TEGAR DALAM KEDUKAAN (BAGIAN: 4) Posted by Darmayasa on 2009-05-09 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Sadarilah bahwa seluruh arah tersenyum ceria mengarah pada diri kita... Karena jika kita renungkan, pada kenyataannya untuk apa meratapi sesuatu yang tidak membuat hidup kita bahagia? dan pada akhirnya menyeret hidup orang lain juga ikut menjadi tidak bahagia? Tinggalkanlah ratapan cengeng seperti itu. Namun, karena kita adalah insan biasa, maka boleh saja meratap sebentar, tetapi jangan biarkan diri kita larut dan meratap untuk seterusnya, karena ia adalah pekerjaan orang-orang lemah dan bodoh. Segeralah bangkit dan tataplah masa depan yang dipenuhi divine love. Hidup kita ada disana, dan bukan dibawah timbunan sampah-sampah penyesalan...
Kalau kita tidak memperhatikan petunjuk-petunjuk dalam renungan kali ini, maka dapat dipastikan arah serta tujuannya kita semakin hari akan semakin suram.... dan... akhirnya ia akan menjadi matahari di senja hari... yang hanya menunggu waktu untuk jatuh tenggelam dan yang ada hanya gelap... dan tidak ada sesuatu yang lain yang dapat dilihat selain kegelapan. Tentunya pe-Meditasi Angka tidak akan mau membiarkan hidup kita berubah menjadi menyedihkan seperti itu.
Dalam setiap kesempatan, sesekali kita perlu dengan sengaja dekat dan bergaul dengan orang-orang suci, karena pergaulan dengan orang-orang suci sangat penting bagi kemajuan kesadaran spiritual kita. Kemudian jadilah batu karang, dan jangan jadi pondok bambu yang begitu mudah diterbangkan angin...
Kenal dan dekat dengan orang suci artinya sebuah jaminan menjadi batu karang di tepi samudera, di tepi laut, yang gagah perkasa dan tahan terhadap berbagai macam gempuran. Jangan bersimpuh hanya karena kedukaan kecil. Silakan berduka sebentar, tetapi jangan biarkan berlarut-larut menjadi gunung kesedihan.
Seandainya kita berduka karena ingat pada orang yang kita kasihi yang telah pergi meninggalkan kita, segera usir dan ganti dengan mengingat Tuhan, ingat Guru, ingat angka pilihan, atau apapun selain orang tersebut. Bukan berarti kita kita tidak mengasihi orang tersebut, tetapi kita tidak ingin menghalangi perjalanannya, dan kita tidak ingin berduka tanpa alasan.
Kalau kita biarkan diri terlalu lama meratap, maka ia akan menghalangi perjalanan orang yang telah pergi tersebut. Biarkanlah ia pergi menuju tempatnya yang baru dengan tenang. Karena jika kita tarik dalam kesedihan kita, maka ia akan terhambat perjalanannya. Itulah bentuk cinta kita pada orang yang kita kasihi, dan bukan dalam bentuk kedukaan yang malah akan meruntuhkan diri kita, dan juga menghalangi perjalanan orang lain.
Karenanya, dengan sesegera mungkin kita harus segera berubah menjadi ceria lagi.Sayangilah orang yang kita kasihi namun telah pergi itu dalam wajah orang-orang yang berada dekat di sekeliling kita saat ini. Ini merupakan pilihan yang jauh lebih baik daripada membiarkan diri meratap tenggelam dalam kesedihan secara berlebihan.
Para pe-Meditasi Angka pasti bisa melakukan ini semua, yaitu tetap mantap dalam segala terpaan masalah dan kesedihan. Bagi mereka yang percaya penuh dan telah menyerahkan diri sepenuhnya pada Guru Sejati/Tuhan YME, maka ia sama sekali tidak akan pernah mamakai kata “berusaha”, melainkan mantap dengan kalimat, “BISA”. Maka, kata “BISA” itu akan mengubah segalanya menjadi lebih baik, jauh lebih baik.
Semoga dengan perenungan kali ini, kita semua para pe-Meditasi Angka dapat lebih ringan melangkah, meniti perjalanan hidup, meski sesekali riak-riak gelombang menerpa dalam setiap langkah, tetapi kita akan tetap tegak menatap sambil melangkah setapak demi setapak, tanpa harus membiarkan diri terduduk lesu tanpa daya, bagaikan layang-layang kehilangan angin.
Semoga semua berbahagia.
... Selesai ...
Sriguru,
Darmayasa
Renungan no 139
|