SI TARUNAKANTA MENGALAMI BERBAGAI KEAJAIBAN Posted by Admin on 2003-12-13 [ print artikel ini | beritahu teman ]Pada suatu hari, Bapak Darmayasa dikenalkan oleh seorang pendeta kepada Mr. Tarunakanta yang bisa membantu menguruskan SIM mengemudi di India. Tarunakanta pun mengusahakan segalanya dengan baik dan berhasil tanpa harus dipersulit yang tidak diperlukan oleh petugas-petugas.
Si Tarunakanta mengalami berbagai keajaiban
Pada suatu hari, Bapak Darmayasa dikenalkan oleh seorang pendeta kepada Mr. Tarunakanta yang bisa membantu menguruskan SIM mengemudi di India. Tarunakanta pun mengusahakan segalanya dengan baik dan berhasil tanpa harus dipersulit yang tidak diperlukan oleh petugas-petugas.
Sejak beberapa hari sebelumnya, Tarunakanta sedang mengalammi problema hidup yang sangat rumit. Ia tidak ada keinginan untuk pergi bekerja. Tetapi, ketika menerima telepon Pak Darmayasa, ia segera pergi ke kantor dan membantu dengan tulus. Hari itu, seharian ia mendapat kesempatan bergaul dengan Pak Darmayasa, dan selama pergaulan tersebut ia pelan-pelan mulai “mengenal” Pak Darmayasa. Setelah segala urusan selesai, Tarunakanta mengatakan, bahwa ia tidak mengerti, sejak beberapa bulan ia tidak bisa tidur dan tidak bisa tenang. Namun hari itu, ia mengatakan dirinya sangat tenang dan tidak merasakan problem apa pun.
Tarunakanta memaksa mengajak Pak Darmayasa pergi ke rumahnya. Di kamar sembahyangnya, Pak Darmayasa melakukan sesuatu dan akhirnya meninggalkan rumah Tarunakanta. Di tengah malam, ia menelepon mengatakan bahwa sebuah keajaiban terjadi, yaitu seluruh kamarnya berbau harum serta berwarna agak kekuningan. Besok pagi-pagi sekali, ia kembali menelepon mengatakan untuk pertama kalinya ia dapat tidur nyenyak.
Hari Sabtu setelah pertemuan itu, Tarunakanta datang ikut acara meditasi bersama di Safdarjung Enclave, New Delhi. Malam itu Pak Darmayasa melakukan sesuatu untuk Tarunakanta dan memberikan sebuah lilin yang sudah “diisi”, untuk dinyalakan malam hari itu juga.
Pagi-pagi sekitar pkl. 07.00, Tarunakanta menelepon mengatakan sebuah keajaiban lain terjadi, bahwa begitu lilin dinyalakan, 2 (dua) buah lampu suci besar yang ia nyalakan sejak beberapa bulan sebelumnya “non-stop” ternyata tiba-tiba padam seketika, dan yang menyala hanya lilin pemberian Pak Darmayasa. Ia menyalakan lilin pada pkl.23.55 tengah malam. Lilin yang normalnya bisa menyala paling lama satu jam atau lebih sedikit, ternyata masih tetap menyala pada pagi itu, pkl. 07.00. Pak Darmayasa mengatakan kepada Tarunakanta bahwa lilin ersebut akan masih tetap menyala beberapa lama lagi, tetapi setelah itu, hari-hari berikutnya jangka waktu nyalanya akan semakin berkurang. Hari itu, lilin tersebut menjadi padam, tanpa bekas sedikit pun, pada pkl. 08.30 pagi.
Besoknya ia melaporkan, lilin menyala selama 6 jam lebih, besoknya lagi sekitar 3 jam dan begitu seterusnya sampai normal kembali. Tetapi, ternyata lilin terakhir di hari ketujuh bekasnya membentuk “wujud” ular Kobra (sebelumnya, Pak Darmayasa mengatakan “melihat” ular di kamar Tarunakanta). Bersamaan dengan itu, Tarunakanta merasakan ketenangan luar biasa, walau masih menghadapi beberapa problema hidup.
Setelah sekitar 2 bulan bertemu dan belajar dari Pak Darmayasa, pada hari Senin, tanggal 14 Januari 2002, Tarunakanta datang kepada Pak Darmayasa mengatakan ia menghadapi problem besar (yang lebih baik tidak dituliskan di sini). Ia meminta berkah dari Bapak Darmayasa. Begitu Pak Darmayasa melakukan sesuatu, suasana ruangan berubah menjadi agak lain, wajah Pak Darmayasa juga menjadi lain dan serius. Tiba-tiba dengan suara berat Pak Darmayasa menyuruh Tarunakanta keluar dan duduk di dekat pohon suci Tulasi sambil mengingat Guru Ji. Begitu ia duduk, tiba-tiba di musim yang sangat dingin tersebut turun hujan. Tarunakanta bangkit dari duduknya dan kembali ke kamar menemui Pak Darmayasa. Begitu sampai di depan pintu kamar, hujan pun berhenti. Pak Darmayasa berkata, “Ujian seperti itu saja kamu tidak tahan, ternyata kamu telah “kehilangan” kesempatan. Kalau saja kamu tetap tabah diam duduk di tempat, problemmu pasti terselesaikan. Kalau aku sedang dalam keadaan seperti ini, jangan sama sekali memakai otakmu. Yang tadi turun itu kamu melihatnya sebagai hujan, padahal…..”, dan Tarunakanta pun menyesal…
|