Warning: file(): php_network_getaddresses: getaddrinfo failed: Name or service not known in /home/u2539/domain/darmayasa-divine-love.com/web/inc/procedure.inc on line 370

Warning: file(http://www.divine-love-society.org/inc/banner-left.inc): failed to open stream: Success in /home/u2539/domain/darmayasa-divine-love.com/web/inc/procedure.inc on line 370

Warning: implode(): Bad arguments. in /home/u2539/domain/darmayasa-divine-love.com/web/inc/procedure.inc on line 370
TOKOH SPIRITUAL - CERITA RENUNGAN > Divine-love-society.org > Artikel
 
Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
Cd/vcd/dvd
Donasi
 
 
 
 
Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
TOKOH SPIRITUAL
Posted by Admin on 2004-06-15
[ print artikel ini | beritahu teman ]

Suatu kali, raja Vivekapati dari Varanasi ingin mengetahui apakah di negaranya ada orang yang benar-benar berada dalam level spiritual. Untuk itu, ia meminta para menterinya untuk mencari seorang “tokoh spiritual” untuknya. Tetapi, semua menteri dan penasihat kerajaan tersebut pada berlomba untuk memaklumkan diri mereka masing-masing sebagai orang spiritual, sementara raja kenal betul bahwa tidak seorang pun diantara mereka yang memiliki sifat spiritual. Akhirnya raja Vivekapati memutuskan untuk mencarinya sendiri.

Didengar olehnya bahwa di sebuah goa, hiduplah seorang sadhu (orang suci) bernama Syama Sundara. Raja Vivekapati pergi ke sana tetapi melihat sang sadhu sedang tidur dengan lelapnya. Padahal sadhu tersebut telah mengumumkan dengan segala kesombongannya bahwa dirinya adalah seorang sadhu yang telah mampu mengalahkan rasa kantuk, yang oleh kitab-kitab suci rasa kantuk tersebut disamakan dengan kebodohan. Karena itulah Arjuna juga bernama Gudakesa, karena Arjuna telah mampu mengalahkan rasa kantuk.

Kedatangan raja Vivekapati ke sana tidak diberitahukan terlebih dahulu sehingga pelayan sadhu tersebut tidak sempat membangunkan sang sadhu yang sedang tertidur, dan juga tidak berani menghalangi sang raja. Sang raja membangunkan sang sadhu. Mengetahui raja sendiri yang datang ke tempatnya, Syamasundara berpura-pura sedang dalam meditasi. Ia memberitahukan sang raja bahwa karena sang raja sendiri yang membangunkannya dari meditasi yang sedang ia lakukan, maka ia tidak memberi hukuman,. Seandainya orang lain melakukannya, mungkin ia sudah menghukum sangat keras karena telah mengganggu meditasi sangat penting yang ia lakukan.

Raja Vivekapati tanpa memberikan argumen apa-apa segera pergi dari sana dan berpikir serta mengambil keputusan bahwa sadhu Syamasundara hanya seorang yang berpura-pura, munafik dan penipu belaka. Jadi, tidak mungkin orang yang seperti itu spiritual.

Raja Vivekapati kemudian pergi ke tempat Jnana Shastri, seorang yang sangat terpelajar dan sangat terkenal dari Kashi/Benares, yang rumahnya penuh dengan ribuan buku tebal-tebal, Jnana Shastri mempelajari semua buku tersebut dengan sepenuh hati, sehingga ia mampu menyebutkan kalimat apa ada di halaman berapa dan di buku mana. Sang raja sangat takjub akan keterpelajarannya dan pengetahuannya yang mendalam tentang semua kitab-kitab suci tersebut.

Jnana Shastri mengetahui sang raja sangat terkesan atas kehebatannya, meminta agar sang raja mengangkatnya sebagai guru kerajaan. Sang raja berpikir bahwa jika seorang yang sangat terpelajar menginginkan pengakuan dan penghargaan seperti itu tidak mungkin spiritual. Sang raja pun pergi dari rumah Shastri tersebut.

Atas pemberitahuan seseorang, sang raja pergi ke tempat seorang Baba sakti, yang mampu mengeluarkan sesuatu dari tangan kosongnya. Di sana Vivekapati disambut oleh sang Baba. Sang Baba segera mengeluarkan makanan yang lezat dari tangannya dan menyuguhkannya kepada raja. Sang raja pun menikmatinya sambil merasa takjub luar biasa atas kesaktian sang Baba. Tetapi ketika raja hendak pergi dari tempat itu, Baba meminta kepada raja untuk membangun rumah untuk dirinya. Sang raja mengabulkannya sambil berpikir, jika seorang Baba masih meminta sesuatu, mungkinkah ia seorang yang spiritual?

