Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Cd/vcd/dvd
Donasi
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
JIKA HIDUP SETIAP SAAT BERADA DALAM CENGKERAMAN KEMATIAN, LALU APA YANG PERLU KUBANGGAKAN TENTANG DIRIKU?
Posted by Tamtam Setiawan on 2009-06-08
[ print artikel ini | beritahu teman ]

Salam Kasih,

Setelah dibahas sekitar dua mingguan di milis kita ini, tibalah saatnya untuk menutup pembahasan Renungan 090 terdahulu:

"Jika hidup setiap saat berada dalam cengkeraman kematian, lalu apa yang perlu kubanggakan tentang diriku?" (Darmayasa)
---o0o---

Berikut ini adalah beberapa sharing tulisan yang dikirimkan teman-teman ke milis:

Adi Candra:

Salam kasih,

Konon, jika membicarakan tentang kehidupan, otomatis kita akan sampai juga membicarakan kematian. Sejak kecil, kematian sebagi hal yang menyeramkan/ menyedihkan/ sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan. Kita bisa melihat setiap saat orang-orang yang menangis/kesedihan teramat sangat karena orang yang kita cintai mengalami kematian. Memang...yang menangis adalah orang-orang yang masih hidup alias yang ditinggalkan.

Kita memang tak pernah "siap" untuk menghadapi kematian. Saat kita kecil, kita berfikir bahwa jika saya mati, ibu bapak, juga saudara serta kerabat saya akan sangat sedih karenanya. Setelah menikah saya berfikir, istri saya akan sangat sedih sekali jika saya alami kematian. Jika boleh bernegosiasi pada Tuhan, saya akan berkata: Tuhan, tolong jangan cabut nyawa saya sekarang, kasihan kan, kami baru saja menikah, istri saya akan jadi janda. Setelah punya anak... makin bertambah lagi anak-anak saya akan mengalami kesedihan yang sangat. Saya akan bernegosiasi lagi pada Tuhan: Tuhan, tolong jangan cabut nyawa saya sekarang, kasihan kan, anak saya masih bayi, dia akan jadi anak yatim, bagaimana masa depan dia nanti, siapa yang akan menafkahi dia nanti? Setelah anak-anak beranjak remaja, saya akan bernegosiasi: Tuhan, tolong jangan cabut nyawa saya sekarang, saya ingin melihat anak-anak saya menikah, mereka akan sangat sedih, jika disaat menikah orang tuanya
sudah tak lengkap. Demikian seterusnya.. ..saat mau punya cucu,...saat cucu
masih lucu-lucunya, ... dan seterusnya.

Saya akan selalu punya alasan yang kuat...untuk menunda kematian itu datang. Saya tak akan pernah siap... Tapi, berita buruknya, ternyata saya tidak bisa bernegosiasi dengan Tuhan, untuk menunda kematian. Memang ada orang-orang tertentu, dengan kualitas yang hebat, bisa menentukan sendiri kapan hari kematiannya, misalnya Resi Bhisma. Tetapi saya, sebagai orang kebanyakan, hanya akan bisa patuh saja, kapan pun Dewa Kematian datang, siap-tidak siap, mau-tak mau, Dewa Yama akan datang.

Guru Darmayasa sering mencontohkan bahwa Kematian itu datangnya seperti bunyi SMS di handphone kita. Datang begitu saja, setiap saat, tanpa kita bisa prediksi. Kematian bisa datang kapan saja, bulan depan, besok, atau sebentar lagi, kita tidak akan pernah tahu. Menyadari waktu hidup kita yang sangat terbatas dan hanya sekejapan mata, kita harus menggunakan waktu saya dengan sebaik-baiknya. Seperti halnya Raja Parikesit yang hanya punya waktu beberapa hari saja, dan bisa dipergunakannya dengan baik, untuk mendapatkan pencerahan. Ada banyak kisah, para leluhur kita, orang-orang yang mempunyai kesucian tinggi, bisa mengetahui kapan saat waktu kematiannya akan tiba. Saya tuliskan kisah yang disampaikan dari seorang rekan, dikisahkan ada seorang ibu tua, sedang berjalan kaki, mengelilingi pulau tempat tinggalnya, setelah mengelilingi pulau (parikrama), beliau bergegas menuju rumahnya, mandi, ganti pakaian putih-putih, bersembahyang, mengundang semua
keluarganya, kemudian beliau meninggal. Ada juga kisah seorang kakek, dimana beliau
memerintahkan mengumpulkan semua keluarga besarnya, menyampaikan nasihat-nasihat/ pesan-pesan moral, selanjutnya semua diajak bersembahyang, kemudian beliau meninggal sambil mengucapkan nama Tuhan. Indah sekali...

