobiography of Yogi, Paramahamsa Yogananda mengatakan pencapaian Nirvikalpa Samadhi adalah salah satu syarat mutlak seseorang bisa masuk ke alam astral tinggi, melawati alam leluhur. Seseorang yang terlahir di alam astral tinggi tidak pernah terlahir lagi di alam fisik. Dia akan terus melatih diri di alam astral tinggi untuk kemudian masuk ke alam penyebab dan akhirnya mencapai penyatuan dengan Tuhan.

Love

Herry Ermawan
---o0o---

Widyasthana:
Salam kasih,

Menurut saya, renungan kali ini berhubungan dengan 'ketidak terikatan'
indria-indria kita pada hal-hal duniawi. Kita punya indria-indria dan itu perlu diberikan obyeknya. Mata harus diberikan melihat, hidung harus diberikan membaui aroma, lidah harus
diberikan mengecap, kulit harus diberikan meraba, perut harus diberikan makanan, dan lain-lain, tetapi hendaknya kita bisa mengendalikan semua indria kita sehingga obyek-obyek dari indria tidak merusak tubuh dan jiwa kita.

Kita perlu belajar mendengar, membau, menikmati dengan jiwa sehingga segala yang diterima oleh setiap indria adalah yang bermanfaat tidak hanya bagi tubuh, tetapi juga bagi jiwa kita, dan bermanfaat bagi jalan naik kita di tangga meditasi/spiritual.

Sri Guru,
paw
---o0o---

Dendi:
Salam kasih

Apakah indera-indera dalam itu yang di maksud adalah : Hati/batin/jiwa. ..?

Apakah dengan demikian maksudnya adalah, pada Renungan No. 091, pada
stage tersebut, sudah ada penyatuan antara kesadaran phisik dan kesadaran
jiwa/batin/hati. ..sehingga segala kejadian, segala peristiwa di dengar,
dilihat dan di rasa oleh hati/jiwa/batin. ..?

Renungan ini sepertinya adalah untuk mereka yang sudah punya kelas yang mapan, kelas kita (saya) khususnya masih jauh di bawah renungan ini.... Karena kelas kita masih di bawah, setidaknya kita jadi tahu kemana arah kemajuan dari jalan meditasi yang kita tekuni... coba kalau Renungannya berbicara " di kelas" kita, nanti kita merasa jumawa karena merasa sudah "tinggi'... padahal masih pra Taman Kanak-Kanak, jadi ego masih mudah terombang-ambing. ..!

Damai,
Dendi
---o0o---

Putri:
Salam Kasih,

Gunakanlah mata hati atau mata batin untuk mendengar, membaui, serta menikmati... karena kita telah menyatu dalam "Sang Diri", seperti kata pepatah "Kita bukanlah badan, tetapi kita adalah jiwa". Jiwa tidak pernah mati..., yang mati adalah badan seperti telinga, hidung, lidah, mata, dan lain-lain.

Damai...
Made Putri
---o0o---

Mahardika,
Salam Kasih,

Dalam keheningan suara Genta (Bajra Pemangku) pada Persembahyangan
Purnama Sadha kemarin, secara sadar saya ingin membaca Renungan. Saya
search di Hp dan page down sebanyak angka, lalu langsung klik, pada saat
itu keluarlah renungan 108 "Tujuan Meditasi Angka". Tanpa dinyana saya
menemukan jawaban sebuah pertanyaan yang selalu muncul belakangan ini.

Ibarat menatap batas cakrawala, terlihat jelas seolah-olah tampak
pertemuan antara batas bumi dan batas langit. Tapi... janganlah mencoba
untuk mengejar dan mencarinya. Karena permainan kejar-mengejar ini pada
akhirnya akan menyadarkan kita, bahwa kita hanya lari ditempat karena
tidak akan mampu mencapai kaki langit. Sederhananya, "Lakukan Saja",
jangan biarkan pertanyaan-pertanya an "keraguan" dunia material menghentikan jalan
kita. Hanya berjalan dan berjalan.

