RINDU DIRIKAN PUSAT MEDITASI DI BALI Posted by Admin on 2004-08-09 [ print artikel ini | beritahu teman ]Menjemput Berkah Sang Hyang Naga Tiga di Goa Raja
Dalam sastra agama Hindu tertulis maupun tradisi lisan yang berkembang di Bali menyebutkan Pura Goa Raja merupakan tempat pesamuhan (pertemuan) Sang Hyang Naga Tiga yakni Sang Hyang Naga Anantabhoga, Naga Basuki, dan Naga Taksaka. Masing-masing dari ketiga ini memiliki tempat suci sendiri-sendiri di kawasan Pura Agung Besakih. Di tempat tersebut, umat memohon kesejahteraan, keselamatan dan kerahayuan.
Sang Hyang Naga Anantabhoga berstana di Pura Bangun Sakti, Sang Hyang Naga Basuki berstana di Pura Basukihan dan Sang Hyang Naga Taksaka berstana di Pura Pangubengan, ketiga-tiganya bertemu di Pura Goa Raja.
Disebut Pura Goa Raja, karena di lokasi pura memang terdapat sebuah goa batu besar, dikenal dengan nama Goa Raja. Diyakini, Goa Raja ini hilirnya tembus dengan Pura Goa Lawah (Klungkung) sedangkan hulunya tembus hingga ke kepundan Gunung Agung. Pada Goa Raja ini terdapat pelinggih penting bagi kesejahteraan manusia Bali yaitu pelinggih Ida Bhatara Rambut Sedana. Dimana dalam tradisi berkeagamaan di Bali, Bhetara Rambut Sedana dipuja sebagai Dewi Kesejahteran yang menganugerahkan harta kekayaan, emas perak (sarwe mule), permata, dan uang (dana) kepada manusia. Hingga kini masyarakat Hindu di Bali secara ajeg memperingati hari pemujaan khusus kepada Bhetara Rambut Sedana pada Buda Cemeng Klawu. Hari itu pula odalan di Pura Goa Raja, bersamaan odalan di Pura Basukihan di Besakih.
Dengan demikian, lengkaplah areal (pelebahan) di Pura Goa Raja ini sebagai titik sentral tempat pemujaan Hyang Widhi sebagai penganugerahan kerahayuan dan kesejahteraan bagi segenap manusia di Bali. Dengan demikian, menjadi sangat jelas pula keterkaitan antara Pura Bangun Sakti, Pura Basukihan, dan Pura Pengubengan dengan Pura Goa Raja di Besakih. Sesuai dengan sumber tertulis lontar Kusumadewa.
Dalam lembar ke-51, lontar tersebut diungkapkan tentang keberadaan Bethara di Bhuana Agung (Jagatraya). Ada Gunung yang bernama Mahameru (dari kata Maha berarti Agung dan Meru artinya Gunung sehingga Maha Meru juga berarti Gunung Agung).
Puncaknya menggapai angkasa, sedangkan pangkal dasarnya menembus Sapta Patala (7 lapisan bumi). Tempat inilah merupakan tempat pertemuan para dewata menciptakan baik (ayu) dan buruk (ala) di jagatraya ini. Gunung ini dibelit (kinulilingan) oleh Sanga Naga Tiga yang terbawah (sor) Sang Hyang Naga Anantabhoga, beliau perwujudan dari Bhetara Brahma. Sedangkan yang di tengah-tengah (Madya) adalah Sang Hyang Basuki, merupakan perwujudan Bhetara Wisnu. Adapun yang di puncak adalah Naga Taksaka perwujudan Bhetara Iswara, itulah yang menyebabkan adanya tiga kahyangan (pura, tempat suci), masing-masing pura Bangun Sakti di bawah (Sapta Patala), Pura Basukihan di madya (ditengah) di pura di puncak bernama Pura Pengubengan di puncak (tungtung), dan ketiganya ini bertemu di Goa Raja, sehingga Goa Raja di dalam lontar Kusumadewa diistilahkan dengan Kahyangan Pesamuhan Naga Tiga, tempat suci pe rtemuan Sang Hyang Naga Tiga. Sejumlah tokoh spiritual, salah satunya Guru Ji Acharya Kamal Kishore Goswami sangat percaya pura ini memiliki kekuatan magis (spirit). Makanya, tokoh meditasi ini mengutus Prabhu Darmayasa untuk tangkil ke Goa Raja didampingi Ida Pandita Mpu Nabe Acharya Dhaksa dan sejumlah pengikut meditasi angka. Setelah meditasi, Mangku Kubayan Manik Arjawa mencomot sejumlah batu yang ada untuk kemudian dibungkus dengan kain merah hitam dan putih. Berkah tersebut nantinya akan dibawa ke India dan juga untuk dasar pendirin pusat meditasi di Bali. Sayang, rencana pendirian pusat meditasi belum bisa diwujudkan segera, lantaran dana belum mendukung. Prabhu Darmayasa yang sangat merindukan adanya pusat meditasi di Bali kerap tertegun bahkan kadang menanggalkan berbagai aktivitas bila diajak diskusi tentang reka-reka pembangunannya. “Lewat media ini, semoga yang berkecukupan dibukakan hatinya untuk turut memikirkan rencana ini dan yang belum beruntung cukup memberikan dukungan moril,” harapnya. Bila pusat meditasi itu berhasil diwujudkan, lanjutnya, berarti kita sudah memberikan jalan kebaikan bagi jutaan umat manusia, dan itu tidak bisa dinilai dengan apa pun. Prabhu Darmayasa mengatakan belakangan kasih orang cenderung mengelompok, memanjakan kasih dengan lawan jenis dan tidak universal. “Hidup kita yang sangat singkat jangan disia-siakan, gunakan untuk mengasihi sesama demi damainya kehidupan,” paparnya. Mangku Kubayan Manik Arjawa sepakat untuk terus mengupayakan terciptanya perdamaian secara niskla.
“Saya dukung dan terus memohon kepada beliau,” paparnya, menanggapi ajakan Prabhu Darmayasa. (*)
|