PR saya dan kita adalah... bagaimana caranya agara kita bisa menerima Kematian (sesuatu yang paling pasti di dunia ini) dengan indah seperti contoh di atas... Semoga kita semua bisa...

Salam damai
adi
---o0o---

Sudarma:

Salam Kasih,

Hidup bagaikan kilatan halilintar.. . hanya sekejap saja. Namun diantara kelahiran dan kematian masih ada kehidupan. Di saat kita hidup inilah harus diisi dengan karma yang positif... sehingga dengan demikian akan dapat menyambut kematian dengan penuh kesiapan dan suka cita.

Segala sesuatu yang tercipta tentu tidak abadi, demikian juga kelahiran dan kematian adalah pasti. Penderitaan tertinggi seorang manusia hadir ketika ia terlahir ke dunia ini.....karena semestinya kita tak terlahir lagi (manunggaling kawulo lan gusti), namun akibat karma wasana, kita mesti terlahir ke dunia dengan tanda sebuah tangisan sebagai wujud penderitaan tersebut. Walau kelahiran adalah penderitaan namun terlahir sebagai manusia juga adalah sebuah karunia..... karena terlahir menjadi manusia amat teramat sulit....jadi berbahagialah karena mendapatkan kesempatan lahir sebagai manusia. Dengan kelahiran sebagai manusia kita diberi kesempatan untuk berbenah melalui berkarma yang positif....dengan modal indriya kita diharapkan mampu mengais kumpulan karma kebajikan.

Disamping penderitaan. manusia juga mengalami masa-masa yang paling membahagiakan, yaitu saat ini ketika kita masih sadar kalau masih bernapas. Nafas adalah tanda kehidupan, dan Tuhan hadir dalam setiap tarikan dan hembusan napas. Seseorang yang tidak sadar akan nafasnya diibaratkan hidup dalam kematian. Dengan adanya nafas, maka kita masih hidup.... dengan hidup kita akan dapat memiliki kesadaran... dengan kesadaran kita akan dapat menata hidup dan meniti kehidupan ini dengan lebih bijak... sehingga jika kematian datang...... ....wellcome kematian denga rasa sukacita seperti saat kita menyambut kelahiran dengan tetesan airmata kebahagiaan.

Jay Sri Guru
Shri Danu
---o0o---

Putri:

Salam Kasih,
Jika kita hidup setiap saat berada dalam cengkeraman kematian... dimulai sejak pertama kali kita dilahirkan ke Dunia ini, sesungguhnya kematian sudah mengintai... bisa saja karena ketubannya pecah atau kasus malpraktek yang sering tersiar di TV. Atau mungkin juga pada saat umur semakin beranjak dewasa, apabila kita suka ngebut dijalan/tidak mematuhi peraturan lalu lintas, sewaktu-waktu bisa terjadi kecelakaan.. ya masih syukur kalo tidak terjadi apa-apa, tetapi kalau badannya masih terbaring dipinggir jalan tapi Jiwanya sudah melayang, entah disekitar tubuh atau mencari penyebab kenapa saat itu ada banyak orang disekeliling kita? Lalu pada saat kita berbicara pada mereka, ternyata mereka tidak bisa melihat ataupun mendengar apa yang kita katakan..karena ternyata kita sudah mati (seperti kasus seorang pemuda yang meninggal di by pass Ida Bagus Mantra beberapa bulan lalu, diakibatkan pulang dalam keadaan mabuk.. akhirnya menabrak as jalan sekitar jam 2 pagi. Baru keesokan paginya akhirnya diketahui oleh masyarakat.. kalau pemuda itu berusaha tuk meminta pertolongan dengan cucuran darah ditubuh, hidung, serta telinganya). Atau bisa juga kematian dalam artian klise/tidak sebenarnya.. bisa mati rasa karena sesuatu hal… mungkin trauma, mungkin perceraian dengan suami yang mungkin beda prinsip hidup tanpa melihat dan memperhatikan bagaimana anak jika ibu dan bapaknya cerai. Kematian itu banyak memiliki arti...

