MEMASANG “MASKER” SPIRITUAL (BAGIAN: 1) Posted by Darmayasa on 2008-06-27 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Teman-teman sekalian, sebagai orang yang telah berbahagia mendapat kesempatan mempraktikkan Meditasi Angka, maka mengingat Angka Pilihan kita sendiri dengan sengaja adalah sangat penting diperhatikan. Karenanya, biasakanlah diri kita agar selalu hidup bersama Angka, kapanpun, dimanapun, dan dalam keadaan apa pun. Jangan pernah membiarkan pikiran kita diisi oleh hal-hal lain selain Angka Pilihan. Mohon diingat kembali bahwa Angka Pilihan adalah Angka yang telah di”siddhi”kan dengan teknik tertentu, telah di”program” serta telah di’sambung”kan dengan Nama Tuhan YME, sehingga ia telah menjadi sebuah “mantra” bagi yang bersangkutan. Ia tidak lagi merupakan angka kita yang dulu, yaitu angka yang kita pergunakan hanya sebagai hitungan belaka. Ia telah menjadi Angka itu sendiri, yang adalah Wujud Tuhan Itu Sendiri, yang adalah kekal dan penuh berkah. Hal ini sangat penting untuk selalu diingat dan ingatkan diri kita ke dalam, kalau kita masih tetap menginginkan kemajuan di dalam Meditasi Angka kita.
Berulang kali saya ingatkan dan tidak pernah bosan saya ulangi lagi dan akan ulangi lagi bahwa kita tidak punya waktu banyak untuk memperbaiki diri dalam hidup yang singkat ini. Tetapi, pada kenyataannya, ternyata kita punya waktu penuh untuk membiarkan diri kita jatuh ke dalam jalan yang salah, atau ke dalam kegelapan yang sangat pekat, namun pada saat yang sama kita menganggap diri kita sedang berada di jalan terang penuh berkah.
Detik demi detik dalam Meditasi Angka adalah waktu demi kemajuan diri. Jangan biarkan detik demi detik yang kita lalui itu adalah kejatuhan diri. Biarkan dunia menyanyi dalam alunan lagunya masing-masing. Kadang duka, kadang suka, kadang tawa, kadang menangis. Biarkan dunia sibuk dalam hiruk-pikuknya, tetapi anda sendiri jangan mencoba membiarkan diri menyanyi dalam alunan kehidupan seperti itu. Mungkin keadaan dan lain-lain memaksa kita menyanyi dalam berbagai alunan lagu seperti itu, yaitu alunan yang sama seperti apa yang dilakukan oleh mereka yang tidak melakukan Meditasi Angka, tetapi kita janganlah membiarkan diri kita larut terbawa oleh alunan lagu duniawi tanpa kita menyertakannya dengan Angka Pilihan bersama kita, serta tanpa kita menyertakannya dengan sebutan “Sriguru”, memanggil Guru Sejati kita (Tuhan YME) agar melihat dan menyelamatkan diri kita dari cengkeraman kegelapan maha gelap itu..
Kita mempunyai tanggung jawab indah seperti itu ke dalam diri kita sendiri. Oleh karena itulah saya menyampaikan kepada teman-teman: lupakan dan biarkan dunia menyanyi dengan alunan lagunya masing-masing.
Barangkali, kelihatannya petunjuk ini memberikan kesan dan pesan lain, yaitu kesan mementingkan diri sendiri. Tetapi, kecurigaan tersebut kita harus jawab dengan jawaban singkat, yaitu ‘ya’ dan juga ‘tidak’. Kita memang mementingkan diri sendiri, tetapi dengan cara dan tujuan yang benar. Kita tidak mengikuti emosional nonsense, melainkan kita melakukan sesuatu pementingan diri sendiri yang berada di jalan yang pas dan benar dan memang seharusnya seperti itu, jika kita menginginkan diri tetap berhasil maju di dalam usaha kesempurnaan sang diri.
