MEMBENTENGI DIRI MELALUI MEDITASI ANGKA (BAG. 5) Posted by Darmayasa on 2008-06-20 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Guru Drona, setelah melihat ke-"ekagrata"-an konsentrasi Arjuna, akhirnya memerintahkan untuk melepaskan anak panahnya. Drona mengetahui bahwa ketika seorang siswa berhasil memiliki konsentrasi seperti itu, maka yang akan terjadi adalah dan hanyalah keberhasilan.
Ketika seorang Guru mengetahui bahwa konsentrasi siswanya masih didalam tingkat "bercabang" alias mencar, tersebar kemana-mana ke seluruh arah mata angin, maka sang guru akan dengan sangat manis mempersilakan muridnya untuk duduk, istirahat. Sang guru tidak akan membentak muridnya, melainkan akan memperlakukannya sebagai seorang putra raja, putra mahkota yang baik. Tetapi mungkin juga kalau Guru bertemu dengan belasan murid seperti Bhima yang tidak menunggu perintah Guru, tetapi "mem-bisa-kan" diri..., ingin pamer/unjuk kepintaran di depan gurunya, serta mematahkan sekian busur..., maka sang guru tidak akan memaafkan dirinya sebagai seorang guru pembimbing kalau sampai tidak memarahi muridnya.
Pada tahapan ketika kita belum mencapai tingkat tertentu, khususnya tingkat "siddha", maka sebaiknya kita meniru, atau mengikuti jejak Arjuna, yang walaupun ia sudah memiliki konsentrasi dan kemampuan yang pasti untuk meraih keberhasilan, namun ia tetap menunggu perintah gurunya. Kalau gurunya mengatakan tidak atau jangan, maka ia tidak akan serta merta melepaskan anak panahnya. Begitu pula kalau guru mengatakan "lakukan", maka kita harus segera melakukannya tanpa banyak pertimbangan pribadi. Sebab di hadapan perintah guru, segala pertimbangan pribadi kita seringkali akan menghalangi keberhasilan perintah guru. Mengapa? Karena, pertimbangan kita adalah sangat terbatas, sedangkan "pandangan" guru adalah pasti.
Kalau kita diberikan tugas oleh guru, hendaknya jangan menunggu sampai guru menanyakan sampai dimana tugas tersebut. Usahakan agar guru tidak menanyakan bagaimana hasil tugas yang diberikan guru, apakah sudah selesai atau belum...?
Untuk diri sendiri, kita perlu merenungkan dengan cara seperti ini; bahwa kita belum sampai ke tingkat "layak" untuk mengikuti langkah-langkah Arjuna. Kita masih berada di level Duryodhana dan yang lain-lainnya.
Mengapa saya meminta teman-teman semua agar menempatkan diri di dalam level Duryodhana dan bukan level Arjuna? Karena, saya tdk menginginkan teman-teman memaksakan diri menganggap diri sudah maju. Lebih baik kita memegang kesadaran “tunduk hati” alias Low Profile.
Jika kita mengembangkan kesadaran bahwa diri kita sudah maju dalam Spiritual, padahal kita belum berhasil mengetahui keberadaan "bayangan" sasaran anak panah kita, alias bayangan tujuan hidup sejati kita pun kita belum tahu, dimana kita masih menginginkan seluruh obyek kepuasan indria datang dan menjadi milik kita, seperti halnya dengan Duryodhana yang melihat keseluruhan pohon, dahan ranting kupu-kupu, atau ada burung hinggap di cabang pohon, atau ada ulat bergerak meliuk-liuk di atas satu daun pohon, atau melihat bayangan pohon besar di atas tanah, ya.., kita masih menginginkan segala kepuasan dunia menjadi milik kita, tetapi di saat yang sama, hanya dengan berbekalkan mengetahui ilmu meditasi dari berbagai bacaan-bacaan meditasi, mendengar penuturan orang lain tentang meditasi, dan lain-lain, kita telah berani menganggap diri kita sudah maju dan berhasil di dalam meditasi.
Sebelum memasuki kumpulan meditasi, di kepala kita terdapat berbagai bayangan kenikmatan duniawi, misalnya berharap kalau saya ikut meditasi ini, maka saya akan mendapat cewek cantik, mendapat kawan banyak yang siap saya ajak bisnis, mendapat pekerjaan, mendapat kesaktian, dapat ilmu terbang, dan lain-lain, yang jumlahnya mengakar dan bercabang dengan subur.
Kita bahkan sama sekali tidak ingin seperti Arjuna, untuk berusaha memusatkan pikiran hanya pada tujuan kita bermeditasi. Tanpa disadari, kita memaksakan diri kita memasuki meditasi hanya untuk lebih membuat diri kita terlempar jauh... sangat jauh dari meditasi itu sendiri. Demikian pentingnya perihal mengusahakan konsentrasi yang baik dan tajam di dalam pencarian spiritual melalui meditasi, demi keberhasilan meditasi angka, demi keberhasilan hidup kita, dan demi keberhasilan penjelmaan kita menjadi MANUSIA.
Kalau saja pada saat- saat, atau detik detik akhir dari perjalanan hidup manusia kita di mayapada ini kita manfaatkan dengan konsentrasi yang baik pada tujuan hidup, maka ia akan memberikan jaminan untuk pencapaian tujuan maha besar.
Kematian tidak akan menunggu hingga usia seratus atau dua ratus kita lewati, melainkan kematian bisa datang kapan saja, setiap saat, dan setiap kesempatan. Oleh karena itu, usahakanlah mengintip kesempatan demi kesempatan untuk memperkuat dan menyempurnakan diri kita ke dalam. Hanya pemantapan ke dalam sajalah yang akan menjamin kemajuan spiritual seseorang, bukan sebaliknya pemantapan serta kemeriahan yang tampak dari luar...
Dengan mendisiplin diri untuk mengingat dan memprogram angka pilihan kita masing-masing dengan baik serta tekun, maka semua ini akan menjadi "kavaca" atau baju yang memberikan perlindungan sempurna bagi kita, yaitu perlindungan lahiriah dan juga batiniah...
Kita memang memerlukan perlindungan sempurna, dan ia bisa diberikan oleh meditasi angka, melalui ketekunan memprogram angka pilihan masing-masing setiap saat dan kesempatan.
Demikianlah Renungan kali ini, semoga anda semua berbahagia
... Selesai ...
Sriguru,
Darmayasa
|