Semoga tak terlalu jauh melenceng... ini memang bukan tentang renungan
diatas, namun Renungan yang lainnya.

Sriguru, mgm
---o0o---

Sardiana:
Salam kasih,

Sebenarnya Renungan ini akan lebih indah jika ia ditatap, dipeluk dan dirangkul lalu dihayati setiap saat sebagai seorang sahabat dan juga guru. Seorang sahabat dan juga guru tempat untuk bertanya. Bertanya tentang diri sendiri. Apakah saya sudah mampu untuk tidak menikmati indria? Apakah saya sudah mampu melakukan penarikan indria dari cengkraman maya (duniawi) dengan segala upaya dan pikiran yang tenang? Jawaban dari pertanyaan-pertanya an itu merupakan tolok ukur apakah seseorang telah memasuki tangga meditasi atau belum.

Jawaban dari pertanyaan-pertanya an itu pula mengindikasikan semua indria harus ditarik dari obyeknya (maya-duniawi) . Ini prasyarat untuk memasuki tangga meditasi. Apakah mungkin hal itu dilakukan? Sedangkan manusia selalu terikat dengan indrianya. Mereka butuh makan, minum, tidur, berketurunan. .. dan seterusnya. Jika masih gagal mengendalikan dan bahkan meninggalkan nafsu itu, mereka berarti masih belum memasuki tangga meditasi.

Damai selalu,
Sardiana
---o0o---

Tamtam:
Salam Kasih,

Ah... rasanya renungan ini tidak membawa kita menjadi begitu rendah diri... justru sebenarnya teman-teman semua sudah pernah mengalaminya. Dan kita semua sudah mulai memasuki tangga meditasi (meskipun tangga yang paling awal) sejak guru memberikan sentuhan powernya disaat kita pertama kali memilih angka.

Coba deh kita liat satu persatu:
1. Mendengar tanpa telinga: Bukankah kita (teman-teman juga sering cerita) kalau ada suatu pertanyaan yang akan diajukan pada prabhu, seringkali pertanyaan itu tidak dijawab oleh beliau, namun jawabannya datang sendiri entah dengan cara apa yang kita tidak pahami. Yang jelas kita mendengar jawaban dari pertanyaan-pertanya an kita tanpa melalui telinga kita.

2. membau tanpa hidung: Yang ini juga pernah/sering teman-teman menceritakan pengalamannya jika di suatu tempat pernah mencium wangi tertentu yang khas, dan tentunya mirip dengan wewangian khas Prabhu atau Guruji. Bahkan orang disekitarnya ikut mencium... nah... apakah itu tercium oleh hidung indria kita? atau tanpa indria kita bisa mencium wewangian tersebut? tauk ah... yang punya pengalaman pasti tahulah...

3. menikmati tanpa lidah: Kita seringkali menikmati berkah meditasi, yang rasanya setiap orang memiliki kenikmatan berbeda saat bermeditasi. Bahkan saat pertama/awal- awal memilih angka hampir semua dari kita menikmati "rasa" yang sangat kuat.... dan lama-kelamaan kenikmatan itu seakan tidak terasa lagi, entah karena kita telah terbiasa, atau memang rasa itu semakin halus... atau mungkin malah kita telah berkurang kepekaannya. .. entahlah...

4. menandakan kau telah memasuki tangga meditasimu: Tangga meditasi itu ada buanyakkk, tidak terhingga... jadi meskipun kita baru memasuki tangga pertama, berbahagialah. .. karena banyak orang diluar sana yang bahkan enggan memasuki tangga meditasi, entah karena malu, tidak tertarik dan sebagainya.. .

Yang jelas... kita sudah berada dalam kendaraan yang sama bersama Guru. Entah kita disamping Guru atau di bak mobil pikup di belakang Guru... rasanya kita tetap akan diantar serta dituntun kearah tujuan yang sebenarnya.

