MEMBENTENGI DIRI MELALUI MEDITASI ANGKA (BAG. 4) Posted by Darmayasa on 2008-06-13 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Drona melangkah ke hadapan para murid-muridnya, dan memanggil Duryodhana: "Kamu Duryodhana... bentangkan panahmu....".
"Siaaaappppp guru...." Duryodhana segera mengambil dan membentangkan panah, seraya mengarahkannya ke arah burung-burungan di atas pohon itu.
Drona bertanya, "Duryodhana.... apa yang kamu lihat?" Duryodhana menjawab tegas dan lantang, "Saya melihat pohon guru......, rindang sekali daunnya, menghijau... ada buah dan bunga juga....".
Drona berkata, "Duryodhana, kendorkan tali gandiwamu..., ambil anak panahmu, kembalikan ke tempatnya...dan duduklah...". Duryodhana pun meletakkan panahnya lalu dengan patuh kembali duduk ke tempatnya semula.
Kemudian Guru Drona memanggil Yudhisthira, yang tertua dari Lima Pandawa. Ketika ditanya apa yang ia lihat, Yudhistira menjawab, "Ya guru..., saya melihat burung, ekornya manis, hinggap di ranting....".
"Nak Yudhisthira... kamu duduklah..." Akhirnya Yudhisthira kembali ke tempatnya.
Tiba-tiba Bhima maju ke depan dengan langkah-langkahnya yang begitu menggetarkan, dan setiap langkah pasti menyemprotkan debu. Sebelum diperintahkan oleh gurunya, Bhima Sang Wrekodara (yang perutnya buncit karena kuat makan) berdiri tegak dan mengambil posisi siap dengan membentangkan gandiwanya.... Tiba-tiba terdengar bunyi keras..... kkkrrruuaaaaakkkkkkkkkk...... ternyata gandiwanya patah....
Drona tersenyum, melangkah ke arah Bhima berdiri sambil menepuk-nepuk pundak muridnya, "Nak Bhima, kau duduklah..."
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang datang dari arah duduk kelompok Kaurawa. Mereka memprotes Guru Drona, mengapa pandawa yang diberikan kesempatan lebih banyak untuk maju ke depan mencoba memanah burung itu?
Guru Drona mengerti, lalu memerintahkan agar setelah Bhima, maka Kaurawa dipersilakan maju satu persatu ke depan.
Ternyata, Dussasana dan saudara-saudaranya semua, termasuk juga Ashwattama, tidak ada yang berhasil memanah mata burung tersebut. Semua yang ditanyakan oleh Drona Acharya ternyata semuanya memberikan jawaban yang salah kepada Drona, ada yang melihat kaki burung, ada yang melihat ranting pohon dimana sedang hinggap dengan manis kupu-kupu cantik, ada yang melihat sarang burung di salah satu cabang pohon, dan lain-lain.
Akhirnya tibalah giliran Arjuna untuk maju ke depan. Semuanya telah mengetahui kelebihan Arjuna dalam ilmu panah. Suasanapun menjadi sangat hening. Bahkan angin pun ikut memperlambat lajunya agar tidak mengganggu ketenangan suasana. Rupanya angin juga ingin menyaksikan bagaimana sang raja pemanah membidikkan panah saktinya ke arah sasaran.
Arjuna melangkahkan kakinya maju ke depan dengan tenang tetapi tegak dan gagah, menandakan langkah-langkah kaki itu adalah langkah kaki seorang ksatriya sejati. Arjuna berdiri tegak di dekat gandiwa dan panahnya. Ia memandang ke atas pohon, matanya memandang tajam. Meski kelihatan sangat serius, tetapi bibirnya tetap terhias senyuman, yang menandakan keyakinan seorang ksatriya.
"Anakku Arjuna..., apakah kamu sudah siap?" Tanya Guru Drona kepada Arjuna.
"Siap Guru..." Arjuna menjawab singkat sambil tetap memandang ke atas pohon.
"Apa yang kamu lihat Arjuna?" Tanya Drona Acharya.
"Guru..., saya melihat mata burung..."
"Selain mata burung, apa lagi yang kau lihat anakku?" Drona Acharya melanjutkan pertanyaannya.
"Tidak ada Guru..., saya tidak melihat apa pun yang lain..." Jawab Arjuna sambil membentangkan gandiwa dan mengarahkan anak panahnya ke arah sasaran.
"Baiklah..." Guru Drona melanjutkan kata-katanya. "Sekarang...ya...sekarang...kau lepaskan anak panahmu..."
"Ssyyutttt........" Bunyi anak panah yang dilepaskan oleh Arjuna, melesat dengan kecepatan sangat tinggi, dan.... gemuruhlah suara dan teriakan kegirangan dari semua siswa, kecuali beberapa orang Kaurawa yang kelihatan cemberut, karena tidak suka akan keberhasilan Arjuna.
Demikian, dalam cerita ini kita dapat memetik pelajaran sangat penting mengenai perlunya mengusahakan konsentrasi yang baik. Kita hendaknya berusaha mengikuti cara konsentrasi yang dilakukan oleh Arjuna, dan bukan konsentrasi seperti yang dilakukan oleh Duryodhana, Bhima dan lain-lainnya.
Konsentrasi Arjuna terfokus dengan sangat baik dan mantap, sedangkan konsentrasi Duryodhana dan yang lain-lainnya, semuanya pada buyar dan mencar kesana-kemari. Mereka semua memusatkan pikiran dan perhatiannya pada banyak obyek sekaligus. Dan di sanalah letak kegagalannya.
Sedangkan arjuna, konsentrasinya terpusatkan pada satu titik sasaran dengan mantap. Hal ini dibuktikan ketika ia ditanya oleh Guru Drona, Arjuna dengan tegas mengatakan bahwa dirinya tidak melihat apa pun yang lain selain mata burung. Arjuna tidak melihat telinga, sayap, atau kaki burung. Arjuna tidak melihat cabang dan ranting tempat burung itu hinggap. Arjuna tidak melihat pohon besar dan rindang. Arjuna hanya melihat mata burung. Titik. Dan tidak ada apapun yang lain yang dilihatnya.
... bersambung ...
Sriguru,
Darmayasa
Renungan no 122
|