KEKUATAN SEBUAH SENYUM (BAGIAN 1) Posted by Darmayasa on 2009-01-30 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Teman-teman pe-Meditasi Angka, saya ingin mengawali renungan kali ini dengan sebuah penuturan dari apa yang saya lihat di suatu tempat di Bali, tepatnya di kantor Garuda, yang berada dekat lapangan Puputan, Denpasar.
Pada waktu itu, saya mengantar Dr. Amarjiva dan Madam Sophana Srichampa, Presiden dan Sekjen dari SSEASR, yang akan mengadakan Konferensi Internasional di Bali pada tanggal 3-6 Juni 2009. Konferensi ini dilakukan atas permintaan saya.
Selain penting apa yang akan dibicarakan di dalam konferensi, para sarjana kawakan yang akan membahas topik secara akademis, saya juga menginginkan agar para sarjana tersebut nantinya kembali ke negaranya masing-masing akan menjadi duta bangsa kita, duta pariwisata di negaranya masing-masing. Sebab, laporan-laporan media dan diplomat pasti jauh berbeda dengan laporan para sarjana tersebut, yang melihat dan mengalami langsung keindahan seni-budaya serta keramahan bangsa kita. Oleh karena itulah saya menyediakan waktu saya yang sangat sempit untuk mengantar mereka mengadakan negosiasi harga tiket Denpasar-Yogya-Denpasar untuk para sarjana yang ingin mengunjungi Borobudur dan Prambanan.
Saya jarang menyukai formalitas. Saya katakan pada Dr. Amarjiva dan Prof. Sophana Srichampa bahwa saya tidak ikut masuk ke kantor dan memilih untuk duduk-duduk di bawah pohon di dekat pos Satpam Garuda. Enak juga duduk-duduk dan "ngerumpi" bersama orang-orang di bawah pohon itu. Sayang tidak ada yang jual teh seperti biasanya di India, tempat duduk-duduk seperti itu biasanya ada yang jual Chae (teh susu).
Sambil cerita-cerita, saya tahu salah seorang yang duduk di sebelah saya menderita sakit tertentu, tapi saya tidak bercerita apa-apa agar mereka tidak "mengenali" saya. Akhirnya memang ia sendiri yang bercerita bahwa ia dulu pernah sakit selama sekitar empat tahunan berbaring, dan tubuhnya tinggal tulang terbungkus daging saja. Saat itu ia sedang menunggu (menjemput) istrinya yang bekerja di Garuda. Ia berbicara banyak tentang bisnis yang dijalankannya dan saya juga sempat meminjam HP nya untuk kontak anak saya, Hari, karena baterei kedua HP saya sedang down.
Di saat sedang asik bercerita-cerita ngalor-ngidul, tiba-tiba saya melihat ada seorang lelaki keluar dari kantor Garuda dengan wajah cemberut keras. Wajahnya betul-betul sangat "memprihatinkan" karena cemberutnya begitu serius, sepertinya sedang menghadapi masalah sangat berat. Tetapi, ketika ia menelepon kepada seseorang, ia ternyata berbicara dengan baik, seolah-olah tidak ada beban apa-apa.
Akhirnya saya teringat pesan-pesan terdahulu kepada teman-teman, bahwa kalau kita memelihara penampakan wajah seperti itu, ia akan memperlihatkan keberadaan kejiwaan kita dan juga kita akan menularkan kecemberutan itu ke wajah orang lain. Coba saja kalau kita berbicara dengan seseorang lalu kita tunjukkan mimik wajah yang cemberut sana-sini, maka orang orang di hadapan kita juga akan menunjukkan wajah yang sama kusutnya alias cemberut mesem.
Selanjutnya, kita ambil segi positif kejadian ini, yaitu hendaknya para pe-Meditasi Angka hendaknya tidak memelihara wajah seperti itu. Pelajarilah senyum, peliharalah senyum di bibir kita, karena senyum itu akan mengubah seluruh kejiwaan kita, dan juga lingkungan sekitar kita.
Jika kita berhasil menjaga senyum di bibir kita, maka kejiwaan kita akan terangsang untuk berada di dalam keriangan, dan setiap orang yang melihat kita juga akan terhiasi senyum dengan sendirinya. Untuk itu, pagi hari merupakan saat yang tepat untuk memulainya.
Awali dan sambutlah pagi hari dengan senyum. Sebarkan senyum itu ke semua orang di sekitar kita. Kemudian sebarkan senyum itu lebih meluas lagi kepada orang-orang yang kita kenal, terlebih dahulu kepada orang-orang yang berpikiran tidak baik pada diri kita, barulah kemudian kepada orang-orang yang berpikiran dan selalu berbuat baik terhadap diri kita, kemudian lebih meluas lagi kepada orang-orang terdekat kita.., seperti orang tua... anak istri....dan cakupkan tangan kita kepada energi-energi spiritual, yaitu keberadaan lain yang tidak dapat kita lihat dengan kasat mata duniawi kita.
Begitulah sepatutnya seorang pe-Meditasi Angka memulai hidupnya sehari-hari. Cepatlah tangkap kesempatan dan sebarkan senyum, serta taburkan kasih terutama kepada orang-orang yang berpikiran tidak baik kepada diri kita. Hati kita secara pasti akan menjadi terang kalau kita tersenyum, karena ia akan segera menghilangkan beban-beban yang menempel pada diri kita.
Kalau di kantor kita mendapati ada seseorang yang sedang cemberut.., ingatlah pada orang tersebut, lalu senyumlah ke arahnya. Usahakan tidak mengimbanginya dengan cemberut, tetapi dengan senyum. Dengan cara seperti itu, semua masalah berat akan lenyap dengan sendirinya. Itulah secuil informasi kecil akan kekuatan senyum kasih.
....bersambung ....
Sriguru,
Darmayasa
Renungan no. 129
|