[MA01] MEDITASI ANGKA DAN PENCERAHAN Posted by Ketut Widnya on 2005-12-31 [ print artikel ini | beritahu teman ]Orang bisa berlindung di bawah payung atau dibawah tenda untuk menghindari sergapan terik matahari. Demikian juga orang bisa menggunakan berbagai alat pelindung jika sedang berjalan disekitar jilatan lidah api yang sedang membara.Tetapi dimanakah anda berlindung, atau dengan alat apakah anda akan melindungi diri jika sedang diterjang oleh api hawa nafsu?
Para resi India memberi jawaban demikian, “ketika hawa nafsu datang, ia menjumpai saya sedang sibuk bekerja, sehingga ia kembali dengan tangan kosong.” Bekerja, menyibukkan diri, itulah cara yang paling dapat diandalkan untuk mengusir hawa nafsu. Bekerja berarti suatu kehormatan.
Tetapi sayang sekali pekerjaan pada era global modernisasi ini tidak cukup kuat untuk menghalau hawa nafsu. Anda mungkin menyempatkan diri berolah raga dan melakukan berbagai kegiatan lain disela-sela kesibukan bekerja, sekedar untuk membunuh waktu sekaligus menghalau hawa nafsu. Tetapi hawa nafsu masih jauh lebih kuat; dia membara, membara, dan membawa terus di dalam diri Anda.
Sebagian besar manusia modern menderita karena hawa nafsu. Berbagai terapi telah dilontarkan ke tengah-tengah gelanggang kehidupan. Tetapi hawa nafsu masih tetap menjadi pemenang tunggal atas pertarungan purba ini. Maka saatnyalah kita mencoba melihat cara lain.
Tanpa bermaksud mengesampingkan cara lain, saya memilih Meditasi Angka sebagai tempat berlindung yang paling dapat diandalkan untuk mengatasi gejolak hawa nafsu. Selama berada di rantau (India) selama hampir enam tahun, saya merasakan Meditasi Angka ini menguatkan semangat spiritual dan mencerahkan kehidupan saya.
Kolom ini ditulis bukan untuk entertainment, melainkan untuk dibagikan secara gratis kepada mereka yang belum menemukan cara yang paling dapat diandalkan untuk mengatasi hawa nafsu.
Suatu hari teman saya orang Korea memuji diri saya. Katanya, “baru kali ini saya melihat wajah kamu cerah. Sebelum ini saya melihat kamu seperti orang sakit.” Saya menganggap pujian teman ini sekedar basa-basi sebab kami baru kembali ke kampus setelah libur musim dingin. Tetapi hari itu, ada lebih dari 4 orang yang menyampaikan pujian yang sama.
Saya menghubungkan pujian itu sebagai hasil dari sadhana Meditasi Angka yang pada waktu itu saya sedang lakukan selama 40 hari selama bulan Nopember-Desember 2003 dibawah pengawasan Romo Darmayasa. Padahal sadhana itu tidak sepenuhnya berjalan sempurna selama 40 hari, karena 10 hari terakhir waktu saya tersita untuk mengantar peserta yang sedang melaksanakan ibadah suci tirthayatra di India.
Hawa nafsu adalah kekuatan terpendam yang melekat dalam diri setiap orang. Kekuatan terpendam ini bisa menghancurkan pemiliknya jika dia tidak bisa mengendalikannya. Karena itu, orang segera harus mengatasi hawa nafsu, sebelum hawa nafsu itu akan menghancurkan dirinya.
Orang yang sedang dibakar hawa nafsu, menderita bagaikan orang lapar yang tidak terpuaskan. Jiwanya gelisah tak menentu. Dia kehilangan rasa malu dan rasa takut. Dia menderita, menderita dan sangat menderita.
Romo Darmayasa merasakan kepedihan, kesakitan dan penderitaan banyak orang karena geliat hawa nafsu, dan didorong oleh rasa belas kasih, beliau menjadikan Meditasi Angka sebagai pesan Surgawi bagi orang-orang modern. Hal ini pada suatu hari disampaikan oleh Romo Darmayasa kepada saya dalam perjalanan dari Ubud ke Denpasar, pada tahun 2002 lalu.
(Drs. I Ketut Widnya, M.A., M.Phil).
|