Raja Vivekapati kemudian pergi ke sebuah Ashram yang bernama Kripa Ashram dimana Devasvami selalu memberikan ceramah kepada ribuan orang yang datang ke Ashram tersebut. Begitu sang raja sampai di tempat itu, Devasvami langsung berdiri tanpa menghiraukan hadiran yang hadir di sana mendengarkan ceramahnya, menyongsong sang raja sambil memuji-muji sang raja. Ia mulai berkoar mengenai apa yang dilakukannya dan prasasti-prasasti apa yang telah ia raih untuk memperlihatkan kepada sang raja betapa besar dirinya. Sang raja menjadi sangat kecewa melihat kebesaran ego dan kepandaiannya menjilat di dalam hati Devasvami yang tidak mungkin lambing dan sifat orang yang benar-benar spiritual.

Raja pergi ke tempat seorang pendeta terkenal yang ahli dalam melakukan puja dan segala macam upacara keagamaan. Saat itu sang raja menyamar sebagai orang kaya. Dan seorang raja mulai memberikan harga yang mahal terhadap upacara-upacara yang ia lakukan. Raja Vivekapati berpikir bahwa orang yang loba dan rakus seperti ini tidak mungkin orang yang spiritual.

Masih dalam penyamarannya, sang raja bertemu seoran ahli meditasi besar yang bernama Dhyana Svami yang segera menjadi sangat marah ketika sarang raja bertanya tentang meditasi, karena ia mengira bahwa dirinya sedang diuji. Sang raja segera sadar bahwa orang pemarah tidak mungkin bahkan mustahil bisa mencapai spiritualitas yang sebenarnya..

Raja Vivekapati merasa sangat kecewa, dan musnah segala harapannya untuk menemukan seseorang yang spiritual sejati di negaranya. Tetapi kemudian mendengar orang-orang sedang membicarakan seorang mistik kebatinan yang bernama Sufirama yang terkenal sebagai seorang guru yang hebat tetapi pekerjaannya adalah sebagai seorang tukang kayu, yang kelihatan bahkan seperti orang gila tetapi terkenal dengan nasihat-nasihatnya yang sangat baik kepada orang-orang.

Raja Vivekapati pergi ke tempat Sufirama dan bertanya, “Apa yang telah anda pelajari dan menjadi terkenal di seluruh pelosok negara?”

Sufirama berkata, “Sangat sederhana, ketika saya memotong kayu, saya hanya memotong kayu. Ketika saya membawa air dari sumur, saya hanya membawa air dari sumur.”

Sang raja berkata, “saya telah banyak medengar tentang hal-hal spiritual. Omong kosong apa lagi semua ini?,Memotong kayu, anda hanya memotong kayu. Semua tukang kayu melakukan hal yang sama, apa istimewanya dalam hal ini? Membawa air anda hanya membawa air. Saya telah datang kesini dari tempat yang sangat jauh dan saya adalah raja anda. Seharusnya anda setidak tidaknya memberi saya nasihat rohani.

Sufirama berkata, ”Itulah nasihat siritual saya kepada anda, dan saya ingin memperjelasnya kepada anda bahwa semua orang tidak melakukan demikian, bertahu-tahun saya belajar untuk memotong kayu tanpa memikirkan apa-apa, untuk hanya berada di sana dan memotong kayu tanpa memikirkan apa-apa. Dan hal itu indah sekali suara-suara di lembah keping-keping kayu yang terlempar, kesana kemari, angin yang berdesir melalui dedaunan, diantara pelohonan, nyanyian mereka, riuh suara burung dan binatang lainnya. Dan saya hanya diam, bisu hanya memotong. Begitu pula waktu membawa air setiap hari sama. Saya telah memberi secara singkat, pendekatan dasar saya terhadap hidup. Selalu di sini dan sekarang. Jangan biarkan fikiran pergi. Itulah yang namanya meditasi.

Demikianlah orang yang telah mempelajari bagaimana hidup tetapi pada saat yang sama tetap berada dalam spiritual, tidak sambilan, tidak dimasa lalu dan tidak dimasa yang akan datang. Orang yang selalu memikirkan masa lalu, hidup di masa lalu, sesungguhnya ia telah mati. Demikianlah pada orang yang selalu berfikir tentang masa yang akan datang, hidup dimasa yang akan datang, sesungguhnya ia belum lahir. Lantas apa yang ia lakukan dengan spiritualitas? Demikian pula orang yang sambilan, fikirannya akan kemana-mana dan orang yang demikian bagaimana ia mampu berkonsentrasi? Jangankan kepada Tuhan yang bersemayam dalam hatinya, pada pekerjaannya pun ia tidak mampu berkonsentrasi. Mungkinkah orang demikian mampu meditasi? Dengan selalu memposisikan diri “sekarang, disini” pelan-pelan kita bisa melatih kesadaran dan pikiran kita berkonsentrasi, disamping itu dengan selalu berada “disini dan sekarang” kita tidak akan menghabiskan waktu dalam lamunan yang sia-sia, karena kita akan sibuk untuk melakukan yang terbaik dan akan selalu sadar akan Tuhan dan ketika maut yang datang tanpa permisi menjemput kita, kita sepenuhnya dalam kesadaran kita dan dikatakan dalam kitab suci:

