Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Cd/vcd/dvd
Donasi
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
WASPADA UNTUK SELAMAT
Posted by Darmayasa on 2009-02-19
[ print artikel ini | beritahu teman ]

Salam Kasih,

Pada zaman edan, zaman yang penuh dengan segala jenis kekalutan seperti sekarang-sekarang ini, nampaknya kita patut menjadi waspada pada setiap orang. Ya…, waspada pada setiap orang, pada setiap mahluk, khususnya kita perlu sangat waspada terhadap diri kita sendiri. Mengapa? Karena Ia lengket, menyatu dengan diri kita dan ia berada di dalam diri kita sendiri, karena dialah yang berada paling dekat dengan diri kita sendiri. Ia perlu dengan sungguh-sungguh kita waspadai.

Dalam hal ini, kita memakai kata "waspada", dan bukan "curiga". Kedua kata itu memiliki perbedaan pengertian yang sangat tipis. Salah menempatkannya dapat menyebabkan terjadi salah paham besar antara teman dengan teman atau diantara orang-orang yang mempunyai hubungan lahir batin sangat dekat. Zaman Edan (Kali-yuga) ini bukanlah zaman seperti dahulu lagi. Zaman ini adalah zaman dimana kita hidup penuh dengan cobaan, tantangan dan halangan, tanpa mampu kita hindari. Setiap orang mengalami kedukaan. Setiap orang mengalami aib. Setiap orang dikelilingi oleh kesedihan. Setiap lirikan adalah halangan dan cobaan yang menawarkan kegagalan dalam perjalanan hidup kita, baik dalam tujuan-tujuan material, maupun pada jalan spiritual yang kita sedang tempuh.

Kewaspadaan memang sangat diperlukan. Bukan hanya kewaspadaan setiap hari, melainkan setiap saat, dalam setiap kedipan mata, dalam setiap keluar masuknya nafas, setiap lirikan, setiap jabatan tangan, setiap pandangan mata orang, bahkan pada setiap bacaan dan setiap "bisikan" yang bersentuhan dengan diri kita. Kewaspadaan memang merupakan suatu keharusan, atau lebih tepat dikatakan sebagai "BENTENG KEHARUSAN" untuk penjagaan dan penyelamatan diri. Kita tidak bisa lagi mengikuti langkah dan cara yang dilakukan oleh orang-orang tua kita terdahulu. Mereka tidak perlu waspada terhadap orang lain. Bahkan, kewaspadaan dan kecurigaan adalah dosa tak terampuni bagi mereka. Pada zaman itu, mereka tidak pernah mengunci pintu-pintu di rumahnya. Mereka membiarkan padi-padi hasil panennya berbulan-bulan berada di sawah, tetapi semuanya tetap terjaga aman dan selamat. Pada masa dahulu tersebut, mereka sama sekali tidak terganggu dan juga tidak mengganggu orang lain. Namun, pada zaman sekarang ini, jika kita menerapkan jalan dan langkah yang sama seperti yang beliau-beliau terapkan pada zamannya dahulu, maka kita pasti akan mengerutkan kening terus-menerus dan menghentakkan kaki ke atas tanah penuh perasaan kesal setiap saat.

Kalau di zaman serba tidak selamat ini kita tidak mengunci pintu gerbang dan pintu kamar-kamar di rumah kita, maka ia adalah sebuah kelalaian. Mengapa saya katakan sebagai sebuah kelalaian? Karena kebaikan dan keluguan serta penghargaan kita terhadap orang lain itu, justru akan menyediakan kesempatan bagi orang-orang jujur untuk berpaling dari kejujurannya. Dengan demikian, kita tidak akan membantu mereka untuk mempertahankan kejujurannya, kesetiaannya, kekeluargaannya dan rasa persahabatannya, tetapi kita malah akan menjadi orang yang menghancurkan sifat-sifat baik orang-orang di sekeliling kita. Mengapa? Sekali lagi karena mereka berbeda dengan orang-orang yang mempunyai daya tahan lahir batin sangat kuat yang dimiliki orang-orang pada zaman dahulu. Mereka tidak terbentuk secara karakter, sebagaimana para leluhur kita dahulu terbentuk. Mereka tidak lagi takut pada hukum karma-phala. Itulah yang menyebabkan mereka "tidak kuat" menerima segala jenis cobaan dan godaan untuk tidak "melirik" hak milik orang lain.

