Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Donasi
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
Cd/vcd/dvd
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
BERTUTUR-KATA MANIS MENARIK DALAM KEBENARAN (BAGIAN 3)
Posted by Darmayasa on 2008-04-18
[ print artikel ini | beritahu teman ]

Salam Kasih,

Tuhan telah berkenan memberikan bibir begitu indah kepada kita, tetapi kita harus tahu bahwa kegunaannya bukan untuk dipakai berbohong, bukan untuk membual, bukan untuk memuaskan orang di hadapan kita secara remeh. Tidak..., bibir itu indah karena ia harus dipergunakan untuk berkata-kata yang indah, manis, jujur dan selalu berisikan kebenaran ...ya...kebenaran sejati. Sepanjang kita tidak mempergunakan bibir kita untuk membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan spiritual, maka kita belum mengerti nilai keindahan hadiah bibir tersebut.

Saya sangat menikmati pengalaman saya dahulu di tepi Sungai Gangga sekitar tahun-tahun 1984-1985-an, yaitu dengan menghafalkan sloka-sloka atau ayat-ayat indah dari kitab berbahasa Sanskerta, yaitu: “Satyam vada dharmam cara”. Satyam vada artinya berkata-katalah kebenaran selalu, pergunakanlah bibir kita untuk berkata atau menyampaikan hal-hal kebenaran senantiasa. Jangan pergunakan dia untuk bermani-manis di mulut tetapi berlainan dengan apa yang ada di dalam hati..., karena pada akhirnya lambat laun orang-orang akan mengetahui kebohongan kita. Maka dari itu, lebih baik satyam vada, yaitu berkata-katalah selalu tentang kebenaran, jangan bohong, jangan membicarakan hal-hal kebohongan. Apa yang satyam dan apa yang bohong, hal ini perlu diperhatikan lebih jauh.

Satyam atau kebenaran itu sangat luas, sangat pelik tetapi pasti. Untuk mudahnya kita memagari diri agar sebisa-bisanya kita tetap berada didalam jalan kebenaran, maka cukup mengertikan bahwa segala hal-hal yang diluar Tuhan....., maka ia adalah kebohongan. Seindah apa pun... obrolan bale banjar... atau obrolan warung kopi...., maka ia tetap adalah asatyam, bukan kebenaran sejati, dan jangan sekali-kali mecoba menghias indah obrolan warung kopi tersebut lalu mengkemasnya dalam kata Satyam. Sebab usaha tersebut hanyalah sebuah usaha bersia-sia ria. Memang pada saat melakukan obrolan warung kopi tersebut kita akan mendapatkan keceriaan untuk sementara, tetapi tanpa kita sadari, ternyata kita telah menghambur-hamburkan energi spiritual secara sia-sia belaka.

Kapan kita bersemangat dalam membicarakan hal-hal diluar satyam..., diluar spiritual...., maka tanpa sadar kita telah “memeras” diri kita untuk ditempatkan dalam kesedihan dan kelemahan. Mengapa?! Sebab tidak lama kemudian, setelah kita bersemangat dalam kesibukan bertutur di warung kopi, maka kita segera akan menjadi lemas, merasa sedih tanpa alasan, atau mendadak merasakan seperti ada sesuatu yang kurang di dalam diri kita entah apa itu, kita sendiri akhirnya tidak tahu. Oleh karena itulah... kita jangan terjebak dengan bersemangat bercerita atau berdiskusi dalam hal-hal duniawi, tetapi sebaliknya bersemangatlah dalam berdiskusi akan hal-hal spiritual.
Lebih jauh dari hal itu, yang lebih baik lagi adalah melakukan pelayanan spiritual. Hanya pelayanan yang tulus ikhlas sajalah yang secara pasti akan mengangkat spiritual kita. Dalam pelayanan yang tulus ikhlas tidak ada pertimbangan kesalahan atau kekurangan. Tetapi dalam praktik-praktik spiritual..., terdapat banyak aturan dan peraturan yang harus kita penuhi. Kalau tidak, maka hasilnya tidak akan didapat secara meksimal. Bahkan jika terdapat kesalahan-kesalahan didalam mengikuti aturan-peraturan tersebut, maka yang terjadi adalah kita akan mendaptkan hasil terbalik yang justru menurunkan kita dari jalan spiritual yang sedang kita tempuh.

Melakukan pelayanan merupakan jalan yang lebih indah dan lebih baik, serta bebas dari celah melakukan kesalahan, daripada melakukan praktik pejam mata tetapi pikiran terbang ke sana kemari membawa serta berbagai keinginan-keinginan duniawi.

Ada banyak kesempatan melakukan pelayanan. Melakukan pelayanan di center misalnya..., ia adalah sepenuhnya spiritual, dan ia adalah pertapaan. Bentuk pelayanan memang sangat luas. Kunci indah dan sederhana mengertikannya adalah, pelayanan berarti mengerjakan perintah guru, pelayanan adalah melaksanakan kata-kata guru, pelayanan berarti mematuhi wejangan-wejangan dan petunjuk-petunjuk serta nasihat-nasihat yang keluar dari bibir indah sang guru.

Barangkali kita bisa mendapatkan jenis-jenis pelayanan lain dari buku-buku, tetapi pelayanan sejati adalah pelayanan yang diberikan, atau diperintahkan, atau diwejangkan, atau diinspirasikan oleh sabda-sabda guru. Disuruh menyapu... ya menyapulah..., disuruh ngepel... ya mengepellah. Pelaksanaan sederhana tetapi penuh bhakti itu jauh melebihi nilai praktik pejam mata atau ritual ini-itu, yang sering membuat orang "kagok" atau heran terperangah.

