MENERIMA TAMU SEBAGAI GURU Posted by Darmayasa on 2009-06-05 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Pada suatu kesempatan, saya berbincang-bicang dengan seorang tamu. Beliau bercerita bahwa ada satu keluarga di Jakarta yang sedang kedatangan tamu dari Amerika Serikat yang menginap di rumahnya. Tuan rumah itu sendiri berasal dari daerah utara Indonesia, yaitu sebuah kepulauan kecil yang saya lupa nama pulau tersebut, tetapi kita sebut saja Pulau Talaud.
Sedangkan tamu yang berasal dari Amerika Serikat itu adalah teman dari sang suami. Pada keesokan pagi harinya, sang tamu mengambil minuman air mineral dari lemari es. Rupanya sang tamu tersebut mengambil air mineral ternyata tujuannya bukan untuk diminum, melainkan untuk dipergunakan air bilasan atau berkumur setelah menggosok gigi. Kelakuan tamu itu menyentuh perasaan sang tuan rumah perempuan, sehingga ia langsung mendekat dan menegur tamu itu sambil mengatakan bahwa air itu untuk diminum dan bukan untuk digunakan sebagai air untuk berkumur setelah menggosok gigi. Kalau untuk menggosok gigi cukup dengan mengunakan air keran di kamar mandi atau wastafel. Setelah selesai berpesan seperti itu, sang tuan rumah perempuan itupun segera pergi sambil menunjukkan wajah mesem.
Pada keesokan harinya, tuan rumah perempuan kembali dibuat geger, kalau tidak bisa dikatakan geram bercampur kesal oleh kelakuan sang tamu dari Amerika itu. Karena ternyata tamunya ketahuan telah memakai telepon tanpa izin sebelumnya dari sang tuan rumah. Akibatnya sang tuan rumah harus membayar telepon sangat mahal saat itu. Akhirnya karena tidak tahan, sang tuan rumah perempuan inipun akhirnya menegur juga tamunya tersebut.
Ada pula cerita lain, yaitu tentang salah seorang teman saya yang berasal dari Inggris. Pada suatu kali ia bertamu ke rumah salah seorang kenalannya. Sang teman menerimanya dan istri yang diajak serta dengan sangat baik dan ramah. Seperti kebanyakan tradisi menerima tamu, kemudian mereka dijamu makan bersama di rumahnya. Setelah selesai makan, tuan rumah meminta urunan dari tamunya.
Maksud dari kedua cerita yang berbeda di atas adalah bahwa kita perlu memberikan perhatian pada tata cara leluhur kita menerima tamu, dan tentu saja ada tata cara dan etika kesopanan ekstra pula dari sang tamu. Tetapi di sini kita membicarakan tata cara yang perlu dilakukan sebagai seorang tuan rumah terhadap tamunya. Dalam peradaban leluhur, terlebih peradaban Veda, seorang tamu yang datang mengunjungi rumah seseorang harus dilayani dengan keramahan dan hormat yang baik.
Saya masih ingat di masa kecil dahulu, kalau keluarga saya ada kedatangan tamu ke rumah, orang tua saya segera meninggalkan segala kesibukannya di luar rumah dan berlari untuk secepatnya kembali ke rumah dengan penuh rasa riang dan hormat untuk menyambut kedatangan sang tamu yang berkenan bertandang saat itu. Tentu saja kita semua mengetahui kalimat indah dari Veda berikut ini, “Atithi devo bhava” Yaitu bahwa seorang tamu adalah perwujudan dewa bagi tuan rumah. Dan tamu yang benar adalah tamu yang tidak kita undang seblumnya, atau diminta untuk datang terlebih dahulu. Oleh karena itulah dipakai kata ATITHI, berasal dari kata “Tithi” yang artinya “tanggal”. Sedangkan awalan “A” berarti “tidak”. Jadi arti kata Atithi adalah hadirnya seorang tamu yang tidak tentu kapan datangnya. Artinya seorang tamu yang kedatangannya tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada pihak tuan rumah, mengenai rencana kapan ia akan datang bertamu. Itulah Atithi yang sebenarnya. Jadi, tamu tidak diundang itulah tamu yang sebenarnya. Hanya saja di Indonesia sebutan tamu tidak diundang itu telah menjadi bahasa kiasan untuk menunjukkan jika ada maling memasuki rumah seseorang.
Maharesi Canakya menyebutkan tamu dengan sebutan “Abhyagata” yang juga menunjukkan pengunjung alias tamu yang datang ke tempat kita tanpa memberitahukan terlebih dahulu akan rencana kedatangannya, tanpa memberitahukan sebelumnya kapan dan untuk apa ia datang. Resi Canakya menyebutkan "Sarvasyabhyagato Guruh” Artinya guru bagi semua orang adalah tamu, atau tamu adalah guru bagi semua orang.
Zaman dahulu orang-orang tidak memberitahukan terlebih dahulu akan rencana kedatangannya mengingat sarana komunikasi pada waktu itu sangatlah terbatas. Karena dahulu belum ada telephone, HP, atau Internet seperti yang saat ini merupakan sarana komunikasi yang sangat umum, bahkan hampir segala lapisan masyarakat telah menikmati kemudahan komunikasi seperti ini.
Demikian indahnya tradisi leluhur kita, namun kebanyakan dari tradisi-tradisi leluhur tidak sempat diwariskan kepada kita, karena dalam banyak hal langkah batin kita tidak searah dengan beliau.
Dengan hadirnya renungan ini, semoga para pe-Meditasi Angka mulai dapat mulai menempatkan pentingnya pelayanan dan penghormatan kepada tamu kembali pada tempatnya yang indah
Sriguru,
Darmayasa
Renungan no. 142
|