Leluhur kita adalah orang-orang yang sempurna dalam bentukan atau gemblengan sejak awal kehidupan mereka, dan mereka juga hidup di zaman yang segalanya serba mendukung kebaikannya. Tetapi, kita tidak beruntung terbentuk seperti mereka dan juga tidak hidup di zaman yang mendukung tumbuh berkembangnya sifat-sifat baik dan mulia. Kondisi lingkungan telah terkontaminasi secara serius. Karenanya hal ini memerlukan keseriusan kita pula untuk menyelamatkan diri beserta seluruh sifat-sifat baik kita. Barangkali ada sifat dan karakter yang muncul serta berkembangnya tidak lagi dalam bentuk seperti pada zaman dahulu, sebab tumbuh berkembangnya sifat-sifat mulia sekarang ini akan sangat banyak dibantu serta ditentukan oleh kesiapan lingkungan kita. Barangkali di suatu tempat, lingkungan kita belum siap menerima suatu keputusan sikap dan langkah kita, yang memaksa kita untuk lanjut menumbuh-kembangkan sifat mulia tersebut, tetapi dapat dalam bentuk yang kurang lebih bisa diterima dan/atau tidak "mengganggu" mereka. Oleh karena itu, kita memang tetap harus waspada terhadap lingkungan kita, termasuk terhadap pikiran-pikiran dan kecenderungan-kecenderungan diri kita pribadi. Sebab, kecenderungan-kecenderungan dan kerlap-kerlip pikiran kita pun sangat ditentukan oleh keberadaan dan maju atau mundurnya kesadaran lingkungan kita berada. Sikap waspada akan sangat membantu kita menyelamatkan diri dan kemudian menyempurnakannya di dalam jalan yang indah. Memang, ia kemungkinan akan dilihat orang sebagai sikap yang penuh kecurigaan. Tetapi, kalau toh ada yang menanggapinya seperti itu, maka kita harus siap dengan senjata bertuah kita, yaitu, "CUEK". Kita tidak ada urusan dengan segala sopan-santun sepihak, demi penyelamatan diri sejati kita.

Di sinilah manfaat Meditasi Angka. Kita akan mendapatkan bantuan kekuatan dan penyempurnaan ke dalam. Kita akan diperkuat dari dalam, kita akan disempurnakan dari dalam, kita akan dibentuk dari dalam, dan akhirnya kita akan menjadi orang yang cukup kuat berada di dalam berbagai gempuran dan hempasan gelombang-gelombang hebat kehidupan. Barangkali sekali-sekali kita akan terhempas juga, tetapi secara umum kita akan menjadi lebih kuat menghadapi berbagai godaan dan cobaan hidup. Dan kalau kita tekun serta bersungguh-sungguh di dalam menjalankan Meditasi Angka, maka "jaminan" dapat kita pastikan bahwa kita akan lebih banyak mendapatkan keselamatan dari hempasan-hempasan ombak besar kerhidupan daripada sebelum kita mempraktikkan Meditasi Angka. Semua itu di atas sangat ditentukan oleh keberadaan diri kita sendiri, karena tidak ada orang lain yang dapat membantu kita kecuali diri kita sendiri. Ya…, hanya diri kita, dan HANYA diri kita sendiri.

Mereka yang bersungguh-sungguh dalam usahanya mencapai tujuan hidup manusianya, maka suatu ketika mereka pasti “JADI”, mereka pasti mampu mencapainya. Namun kalau kita tidak bersungguh-sungguh, yah... kita akan mendapatkan seberapa..., tentu saja sejauh usaha-usaha yang kita lakukan tentunya, khususnya sejauhmana kita mampu waspada terhadap lingkungan dan diri kita sendiri.

Sriguru,
Darmayasa

Renungan no. 131











Godaan Spiritual (bag-1)
Peliharalah Badan Kita
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (3)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (2)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (1)
Tak Ada Yang Gagal
Tabloid Suluh Meditasi Edisi Nopember 2011
Kenapa Medang?
Dalam Baju Spiritual
Legenda Cinta Radha Krishna
Geliat Pembangunan Aula/wantilan Di Parama Dhama Denpasar
Bersama Guru Dalam Setiap Langkah
Menolak Kesempatan Emas (bagian 2)
Menolak Kesempatan Emas (bagian 1)
Teknik Menerima Berkah (bagian 2)
Teknik Menerima Berkah (bagian 1)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.2)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.1)
Sembah Sujud
Kucing Putih Di Parama Dhama

Gerakan Suryanamaskar