Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Cd/vcd/dvd
Donasi
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
[MA01] MEDITASI ANGKA
Posted by Darmayasa on 2005-12-31
[ print artikel ini | beritahu teman ]

“Meditasimu adalah sabunmu wahai muridKu terkasih”
(Guruji Acharya Shri Kamal Kishore Gosvami)


Mereka yang tertarik masuk ke dunia spiritual hampir semua paling tidak sudah pernah mendengar atau membaca kata meditasi. Mereka yang keingintahuannya besar bahkan sudah pernah membaca dan memahami makna meditasi , bahkan lebih jauh lagi sudah mempraktekkan satu metoda meditasi. Meditasi adalah kegiatan pengendalian pikiran. Menurut Yoga Sutra Patanjali tiga tahapan pengendalian pikiran adalah Dharana, Dhyana dan Samadhi. Yang pertama Dharana yang dikenal dengan sebutan konsentrasi adalah usaha untuk memusatkan pikiran secara mantap pada suatu obyek, disini dilakukan pemusatan pemikiran pada suatu obyek dalam jangka waktu yang pendek. Yang kedua Dhyana dengan istilah lain meditasi adalah pemusatan yang terus menerus dalam jangka waktu yang lebih panjang dari pikiran pada suatu obyek. Dalam referensi yang lain disebutkan meditasi adalah jeda diantara dua pikiran atau kekosongan yang terjadi antara munculnya dua pikiran. Yang ketiga Samadhi adalah pemusatan pikiran terhadap obyek dengan intensitas konsentrasi sedemikian rupa sehingga menjadi obyek itu sendiri. Dalam kondisi samadhi pikiran sepenuhnya bergabung dalam penyamaan dengan obyek yang dimeditasikan , selain itu badan dan pikiran menjadi mati sementara sedemikian rupa terhadap kesan-kesan luar. Hubungan dengan dunia luar lepas. Dalam samadhi, Yogi memasuki ketenangan tertinggi yang tak tersentuh oleh suara-suara yang tak henti-hentinya dari dunia luar. Pikiran kehilangan fungsinya. Indriya-indriya terserap ke dalam pikiran. Bila semua perubahan pikiran terkendalikan si pengamat yaitu purusha terhenti dalam dirinya sendiri. Patanjali mengatakan hal ini dalam Yoga Sutranya sebagai SWARUPA AWASTHANAM ( kedudukan dalam diri seseorang yang sesungguhnya).

Obyek dari meditasi bermacam-macam antara lain wujud Tuhan, Nama Tuhan , gabungan wujud Tuhan dan Nama Tuhan, Nafas, Cahaya yang nampak di mata bathin, mantra-mantra, angka, ujung hidung, suara dari dalam tubuh dll. Saya Sri Ramana Maharsi menjelaskan bahwa obyek meditasi itu berguna agar pikiran kita hanya terfokus pada satu pikiran. Mungkin kita semua sudah pernah membaca atau mendengar dan bahkan menyadari bahwa dalam setiap detik ada begitu banyak pikiran yang muncul. Sri Ramana Maharshi menggunakan pertanyaan “ Siapakah aku?” untuk membunuh setiap pikiran yang muncul dari hati. Beliau juga menyatakan bahwa sumber pikiran dan nafas adalah dari hati. Beliau mengatakan pertanyaan “siapakah aku?” adalah usaha membunuh musuh sebelum keluar dari bentengnya. Ketika satu pikiran mau muncul, langsung “dibunuh’ dengan pertanyaan “siapakah aku? Pertanyaan ‘siapakah aku” adalah obyek meditasi. Pengucapan berulang-ulang suatu mantra atau nama Tuhan atau membayangkan wujud Tuhan dalam bathin juga mempunyai maksud yang demikian yaitu membunuh pikiran-pikiran yang muncul sehingga tidak ada pikiran lain yang muncul selain mantra atau wujud itu.

Jika keadaan hanya satu pikiran dapat dicapai dalam kurun waktu yang cukup panjang maka kondisi meditatif tercapai.Kondisi meditatif adalah kondisi dimana frekwensi pikiran sudah sedemikian rendah atau jumlah pikiran yang muncul dalam selang waktu tertentu sudah sangat sedikit. Selanjutnya pikiran yang satu yaitu obyek meditasi inipun akhirnya kelak juga harus dibunuh atau dibuang karena tidak diperlukan lagi. Obyek meditasi ini atau satu pikiran ini diibaratkan sebuat tongkat untuk menyalakan api pada sebuah tumpukan kayu. Jika api pada tumpukan kayu sudah menyala maka tongkat inipun tidak ada gunanya. Kondisi tumpukan kayu sudah menyala adalah kondisi tanpa pikiran sama sekali dan disini kita sadar dengan diri sejati kita (Higher Self). Kondisi ini disebut juga kondisi samadhi atau supra sadar.