Praktik spiritual kita dalam Meditasi Angka adalah praktik dalam hati dan mengurangi atau tidak begitu memperlihatkan praktik diluar, yang sering berubah menjadi praktik pertunjukan badut. Nah, selain kita tidak berkata-kata yang berada diluar kebenaran..., juga dianjurkan “satyam bruyat...”, yaitu bertutur bahasalah selalu mengenai segala hal-hal kebenaran. Tetapi...., sampaikanlah tutur-kata tersebut dalam bentuk yang manis menarik.... “Satyam bruyat... priyam bruyat....”, priyam artinya manis menarik dan menyejukkan hati orang yang mendengarkannya. Keindahan bertutur kata seperti inilah yang hendaknya dipelajari oleh mereka yang ingin mempraktikkan Meditasi Angka. Saya akan sangat menghargai usaha seperti itu dari pe-Meditasi Angka.

Saya banyak mendapat email dan permintaan untuk mengajar meditasi, atau membangkitkan kundalini, atau ajakan diskusi masalah-masalah kundalini, atau ada juga yang ingin di-diksa menjadi murid. Dalam hal ini, saya tidak begitu tertarik.... Mungkin mereka bangga menjadi murid atau sisya, tetapi saya tidak berbangga mengambil murid atau sisya. Siapakah murid/sisya di dunia Maya (khayalan, kepalsuan) ini???
Siapakah Guru di dunia Maya ini???? Dan selain hal itu, mereka kebanyakan datang dengan memegang kehebatan dirinya.

Beberapa diantara mereka datang dan bercerita bahwa: “saya begini/begitu, saya bisa begini/begitu”, atau walaupun mulutnya diam, tetapi saya bisa mengerti bahwa hatinya berbicara banyak bahwa dirinya bisa ini/itu, mampu ini/itu dan hendak berdiskusi, plus kadang hendak menguji saya. Dalam hal ini, saya lebih sering memilih untuk tidak memboroskan waktu berharga saya. Walaupun sekali-sekali saya temani mereka berdiskusi. Namun, tetap saya memilih untuk tidak memberikan waktu berharga saya untuk diboroskan begitu saja sia-sia. Kalau saja mereka datang untuk berubah, saya akan sangat senang menemani mereka. Tapi kalau mereka datang untuk menambah kebanggaan diri, maka saya tidak akan ikut serta didalam pesta pora kebanggaan palsu tersebut. Saya lebih tertarik memberikan perhatian pada teman-teman yang sibuk melakukan pelayanan tanpa menginginkan melihat sinar ini/itu, tanpa menginginkan dirinya bisa mengobati orang sakit ini/itu, atau bisa membangkitkan cakra ini/itu, atau bisa melihat masa depan orang ini/itu, dan lain-lain yang kesemuanya bagi saya hanyalah sampah busuk yang tidak artinya sama sekali, alias sedikitpun tidak membuat saya tertarik.

Kalau ada yang mengatakan kundalini-nya sudah bangkit..., silakan dan selamat berbahagia. Kita tidak ada urusan dalam hal itu, karena kita hanya tertarik pada mereka yang ingin menjadi tunduk hati di dalam usaha meningkatkan spiritualnya. Saya hanya tertarik kepada mereka yang bertutur-kata manis menarik di dalam pembicaraan spiritual dan bukan dalam cerita-cerita indah duniawi. Telinga saya bukan untuk itu. Waktu yang saya berikan bertemu orang bukan untuk itu. Saya mempunyai waktu sedikit yang sangat berharga bagi saya.

“Na bruyat satyam apriyam...”, selanjutnya diberikan tuntunan lebih jauh... janganlah bertutur kata yang mengandung kebenaran tetapi menyampaikannya lewat “apriyam...” atau menyampaikannya melalui cara yang tidak manis menarik, atau menyakiti hati orang lain..., tetapi sebaliknya, “priyam ca nanritam bruyat”, yaitu janganlah bertutur kata yang manis menarik, tetapi yang tersembunyi di dalamnya penuh dengan kebohongan, atau penuh dengan hal-hal duniawi. “Priyam ca...” dan juga anda berbicara, atau menuturkan, atau menceramahkan, atau mendiskusikan semua itu hendaknya dengan cara bertutur kata yang sangat manis menarik. Tetapi “na anritam...” janganlah bertutur kata atau berdiskusi hal-hal yang tidak di dalam jalan kebenaran, atau hal-hal yang berada diluar pesan-pesan spiritual divine love, atau menjauh dari usaha peningkatan lahir-batin kita.
Sekali kita memasuki alam meditasi, jadilah terbaik yang dapat kita raih. Untuk itu, ada yang perlu kita buang dan ada yang perlu kita tambahkan didalam keseharian kita, lewat Samkalpa.

…Selesai…

Sriguru,
Darmayasa











Godaan Spiritual (bag-1)
Peliharalah Badan Kita
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (3)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (2)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (1)
Tak Ada Yang Gagal
Tabloid Suluh Meditasi Edisi Nopember 2011
Kenapa Medang?
Dalam Baju Spiritual
Legenda Cinta Radha Krishna
Geliat Pembangunan Aula/wantilan Di Parama Dhama Denpasar
Bersama Guru Dalam Setiap Langkah
Menolak Kesempatan Emas (bagian 2)
Menolak Kesempatan Emas (bagian 1)
Teknik Menerima Berkah (bagian 2)
Teknik Menerima Berkah (bagian 1)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.2)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.1)
Sembah Sujud
Kucing Putih Di Parama Dhama

Gerakan Suryanamaskar