Yang perlu diperhatikan pada diri kita adalah... sebelum kematian menjemput kita karena kita tidak akan pernah tahu kapan Tuhan akan mencabut/mengambil nyawa kita, sebaiknya mulai sejak dini kita belajar mencari ke dalam diri. Pelajari dan selamilah diri sendiri, karena dengan menyelami diri sendiri..pada saat Tuhan mencabut nyawa kita, kita tidak akan kaget, tidak memiliki beban pada saat lepasnya roh dari raga. Jika memiliki hutang baik hutang janji maupun hutang apapun, selagi hidup bayarlah hutang tersebut... Jangan seperti kejadian' yang sudah lewat, banyak roh orang yang meninggal sekian tahun berusaha menyampaikan pesan pada sanak saudara/keluarga yang ditinggalkannya. .. tetapi karena sanak keluarga sibuk mencari harta dunia sehingga batinnya kotor oleh keduniawian, maka apapun pesan dari leluhur mereka tdk ada yang mempedulikan. Hingga pada akhirnya leluhur tersebut mencari orang lain untuk mengurus keluarganya yang berada dalam "kegelapan duniawi". memang sulit berjanji dengan roh orang yang sudah meninggal, jika ditolong… keluarga yang masih hidup tidak percaya dengan hal yang berbau mistis, namun jika tidak dibantu… nyawa jadi taruhan. Inilah resiko kehidupan. Kita sebenarnya hidup untuk menebus dosa, dan bukan untuk menambah dosa... tetapi prakteknya mungkin berbeda jauh...

Maaf klo salah' kata.... renungan dari Guru cukup sulit untuk diungkapkan walau mengerti maksudnya.

Damai selalu....
Md Putri - dps
---o0o---

Widyasthana:

Salam kasih,

Tak ada yang perlu dibanggakan, karena sehebat apapun, sebesar apapun, sebanyak apapun, hal yang kita banggakan tidak akan bisa membebsakan kita dari cengkraman kematian. Kematian tak akan menunda waktunya hanya karena kemashyuran atau kekayaan yang kita miliki.

Sehebat apapun, semashyur apapun, sekaya apapun, tak perlulah terlalu berbangga, karena toh pada suatu saat kita pasti akan mati juga.

Sri Guru,
paw
---o0o---

Herry Ermawan:

Salam Kasih,

Jaman sekarang kita sangat mudah bisa menemukan informasi yang berhubungan
dengan kematian seperti buku-buku yang ditulis para Guru Spiritual, medium
dari mancanegara atau dari internet. Hampir semua informasi tersebut
menceritrakan bahwa kematian bukanlah proses yang menakutkan dan mengungkap
banyak kebohongan tahyul-tahyul yang menakutkan tentang kematian.

Bagaimanapun juga benar adanya seperti yang diceritrakan oleh Bli Ketut Adi
Chandra, kematian itu sangat menakutkan terutama bagi yang merasa akan
meninggalkan sesuatu yang sangat dicintainya di dunia ini seperti
meninggalkan harta yang banyak, Istri yang cantik, anak-anak yang masih
lucu-lucu dsbnya. Saya pikir emosi yang wajar dari manusia awam.

Tetapi bagi seorang Yogi keinginan untuk tetap exist inilah yang sangat
menakutkan. Semua kelekatan dan keinginan tanda bahwa pikirannya masih belum
terpuaskan. Pikiran yang tidak terpuaskan inilah yang akan menarik sesorang
untuk kembali lagi berulang-ulang di dunia fisik sampai benar-benar tidak
ada lagi keinginan atau kelekatan dalam pikirannya.

Bagi tubuh fisik kematian berarti penguraian materi menjadi molekul-molekul
seperti carbon, H2O, S2,N2, O2 dsbnya. Atman (roh) ? Atman adalah the SELF,
diri sejati. Diri sejati tidak pernah datang atau pergi, dia selalu ada
dimana-mana dan ada disitu. Dia adalah layar lebar di bisokop tempat
permainan berlangsung. Pikiran? Pikiran sementara waktu diambil dulu oleh
sang Dalang dan disimpan di suatu tempat untuk kemudian akan datang lagi
bersama-sama tubuh fisik baru di dunia ini. Demikianlah pikiran terus
menerus akan kembali ke dunia sampai dia tidak mempunyai keinginan atau
kemelekatan lagi. Dalam kondisi ini dikatakan pikiran sudah padam. Kondisi
inilah puncak dari pencapaian spiritual.Dalam kondisi ini sang pikiran
berdiam dalam DIRI SEJATI atau seratus persen pasrah pada Tuhan.Tidak ada
lagi pikiran individu, hanya pikiran Tuhan yang berlaku..... ONLY GOD WILL
PREVAIL