Sriguru,
(Tamtam)
---o0o---

Adi Candra:
Salam Kasih,

Jadi teringat lagunya Bimbo, tetapi beda sih..:)
Mendengar tanpa telinga, membau tanpa hidung, menikmati tanpa lidah, secara jujur kita akui, adalah hal yang sulit dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keseharian kita, kita selalu menggunakan 5 indriya kita untuk menikmati obyek indriyanya masing-masing, seperti yang dijelaskan oleh Bapak Sardiana.

Pada Renungan kali ini, seolah Guru ingin mengingatkan kita bahwa meditasi itu bukan hal yang mudah (meskipun kita jangan lalu menjadi putus asa atau rendah diri). Meditasi bukan hanya duduk diam, lalu pikiran kita melayang ke sana kemari. Ternyata untuk masuk tangga Meditasi, perlu syarat-syarat yang tak mudah, tapi bukan mustahil. Hal ini perlu disadari lagi karena banyak yang merasa baru duduk saja, sudah bisa lihat ini/itu, merasakan ini/itu (tentu tanpa merendahkan bakat kemampuan yang sudah kita miliki masing-masing) . Tetapi Renungan ini memberi kita rambu-rambu, atau aba-aba untuk hal itu.

Dalam 8 tahapan Yoga dari Rsi Patanjali pun, Meditasi yang disetarakan ada pada tangga ke-7. Jadi kita harus melewati 6 tangga terlebih dahulu, untuk bisa sampai di tangga Meditasi. Semoga pembahasan bersambung tentang ini bisa berlanjut di majalah kita.
Guru sering mengajak kita berdoa, "Semoga kita diijikan untuk memasuki pintu Spiritual dan Meditasi". Ini menandakan bahwa kita belum masuk ke "pintu" tersebut. Jadi perjalanan kita masih jauh...menuju tujuan akhir hidup kita... Ayoo semangat... .:)

Salam damai
Adi
---o0o---

Herry Ermawan:
Salam Kasih,

Meditasi berarti usaha untuk selalu terhubung dan pasrah pada tuntunan KEBENARAN. Kebenaran adalah Tuhan Yang Tidak Terfikirkan oleh pikiran.
Selama masih menggunakan pikiran, disitu akan ada EGO, maka mustahillah mencapai kondisi pasrah sepenuhnya pada KEBENARAN. Untuk itulah setiap pagi kita berdoa : "Ya Tuhan penuhilah hati hamba dengan kehadiran MU, berfikirlah melalui diriku, berbicaralah melalui diriku, menciumlah melalui diriku, mengecaplah melalui diriku, mendengarlah melalui diriku"
Kita menyerahkan DASA INDRIA atau sepuluh indria kepada Tuhan sehingga Tuhanlah yang menggunakan indria-indria kita. Kita mencoba untuk tidak menjadi THE DOER, yang berbuat. Kita menyerahkan diri kita sepenuhnya untuk menjadi semata-mata alat Tuhan.

Namun dasar daripada itu semua adalah kepercayaan penuh pada Tuhan!!! Jika kita tidak percaya penuh pada Tuhan, maka itu adalah "NONSENSE " , omong kosong belaka. Kepercayaan penuh pada Tuhan akan membuat tidak ada kecemasan apapun yang muncul, tidak ketakutan, tidak ada kemarahan, tidak ada kebencian, karena apapun yang dihadapi adalah KEHENDAK TUHAN. Tanyalah pada diri kita, masihkah cemas? Don't u worry sir, coz worry will make u as the doer........

Dengan kepercayaan penuh pada Tuhan dan selalu Terhubung pada Tuhan, dengan cara yang sangat sederhana yaitu menjapa/berzikir Nama Tuhan, maka seseorang selalu berada dalam kondisi MEDITATIF, selalu terhubung dan terlindungi oleh Tuhan.
Orang yang mencapai keadaan demikian, maka dirinya akan selalu dipenuhi ANANDA , JOY, Dia berhak untuk melantunkan lagu :"DISINI SENANG DISANA SENANG DIMANA-MANA HATIKU SENANG" ,atau HATI SENANG WALAUPUN TAK PUNYA UANG OO...