Saya rasa semua pembaca Renungan ini pernah naik pesawat udara. Barangkali dalam hal ini, kembali saya ingin mengingatkan anda semua, termasuk diri saya sendiri, bahwa sebelum pesawat naik dan mengudara..., maka di hadapan kita akan berdiri pramugari. Para Pramugari itu akan menyampaikan cara-cara memasang sabuk pengaman yang ada di kursi pesawat, dan petunjuk-petunjuk keselamatan udara lainnya. Hingga akhirnya sampai pada pentunjuk yang memberitahukan petunjuk emergensi, yaitu kalau di dalam pesawat terjadi kekurangan atau penurunan oksigen, maka sang pramugari akan menjelaskan prosedur penyelamatan, agar kita mengambil masker oksigen yang terjatuh dan menggantung di atas kepala kita, untuk kita pasangkan di hidung kita masing-masing. Bagi mereka yang membawa anak-anak, dianjurkan agar mendahulukan memasang masker pada diri sendiri, kemudian barulah membantu memasangkan masker oksigen ke hidung anak-anaknya atau orang tua.
Itulah cara yang dianjurkan dan memang itulah cara yang tepat karena ia adalah cara yang cerdas. Ya..., itulah cara yang pas. Itulah cara yang masuk akal. Dan teman-teman sekalian..., seperti itu pulalah cara orang-orang yang mau pulang ke dunia spiritual.
Bagi mereka yang ingin menetap di dunia material penuh kesengsaraan ini, mereka bisa saja menyelamatkan orang lain untuk kemudian ia sendiri malah lunglai hingga kemudian hancur. Namun bagi mereka yang mau pulang ke dunia rohani, bagaimanapun ia harus mengutamakan untuk menyelamatkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Harus dan memang harus seperti itu. Oleh karena itulah tadi saya sampaikan, bahwa jawaban dari tuduhan kita mementingkan diri sendiri...adalah "ya" tetapi juga "tidak".
Teman-teman yang saya kasihi..., Jika kita tidak memasangkan masker di hidung kita sendiri terlebih dahulu, karena lebih mementingkan menolong orang lain, maka pada saat kita sedang bersemangat menolong orang lain, kita sendiri yang akan mati lemas kehabisan oksigen. Lalu kita akan terseok ambruk...bagaikan bangunan WTC di New York yang ambruk dalam sekejap pada serangan teroris di A.S. beberapa tahun lalu, yang kita semua sempat memirsa kejadiannya di televisi.
Pada kenyataannya, memang seperti itulah keadaan orang yang ambruk karena menolong orang lain tanpa membuat dirinya menjadi kuat terlebih dahulu. Dalam hal ini... menolong orang lain secara emosional nonsense adalah tidak sempurna, kalau tidak boleh dikatakan merupakan cara yang salah atau cara yang bodoh.
Contoh lain adalah, ketika baterai Hand Phone kita sudah down, boleh saja kita men-“charge” baterai sambil tetap memakainya. Tetapi, kita akan mengalami kesulitan, seperti terkadang pembicaraan terputus dan kita harus menunggu dua menit untuk bisa tersambungkan kembali, lalu kita cabut untuk bisa berbicara dua atau tiga menit lagi. Dan dengan cara men-“charge” baterei seperti itu, baterai Hand Phone kita tidak akan bisa bertahan lama. Cara yang lebih selamat adalah di malam hari kita matikan Hand Phone dan charge penuh sekitar 6 – 8 jam. Dengan cara seperti itu, baterai dapat dipakai dalam waktu maksimal. Seingat saya, dengan cara seperti itu, saya belum pernah membeli baterai baru untuk Hand Phone yang telah saya pakai sejak tahun 2000/2001, dan sekarang sudah memasuki pertengahan tahun 2008.
... Bersambung ...
Sriguru,
Darmayasa
Renungan no 124.
|