Dalam cengkeraman kematian , hanya kondisi pikiran yang akan menentukan
bagaimana jalan ceritra selanjutnya. . Apakah menjelang kematian pikiran yang
penuh nafsu dan keinginan bisa di format dalam waktu sekejap dengan
cara-cara tertentu atau mungkin dalam 7 hari dengan mendengarkan ceritra
Tuhan seperti yang dialami Pariksit? Saya pikir ini kejadian yang probility
terjadinya sangat kecil, perlu waktu yang cukup untuk mencapai kepasrahan
total. Seberapa dalam kepasrahan kita pada Tuhan sebegitu jualah berkah
Tuhan pada kita ( seperti ayat BG yang dibahas Guru pada perayaan Guruji tgl
21 malam di Slipi).

Bagaimanapun, memang kematian tidak perlu dicemaskan karena itu adalah
sesuatu yang tidak terelakkan.Ketika tubuh fisik tidak kuat lagi menanggung
gaya aksi reaksi dia perlu diperbaharui. Kematian adalah tahapan untuk
pengkondisian pikiran. Tahapan ini tentulah tahapan yang terbaik
direncanakan oleh the Self untuk diri setiap orang. Tidak usah mencari-cari
ilmu atau obat untuk bisa mencapai umur 500 tahun di dunia ini karena
kemungkinan besar hal tersebut akan membuat kita lebih lama dalam
menyelesaiakan pelajaran kehidupan. Yang perlu kita lakukan adalah selalu
terhubung dengan Nya agar semua pelajaran yang diberikan dapat diselesaikan
dengan baik , setiap kemajuan akan diberikan ujian yang lebih berat untuk
menguji seberapa jauh kepasrahan kita padaNya. Orang yang GAMBHIRA , yaitu
tetap maju dengan ketegaran dan keberanian dalam keadaan apapun akan
mengguncangkan hati Tuhan untuk segera menyongsong dan memeluknya dan
berucap" SELAMAT DATANG KEMBALI DIRIKU"

--------

Tubuh manusia adalah Pura dari Tuhan, Tuhan telah hadir dalam hati setiap
manusia dalam bentuk getaran Nama Tuhan yang mana getaran Nama itu juga
memenuhi seluruh sel tubuh manusia. Manusia adalah mahluk suci yang telah
dipenuhi oleh kehadiranNya. Tuhan mengecap rasa melalui diri kita, tubuh
kita sesungguhnya hanya sebuah alat untuk mengecap CINTA. Ketika bangun kita
berdoa Uthisto thista Govinda, Uthista Garuda Dhvaja, Uthista Kamalakantha,
Trailokyam Manggalam Kuru.....Bukan, bukan berarti Tuhan tertidur kemudian
harus dibangunkan, melainkan UNTUK MENYALAKAN API KETUHANAN dalam diri kita
dan juga membuat pikiran kita segera terhubung denganNya dan dipenuhi oleh
getarannya, sehingga pikiran kita disucikan.

Lalu kita berdoa :
Oh Govinda merasakanlah melalui hatiku....
Berfikirlah melalui fikiranku...
Berbicaralahlah melalui mulutku...
Melayanilah melalui tangan dan kakiku....

Dengan selalu terhubung denganNya niscaya semua afirmasi akan menjadi
kenyataan. KITA AKAN MENJADI ALAT SEPENUHNYA BAGI TUHAN. Seperti halnya
orang membuat api dengan mengosok-gosok sebuah kayu, suatu saat api akan
muncul jua.

Mantap dalam jalan yang indah seperti itu maka pada saat-saat ajal
menjemput, seseorang akan tersenyum karena telah berhasil mengisi hari-hari
hidupnya dalam jalan yang penuh KEPASRAHAN pada Tuhan Yang Maha Esa. Oh
Tuhan.....Jiwa ini, raga ini hanya untukMu, akan kusimpan hingga Engkau
panggil ku kembali. Tak ku lupa sampai akhir hidupku, dimana pun aku
berada.Walau di istana Megah, walau di rumah kos-kosan sederhana ..tak ku
lupa. Hari ini ku sujud padaMu, ku berharap Engkau membimbingku. Batinku ini
dalam kegelapan dunia fana........ ...batinku ini dalam kegelapan dunia fana....