Dalam meditasi angka, kita menggunakan angka sebagai obyek meditasi. Mungkin banyak yang sudah mengetahui bahwa ada pengetahuan yang khusus untuk mempelajari kaitan angka dengan kepribadian seseorang yang disebut Numerologi. Menurut ilmu itu, setiap manusia diwakili oleh satu angka tunggal yang mewakili kepribadiannya. Angka tunggal atau satu digit itu diperoleh dengan cara sistem menghitung tertentu dari tanggal kelahiran atau nama. Kita tidak berbicara jauh mengenai numerologi, hanya sekedar memberikan gambaran bahwa angka itu mempunyai vibrasi yang mempengaruhi kepribadian sesorang. Dalam meditasi angka ini kita diminta memilih suatu angka tertentu yang menurut kita cocok untuk kita. Angka pilihan dalam meditasi angka tidak mutlak diminta yang berkaitan dengan angka tunggal tanggal kelahiran atau angka tunggal dari nama. Pemeditasi diberikan kebebasan memilih angka favoritnya. Tetapi memang alangkah baiknya kalau angka pilihan adalah merupakan angka digit tunggal dari tanggal kelahiran atau nama pemeditasi yang dihitung secara numerologi.

Ketika Guruji Acharya Sri Kamal Kishore Gosvami datang ke Bali tahun 2000 yang lalu , beliau mem-blast angka-angka pilihan yaitu angka-angka 1 sampai 9. Banyak yang bertanya, apakah yang dimaksud dengan mem-blast tersebut? Menurut pemahaman saya yang dimaksud dengan mem-blast adalah membuat angka-angka itu menjadi sebuah mantra yang mempunyai kekuatan yang luar biasa, kekuatan untuk menghubungkan diri Tuhan. Angka itu menjadi Yatra (simbol) dan Mantra yang membuat kita dapat berhubungan langsung dengan Tuhan. Seperti halnya mantra adalah perwujudan dari Dewa yang dituju, maka angka-angka itu menjadi perwujudan Mahadewa atau Tuhan itu sendiri. Kalau dalam dunia Reiki kita mengenal simbol-simbol reiki seperti CKR, HSSN, SHK dsbnya yang berguna untuk mengakses energi Tuhan dengan frekwensi tertentu. Tidak sembarangan orang yang dapat melakukan hal demikian, hanya orang yang diberikan berkah atau autoritas seperti Guruji yang dapat melakukan hal itu. Tanpa adanya proses pem-blastan tersebut maka angka-angka itu tidak mempunyai kekuatan apa-apa seperti mantra-mantra mahasakti Arjuna yang tidak berfungsi ketika terjadi kekacauan di Dvapara karena Shri Krishna telah meninggalkan fungsi aktifnya sebagai Avatar, kembali ke kondisi KETIADAAN. Agar angka-angka yang sudah menjadi mantra mahasakti itu dapat memberikan kekuatan pada penjapanya atau pemakainya diperlukan satu proses lagi. Proses ini adalah semacam inisiasi yang dilakukan oleh Guru dengan ritual tertentu yang dilakukan pemeditasi sesuai petunjuk Guru. Dengan inisiasi ini Guru melakukan “sesuatu” agar pemeditasi angka benar-benar mendapatkan manfaat yang maksimal dengan angka pilihanya, agar pemeditasi angka memiliki autoritas untuk menggunakan angka pilihannya itu dan juga tentunya agar vibrasi pemeditasi sesuai dengan vibrasi angka pilihannya tersebut . Dalam proses inisiasi ini Guru juga berkenan menghilangkan hambatan-hambatan besar yang berpotensi menghambat kemajuan meditasi.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa angka pilihan bukan hanya sekedar obyek meditasi yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa , tetapi juga mengandung power yang luar biasa yang akan menarik energi Tuhan bekerja pada pemeditasi untuk menghilangkan karma-karma negatif, emosi-emosi negatif dan energi-energi negatif pemeditasi. Guru berkali-kali menyatakan bahwa pada suatu saat kelak pemeditasi angka akan tahu apa atau siapa di balik angka pilihannya tersebut dan jika tekun serta penuh kepercayaan melakukan meditasi pada angka pilihan, niscaya angka pilihan itu akan membawa pemeditasi pada kesempurnaan rohani.