Damai,
Herry Ermawan
--o0o---

Sutisna:
Salam Kasih,

Rasanya apa yang teman-teman sampaikan semuanya betul... utamanya dalam merasakan nikmatnya MEDANG... Namun ukuran lama/cepatnya rasa tersebut akan berbeda satu sama lain.
Seperti halnya :
1. Mendengar tanpa telinga... yang dimaksud disini artinya pengendalian indria pendengaran. .. usahakan setiap melakukan meditasi dengan tulus, tanpa beban... Rekan-rekan sebenanrnya sudah merasakan bahwa yang menyelimuti telinga kita hanyalah doa/suara mantram/pujian, wejangan-wejangan/ ceramah-ceramah suci, berikut
bayangkanlah yang pantas disucikan... sehingga kita tidak tergoda dengan suara-suara yang bersifat duniawi...(ada orang ngomong rame kita tidak mendengar).

Kadang kita merasakan disaat Guru bercerita... dalam benak kita ingin
bertanya atas hal yang disampaikan. .. namun sering secara tidak langsung sudah terjawab dalam cerita tersebut oleh Guru sendiri... aneh ...tapi nyata kan? ...konsentrasi penuh pada Ajna cakra...!!!! titik.

2. Membau tanpa hidung... ingat angka pilihan, konsentrasi penuh pada angka pilihan dikening... secara tidak langsung indria penciuman tidak akan mudah terbawa arus aroma penciuman yang sifatnya duniawi... karena yang tercium dan kita rasakan hanyalah aroma yang lebih pada membangkitakan cakra Ajna ... titik. Kita tidak akan merasa mual mencium hal-hal yang kurang berkenan dihati... karena yang ada pada saat itu hanyalah aroma semerbak penuh kesegaran udara segar tanpa polusi atau aroma Guru suci kita.

3. Menikmati tanpa lidah... artinya dengan kita memakan makanan yang bersifat SATWIKA ( Vegetarian )...secara tidak langsung kita sudah terlatih... dan sudah tidak tertarik lagi akan rasa makanan sebelum kita melakukan Vegetarian.. . Disini lebih dititik-beratkan konsentrasi pada Cakra tenggorokan dan Ajna Cakra... sehingga yang dapat dirasakan adalah makanan-makanan yang bersifat SATWIKA... sehingga apapun yang kita makan terasa enak... dan cepat merasa kenyang... Coba rasakan sewaktu makan di Slipi ( Rumah Ibu Rai ) ...selalu enak kan? atau ditempat dimana yang kita rasa makanan tersebut bersifat Satwika... karena ada vibrasi positif yang
melingkupinya.

Kesemuanya itu akan lebih afdol dirasakan bilamana dalam satu rumah tersebut telah seiya-sekata melakukan suka-duka dalam hidup duniawi ini... ibarat kata satu perahu hanya ada satu Nakoda... duduk sama rendah berdiri sama tinggi... tidak ada kalah menang... yang ada damai dan selalu damai ...titik... sehingga setiap step yang dilalui pada waktu melakukan meditasi ataupun dalam realisasi kehidupan, kita akan saling merasakan dan saling melengkapi.. . artinya bahwa hasil meditasi itu kadang tidak selalu diri sendiri yang merasakannya. .. bisa saja anggota keluarga yang lainnya dan tidak pula pada saat itu akan menikmati hasilnya tetapi kemudian... titik.

Akhir cerita ...sehingga teman-teman. .. telah memasuki tangga Meditasi yang dimaksud... Hal ini saya sampaikan... berkat saya kebetulan pas menyaksikan GURUJI... sedang melakukan hal tersebut diatas... sambil merem beberapa saat ....beliau sudah berhasil membaca apa yang ada dibenak kita maupun kondisi dirumah kita...(
padahal sewaktu beliau melakukan meditasi tersebut ...kita ngobrol antara satu-sama lainnya... sambil pula menikmati hidangan yang ada.... sungguh menakjubkan. ..