(Sebuah pemahaman dari Wacana Guru pada perayaan ULTAH Guruji tgl 21 Mei di
Slipi)

--------

Seseorang lewat pada satu jalan dan menemukan banyak gelandangan yang
kelaparan sepanjang jalan. Dia tersentuh dan berkata ," Tuhan kenapa tidak
Engkau biarkan orang-orang ini menderita". Tiba-tiba entah dari mana
terdengar suara yang berkata ," Anakku , aku menciptakan engkau untuk itu,
untuk membantu mereka". Ini adalah sungguh-sungguh kejadian yang pernah
terjadi di kota New York, ketika seseorang berangkat ke kantor dari
apartemennya dia melihat begitu banyak gelandangan kelaparan di pinggir
jalan. Tetapi dia tidak mengeluh pada Tuhan, ajaran Tuhan yang telah
diserapnya menggerakkan dia untuk berbuat sesuatu untuk mereka. Dia kemudian
mendatangi banyak restoran untuk bekerjasama yaitu menampung makanan yang
tidak laku dan mengemasnya secara baik untuk dibagikan kepada mereka.

Itulah salah satu contoh suatu proyek besar kemanusian yang dapat dilakukan
seseorang. JADILAH HERO BUKANNYA NERO. NERO berarti tidak pernah berbuat
sesuatupun untuk orang lain selama kehidupan. Jika kita menjadi seorang
NERO, pasti kita akan sangat menyesal pada saat ajal menjemput.
Kita harus selalu mengingat sebuah pepatah yang ringkasnya mengatakan ,"
BERARTILAH LALU MATI".
Ya, pepatah yang sangat padat kandungan maknanya. Jangan mau mati tanpa
pernah membuat minimal SEBUAH ARTI DALAM KEHIDUPAN. Jadilah HERO , yaitu
PAHLAWAN KEMANUSIAN. Seorang HERO tidak akan pernah melewatkan sebuah
kesempatan proyek kemanusian, sebuah proyek yang membuat kita
BERARTI atau bermakna bagi manusia lain.

Suatu kali Shri Visnhu bertanya pada Narada,"Wahai Narada, tahukah sesuatu
yang lucu yang selalu terjadi di dunia manusia?" Narada menjawab ," Ya
Tuhan hamba tahu, salah satunya yaitu insan-insan manusia tahu bahwa
berbuat kebajikan akan memberikan pahala, tetapi mereka tidak pernah mau
melakukannya"

Itulah kenyataannya, insan manusia pada umumnya sangat susah tergerak pada
manusia yang menderita. Umumnya mereka bergerak membantu orang lain dengan
motif-motif egoistik seperti mencari ketenaran, mencari pengikut baik partai
politik maupun agama atau dengan keterpaksaan. Aktifitas kemanusian seperti
itu adalah juga termasuk NERO yang menghasilakan ZERO bagi dirinya.

Beberapa orang yang pernah mati kemudian disuruh balik kembali oleh Malaikat
menceritrakan bahwa ketika di alam kematian mereka ditunjukkan sebuah film
yang menunjukkan histori kehidupannya. Ketika orang-orang itu melakukan
sesuatu yang bermakna pada orang lain , *film diperlambat dan seolah-olah
mengatakan lakukanlah lebih banyak bagian itu.*

Ok, demikian celotehan saya pagi ini. Sekarang kita semua sudah tahu, tidak
ada kata terlambat untuk memulai. jangan biarkan Narada mentertawai kita
terus.

Love
Herry Ermawan
---o0o---











Godaan Spiritual (bag-1)
Peliharalah Badan Kita
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (3)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (2)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (1)
Tak Ada Yang Gagal
Tabloid Suluh Meditasi Edisi Nopember 2011
Kenapa Medang?
Dalam Baju Spiritual
Legenda Cinta Radha Krishna
Geliat Pembangunan Aula/wantilan Di Parama Dhama Denpasar
Bersama Guru Dalam Setiap Langkah
Menolak Kesempatan Emas (bagian 2)
Menolak Kesempatan Emas (bagian 1)
Teknik Menerima Berkah (bagian 2)
Teknik Menerima Berkah (bagian 1)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.2)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.1)
Sembah Sujud
Kucing Putih Di Parama Dhama

Gerakan Suryanamaskar