BERTUTUR-KATA MANIS MENARIK DALAM KEBENARAN (BAGIAN 2) Posted by Darmayasa on 2008-04-11 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Mereka yang bersemangat melaksanakan meditasinya hanya karena semangat orang lain, sesungguhnya ia belum menginjakkan kakinya pada jalan meditasi. Mereka tidak bertambah semangat karena ribuan atau jutaan orang datang bermeditasi, dan ia juga tidak kehilangan semangat ketika satu orang atau bahkan tidak satu pun orang datang menemani dia bermeditasi. Ia tidak akan bersemangat melaksanakan meditasinya ketika Guru Sejati (Tuhan YME) memenuhi segala keinginannya, dan ia juga tidak akan kehilangan semangat melaksanakan meditasinya ketika (ia tidak melihat) Guru Sejati memenuhi keinginan-keinginannya. Ya..., ia tidak bermeditasi karena keinginan duniawinya melainkan ia bermeditasi karena ia ingin diterima olehNya didalam jalan spiritual.
Oleh karena itulah kita memilih perlindungan melalui angka, karena Guru setiap saat menebarkan berkah perlindungan maha luar biasa kepada kita-kita semua. Segala macam berkah tersebut hanya akan dapat kita miliki atau terima, ketika kita tekun setiap saat, setiap detik menyambungkan diri kita lewat angka kepada Yang Maha Kuasa. Itulah sebabnya mengapa kita sangat menekankan agar teman-teman sebanyak-banyaknya dan dalam keadaan apapun, agar selalu mengingat Angka Pilihannya. Kapan datangnya berkah spiritual itu kepada diri kita, tidak ada yang bisa memprediksinya. Untuk itulah, pilihan terbaik adalah menyiapkan diri kita agar kita bisa selama 24 jam sehari hidup bersama angka.
Saya pertegas lagi, kalau kita tidak menebarkan getaran-getaran energi spiritual dan cinta kasih sejati di tanah air kita, maka energi-energi tidak baik akan lebih berkuasa. Kalau hal itu sampai terjadi, maka dalam masa 3 sampai 5 tahun ke depan ini, bangsa kita akan menghadapi cobaan-cobaan berat lagi. Untuk itulah, teman-teman pe-Meditasi Angka hendaknya mentekadkan diri untuk mengikuti segala petunjuk-petunjuk Guru, rajin dan tekunlah bermeditasi, tebarkan kasih sejati ke sekitar lingkungan kita masing-masing, mohon pada Guru Sejati (Tuhan YME) memberkahi keselamatan dan kesejahteraan untuk lingkungan kita, termasuk para binatang, burung-burung dan kesuburan alam lingkungan kita. Niat baik seperti itu harus kita sebar ke sekitar begitu kita selesai melakukan meditasi. Yakinilah..., penebaran niat baik dan kasih sejati tanpa batas-batas perbedaan dalam bentuk apa pun, akan “berbicara” dan akan merubah lingkungan kita ke arah yang lebih baik. Jangan menunggu banjir air mata dan jangan sibuk mempersiapkan sapu tangan untuk menghapus air mata, tapi berikanlah senyum kepada semuanya, kepada lingkungan kita, dan terima pula senyum-senyum dari mereka yang diarahkan kepada diri kita. Inilah kasih sejati di dunia ini, langkah pertama sebelum kita belajar merangkak didalam Kasih Spiritual Sejati. Tujuan mulia dan maha penting seperti ini, kalau tidak disertai oleh Samkalpa adalah tidak mungkin dapat dicapai, walau oleh mereka yang memiliki berbagai kemampuan extraordinary. Jangan mengkhayal untuk itu. Bangkitkan Samkalpa didalam diri, sebelum kita ditertawakan oleh kegagalan-kegagalan yang siap menghadang di depan jalan maju kita.
Dalam masalah Samkalpa, saya banyak melihat pada diri saya sendiri, dan saya juga sangat banyak melihat pada diri teman-teman, bahwa kita telah terlalu banyak berjanji untuk ini dan itu, untuk tidak ini dan tidak itu, untuk tidak melakukan hal ini dan hal itu. Akan tetapi, walaupun janji-janji tersebut kita ucapkan di hadapan guru, atau bersaksi pada Tuhan YME, kita dengan begitu gampangnya mengabaikan semua janji-janji tersebut. Ini adalah problem kita semua.
Kita tidak bersungguh-sungguh dalam hidup ini. Kita terlalu ringan dan acuh dalam menjalani hidup maha penting ini. Kita telah melewatkan/memboroskan berkah lahir menjadi manusia, yang walaupun singkat, tetapi ia sangat mulia. Jika kita manfaatkan kesempatan hidup menjadi manusia ini dengan baik dan benar serta sepenuhnya di jalan spiritual, maka karpet merah akan terbentang di hadapan kita, yang akan mengantarkan kita kepada tujuan sejati hidup ini: kembali ke asal muasal hidup, yang leluhur kita menyebutkan sebagai “curiga manjing ing worongko”, atau “sangkan paraning dumadhi”.
Segeralah putuskan dan hentikan gebuan-gebuan kehendak untuk belajar ini dan itu. Hentikanlah memburu ini dan itu. Hentikan mengkhayal saya akan menjadi ini dan itu. Cukup sederhana dan hanya sederhana saja, yaitu berusaha dan berharap semoga Guru Sejati, Tuhan YME berkenan "memegang" saya. Hanya itu, dan memang hanya itulah sebenarnya yang harus menjadi tujuan kita. Sangat sederhana sekali.
Apabila kita telah dipegang oleh Tuhan YME, maka sebenarnya hidup kita sudah selesai. Kita tidak perlu bertapa banyak lagi, kita tidak perlu melakukan praktik ini-itu lagi, karena kita telah berada penuh dan sepenuhnya di dalam peganganNYA. Dalam hidup ini hanya itulah yang kita cari. Tetapi, karena kita nakal dan merasa diri mampu, maka kita lebih cenderung membuang-buang waktu untuk belajar ini-itu, melakukan ini-itu, membual ini-itu, dan akhirnya kita hanya menemukan diri kita ternyata hanya berada di halaman depan pintu spiritual..., karena dengan cara seperti itu sesungguhnya kita tidak pernah berhasil memasuki halaman depan bangunan spiritual.
Pertanyaannya sekarang adalah: apakah semudah itu diterima atau di "pegang" oleh Tuhan YME? Tentu saja tidak...namun ia juga bukanlah sesuatu hal yang tidak mungkin. Sebenarnya yang kita perlukan hanyalah usaha dan tekad tanpa putus asa, membuat diri untuk berhak serta layak "dipegang" oleh Tuhan YME, yaitu dengan memelihara sebisa dan semampu mungkin kebersihan serta kesucian lahir batin, berhati yang bersih, jujur, selalu mengusahakan agar jangan membiasakan diri membual atau membicarakan hal-hal yang bukan-bukan, yang tidak jujur, sesuatu yang bermanis-manis tetapi tidak ada mengandung unsur kebenaran sedikit pun, melainkan hanya demi memuaskan (baca: memekakkan) telinga orang lain. Hal seperti itulah yang harus kita jauhkan dari penitian jalan spiritual kita.
…bersambung…
Sriguru,
Darmayasa
|