KEDUKAAN SEJATI ADALAH MENIKMATI ORANG-ORANG YANG SEDANG MENIKMATI KEDUKAAN Posted by Tamtam Setiawan on 2009-01-05 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Setelah sekitar dua mingguan dibahas di milis kita, maka kini tibalah waktunya untuk menutupnya. Selamat dan Sukses di Tahun Baru 2009 untuk semua pe-Meditasi Angka dimanapun berada.
Inilah Renungan 081 terdahulu:
"Kedukaan sejati adalah menikmati orang-orang yang sedang menikmati kedukaan." (Darmayasa)
---o0o---
Bapak Herry Ermawan menulis:
Salam kasih,
Hanya yang bijak dapat mengatakan sedang menikmati kedukaan sebab
dalam kegelapan bathin kedukaan adalah penderitaan.
Dewi Kunti memohon agar selalu diberikan kedukaan agar selalu bisa
mengingat Shri Krishna. Demikian juga bagi insan manusia diberikan
kedukaan yang merupakan pukulan kasih dari Tuhan agar tidak
melupakaNYA.
Jika ada yg mencari keuntungan dari kedukaan orang lain yah mungkin
mereka benar-benar dalam kegelapan. Yang jelas kelak mereka akan
memetik pelajaran dari tindakan bodohnya. Lihat saja teman-teman kita
pejabat-pejabat yg memakan uang rakyat, satu persatu akan menikmati
sepinya hidup di penjara.
Yah..itulah siklus yg terjadi....senyumla h saksikalah hitam dan putih
selalu muncul di dunia. Pemedang selalu damai dalam dirinya baik dalam
suka dan duka...seharusnta demikian
Love
Bli Bagus
---o0o---
Diteruskan oleh tulisan Ibu Dayu:
Salam kasih,
Wah saya tidak pandai berbicara, pun tidak pandai berkata-kata indah seperti Pak Herry. Namun menikmati kedukaan kelewat sering semenjak masuk Meditasi Angka... dan memang kedukaan menyebabkan kita merasa sangat dekat dengan Tuhan dan menimbulkan rasa haru dan rasa yang amat sangat damai... Hanya sampai saat inipun kok saya rasanya belum bijak-bijak juga ya? heran..... Wah kapan ya bisa bijaksana seperti bapak dan kapan ya bisa tersenyum semanis senyumnya bapak ?...he..he.. .
hormat guru
bapakku terkasih.
---o0o---
Tulisan dari Saudara Tamtam sekaligus menutup pembahasan kali ini:
Salam Kasih,
Kedukaan yang kita hadapi sebenarnya bukanlah kedukaan, karena dibaliknya pasti ada berkah tersembunyi asalkan kita dengan tabah menjalani rintangan yang mengawali berkah tersebut. Contoh cerita tentang ini akan saya ceritakan paling akhir dari tulisan ini.
Kedukaan Sejati yang mungkin dimaksudkan dalam renungan kali ini, menurut pengertian saya adalah berbahagia melihat orang lain sedang ditimpa kedukaan/kesusahan. Atau mungkin bahkan kita yang dengan sengaja ataupun tidak sengaja menyebabkan orang lain mengalami kedukaan, dan kemudian kita senang karena telah berhasil menyebabkan orang lain mengalami kedukaan. Itulah kedukaan sejati, karena sebenarnya menari gembira diatas kedukaan orang lain adalah kedukaan sejati bagi diri kita sendiri.
Sesuai janji dalam paragraf pertama diatas, saya ingin membagi tulisan mengenai berkah dibalik kedukaan. Saat balik dari Bali Tanggal 1 Januari 2009 Kemaren, saya hampir tertinggal pesawat, karena sebelum berangkat saya mencoba menyempatkan diri membantu saudara yang bekerja sendirian di tempat sembahyangnya. Saat berangkat waktu penerbangan tinggal 1 jam 10 menit lagi, padahal jalanan menuju Bandara saat itu macet abis. Saya tiba tepat 15 menit sebelum pesawat berangkat, dimana penumpang lain sudah mulai Boarding. Karena tiket Promo, jika ketinggalan tidak bisa dipindah ke penerbangan jam berikutnya. Saat itu yang ada di kepala saya dan istri hanya memohon yang terbaik pada Dhuna Guru. Dan ternyata setelah bagian boarding negosiasi bisa juga saya ikut dalam penerbangan itu...bahkan kami berempat (saya, istri dan dua anak) mendapat upgrade seat dari ekonomi ke Executive Class. Bahkan saat memasuki gate 17, untuk masuk pesawat dimana orang-orang telah
dan sedang antri panjang... eh.. kami langsung masuk melalui Gate sebelahnya (18) yang tiba-tiba dibuka saat kami jalan cepat tanpa antri....Wah. .. benar-benar berkah... padahal tiket kami tiket Promo yang lebih murah dari tiket biasa, namun berkat melalui sport jantung dan berlari-lari bercucuran keringat dari taxi menuju ruang boarding karena nyaris ditinggal pesawat, akhirnya berkah itupun kami terima.
Terimakasih Dhuna Guru...., terimakasih Guru...., atas segala perlindungan dan berkah-berkah yang tampaknya tidak mungkin, tetapi menjadi sebuah hadiah spesial.... hanya setelah melewati sedikit kecemasan/rintangan .
Sriguru,
Tamtam
---o0o---
|