Yam yam wapi smaram bhawam
Tyajaty ante kalevaram
Tam tam evaiti kaunteya
Sada tad-bhava-bhavitah

“Apapun yang diingat oleh seseorang pada saat ia meninggalkan badannya, keadaan itulah yang ia capai pada kelahirannya yang akan datang, wahai putra Kunti”

Melakukan meditasi bukan berarti kita harus duduk dalam sikap tertentu, tetapi kita bisa melakukan meditasi dalam keadaan apapun. Karena meditasi berarti mengingat. Meditasi adalah cara, bukan tujuan. Suatu cara untuk memusatkan fikiran pada sesuatu sehingga fikiran tidak berkeliaran kemana-mana. Meditasi juga berarti sadar, sadar sedang melakukan kegiatan apa kita saat ini. Kadang orang hanyut dengan fikirannya yang menerawang kemana-mana, “terbawa oleh fikiran”. Sedang meditasi adalah “membawa fikiran itu“ dalam pengendalian kita,. dan dengan sadar setiap saat kita akan mampu melatih fikiran. Setelah fikiran “terlatih kita akan selalu mampu memusatkan fikiran kita kepadaNya tanpa perlu lagi “berusaha”, tetapi secara otomatis fikiran akan terpusat. Tentu saja ada efek lain yang muncul, yaitu kita akan lebih tenang, lebih mampu menguasai diri dan amarah, bisa menerima apa adanya. Dengan semua itu, fikiran kita akan terpusat dengan sendirinya tanpa susah-susah dan hatipun akan terbuka. Dan hidup kita akan menjadi “sembahyang” tanpa harus sengaja melakukannya. Dengan hidup kita menjadi sembahyang itu sendiri, kebahagiaan rohani pun akan datang dengan sendirinya. Lalu, apalagi yang akan kita cari?

Moksartham jagadhita sudah pasti ditangan kita. Berbahagia di dunia ini, dan pasti berbahagia pula di alam sana, alam setelah kematian. Astu...











Minuman Penyegar Seorang Guru Spiritual ( Bag. 2)
Minuman Penyegar Seorang Guru Spiritual ( Bag. 1)
Jangan Mencoba Memegang Tuhan Tetapi Biarlah Tuhan Memegangmu. Itulah Jalan Yang Selamat Bagimu
Sudah Waktunya Kita Berhenti Merintih, Sebab Ia Bukanlah Nyanyian Penyejuk Sukma
Karawang Yatra
Bunuh Diri Bukanlah Tindakan Pengecut, Bukanlah Dosa Melainkan Ia Adalah Neraka Itu Sendiri
Engetahuan Suci Memerlukan Hati Yang Suci Bersih Dan Bukan Status, Kedudukan, Kasta Maupun Keterpelajaran Duniawi
Jangan Pernah Bermimpi Bahwa Orang Yang Tangannya Terbelenggu Rantai Emas Akan Mampu Membukakan Ikatan Tanganmu
Liputan Hut Medang Tahun 2010 Hari Ke-7, Puncak Perayaan & Inisiasi
Liputan Hut Medang Tahun 2010 Hari Ke-6, Ke Lempuyang
Liputan Hut Medang Tahun 2010 Hari Ke-4, Pemantapan Meditasi Ii
Liputan Hut Medang Tahun 2010 Hari Ke-3, Pelayanan Kesehatan Gratis
Liputan Hut Medang Tahun 2010 Hari Ke-2, Lomba Anak-anak
Liputan Hut Medang Tahun 2010 Hari 1, Kunjungan Sosial Ke Panti Asuhan Dan Jompo
Susunan Panitia Nasional & Agenda Hut X Meditasi Angka 2010
Orang-orang Yang Malas Spiritual Cenderung Mewakilkan Dirinya Lewat Setan Dan Iblis.
Menghindari Lubang
Mata Pelajaran Meditasi Bikin Siswa Lebih Berprestasi
Mengapa Kita Malas Ber-meditasi Angka? ( Bag. 2)
Majalah Meditasi Angka Edisi Juli 2005

Gerakan Suryanamaskar