Damai,
Okasutisna
---o0o---

Sardiana:
Salam kasih,

Renungan ini sepertinya ada pada tingkat advance. Maka dari itu bagi tingkat elementary (seperti saya) dia dianggap sebagai sahabat dan guru untuk bertanya sebelum mampu untuk dipraktekan. Dari kaca mata jalan duniawi dia sepertinya menyampaikan sesuatu pesan yang mustahil. Tafsiran seperti itu bisa saja terjadi, karena memang jalan duniawi berbeda dengan jalan spiritual.

Dari sudut pandang Spiritual renungan ini menyampaikan pesan yang sangat essensial untuk dimiliki dan dijalani oleh seorang pemeditasi. Pemeditasi yang bermeditasi untuk kemurnian meditasi itu sendiri. Maksudnya bukan bermeditasi dengan tujuan-tujuan lain (terinspirasi dari pesan-pesan Guru soal meditasi murni).

Dimana tangga pemeditasi murni itu berada? Apakah dekat atau jauh? Dia berada dekat, sedekat keberhasilan mempraktekan semua jawaban-jawaban dari pertanyaan menyangkut pengendalian atau bahkan akhirnya meninggalkan semua nafsu yang ditimbulkan melalui indria. Dia berada jauh, sejauh ke-tidakberhasilan mempraktekan semua jawaban-jawaban dari pertanyaan menyangkut pengendalian atau bahkan akhirnya meninggalkan semua nafsu yang ditimbulkan melalui indria.

---o0o---

Renungan ini semakin direnungi, semakin menunjukan arah jalan sang diri sejati (atman/roh=kesadara n perseorangan) menuju kesadaran Illahi (Paramatman= kesadaran tuhan) melalui tangga meditasi. Disebutkan ada tiga jalan menuju Illahi, tapi yang termulia adalah jalan meditasi. Berbahagialah orang-orang yang memilih jalan meditasi menuju penyatuan sang diri sejati dengan Illahi, karena jalan itu jalan yang paling sempurna. Berbahagialah mereka yang telah memasuki tangga meditasi dengan tapa, brata, yoganya dalam keindahan pengalaman mendengar tanpa telinga, membau tanpa hidung, menikmati tanpa lidah.

Meditasi Angka membuka jalan untuk itu. Berbahagialah yang memilih Meditasi Angka sebagai jalan menuju pada kesadaran Ilahi.

Damai selalu,
Sardiana
---o0o---

Mangku Danu:
Salam Kasih,

Indriya dikaruniakan Tuhan kepada manusia sebagai media oleh manusia agar dapat meningkatkan kualitas hidupnya dari sesuatu yang tidak baik/benar menuju kualitas hidup yang baik/benar. tanpa keberadaan indriya tentunya Sang Jati Diri akan mengalami kesusahan dalam realisasi sejatinya. Namun bagaimana agar indriya ini tidak terikat oleh obyek yang diindriya? ini menjadi tantangan tersendiri. Harus ada penyadaran bahwa: "Segala sesuatu yang tercipta sesungguhnya tidak abadi" demikian pula indriya adalah sesuatu yang maya. Yang dipersepsi juga maya. Bagaimana agar indriya ini diliputi dengan CINTA KASIH, tatkala itulah pengaruh Sang Maya akan kehilangan pengaruhnya. intinya bagaimana agar CINTA KASIH ini menjadi pijakan hidup.

Sriguru,
Danu
---o0o---











Godaan Spiritual (bag-1)
Peliharalah Badan Kita
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (3)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (2)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (1)
Tak Ada Yang Gagal
Tabloid Suluh Meditasi Edisi Nopember 2011
Kenapa Medang?
Dalam Baju Spiritual
Legenda Cinta Radha Krishna
Geliat Pembangunan Aula/wantilan Di Parama Dhama Denpasar
Bersama Guru Dalam Setiap Langkah
Menolak Kesempatan Emas (bagian 2)
Menolak Kesempatan Emas (bagian 1)
Teknik Menerima Berkah (bagian 2)
Teknik Menerima Berkah (bagian 1)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.2)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.1)
Sembah Sujud
Kucing Putih Di Parama Dhama

Gerakan Suryanamaskar