Manfaat yang kedua yang tidak kalah pentingnya dari dari meditasi angka bahwa meditasi angka bukan hanya meditasi untuk mendiamkan pikiran, tetapi juga untuk MEMBANGKITKAN KUNDALINI. Kundalini adalah gulungan energi yang tidur di ujung tulang ekor manusia di Cakra Muladara. Kundalini adalah sakti yang dapat memberikan kekuatan yang dasyat pada manusia. Kundalini adalah aspek aktif dari Tuhan. Bila kundalini tidur, maka manusia menyadari alam semesta dan memiliki kesadaran obyektif. Apabila dia bangkit dan naik sampai Cakra Sahasrara maka terjadi Diwya Bhawa atau kecendrungan Tuhan dan ia kehilangan semua kesadaran tentang alam dan menjadi satu dengan Tuhan. Kundalini merambat naik melalui jalur Sushumna, Nadi Ida dan Pinggala serta melalui 7 cakra utama. Dalam meditasi angka ini kita memunculkan angka-angka pilihan pada 5 cakra yaitu Muladhara Cakra, Maniphura Cakra, Anahata Cakra, Visudhi Cakra dan Ajna Cakra .Ketika angka pilihan dimunculkan di Cakra Muladhara maka kekuatan ilahi (Tuhan) angka pilihan akan membuka gulungan-gulungan kundalini dan juga membersihkan cakra muladara, ketika di munculkan di Cakra Muladhara maka energi kundalini ditarik naik ke level Cakra Maniphura dan juga terjadi pembersihan di Maniphura Cakra dan seterusnya. Dalam meditasi angka ini hanya 5 buah cakra yang dibersihkan dengan pertimbangan bahwa jika ke 5 cakra tersebut sudah bersih dan terbuka lebar maka dua cakra yang lain yaitu Cakra Swadisthan dan Cakra Sahasrara akan mudah dibuka. Apakah yang dibersihkan oleh kundalini? Kundalini membersihkan bibit-bibit, akar-akar, pohon-pohon, cabang-cabang dan ranting-ranting karma-karma negatif dari kehidupan-kehidupan yang terdahulu yang ada di jalur Shumshuna, cakra-cakra serta seluruh badan eterik manusia. Proses kenaikan kundalini dapat dibantu dengan shaktiphat yaitu pemberian power oleh Guru. Dengan shaktiphat pusat Kundalini menjadi sangat aktif dan sebagian karma-karma yang ada ikut dibersihkan. Beruntunglah yang memperoleh shaktiphat karena proses kenaikan kundalininya sampai ke Cakra Sahasrara akan lebih cepat. Dengan secara rutin melakukan meditasi angka maka energi kundalini secara bertahap membersihkan semua kotoran-kotoran tersebut dan jalur sumshuna serta cakra-cakra makin bersih dan semakin terbuka lebar. Pembersihan karma-karma negatif juga berarti bahwa beban karma yang seharusnya kita selesaikan dalam banyak reinkarnasi dapat diselesaikan lebih cepat. Karena alasan inilah Guruji mengatakan bahwa meditasi angka adalah sabun kita. Jika cakra-cakra mulai bersih beberapa kemapuan psikis kemungkinan akan muncul, tetapi bukan itu arah meditasi angka ini. Jika pemeditasi angka berkonsentrasi pada kemampuan psikis maka energi kundalini akan membelok hanya menuju ke cakra yang memberikan kemampuan psikis itu sehingga tujuan utama meditasi angka tidak tercapai. Jika energi inti kundalini sudah mencapai Cakra Sahasrara, maka pemeditasi akan lebih mudah mencapai kondisi samadhi (Nirvikalpa Samadhi) dan dari sini proses lebih lanjut menuju pencerahan sempurna sudah terbuka dengan lebar.

Perlu digarisbawahi bahwa walaupun energi inti kundalini seseorang sudah mencapai Cakra Sahasrara, orang tersebut belum mencapai pencerahan sempurna. Konon masih banyak cakra ilahi di atas cakra mahkota yang harus dibuka. Selain itu walaupun kundalini seseorang sudah sampai ke Cakra Sahasrara tidak otomatis egonya “nol”. Ada contoh-contoh bahwa orang yang kundalininya sudah bangkit sampai ke Cakra Sahasrara memiliki ego yang tinggi, hal ini disebabkan karena orang tersebut masih suka bermain-main pada power atau siddhi atau kekuatan yang dimunculkan oleh pembangkitan kundalini. Jalan ini adalah jalan sesat karena kita akan mendapatkan hasil yang sebaliknya yaitu memupuk ego, ego akan semakin besar yang akan membawa kejatuhan bagi pemeditasi. Dengan demikian agar kita bisa memperoleh manfaat yang maksimal dari meditasi angka untuk membawa kita ke pencerahan sempurna kedua aspek dari meditasi angka tidak boleh dipisahkan yaitu meditasi pada obyek angka untuk menundukkan ego dan meditasi kundalini di 5 titik cakra untuk meningkatkan kesadaran. Demikianlah pemahaman saya tentang meditasi angka sampai saat ini, tidak menutup kemungkinan dengan berjalannya waktu dengan proses pembelajaran lebih lanjut pemahaman saya bisa lebih baik lagi.











Godaan Spiritual (bag-1)
Peliharalah Badan Kita
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (3)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (2)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (1)
Tak Ada Yang Gagal
Tabloid Suluh Meditasi Edisi Nopember 2011
Kenapa Medang?
Dalam Baju Spiritual
Legenda Cinta Radha Krishna
Geliat Pembangunan Aula/wantilan Di Parama Dhama Denpasar
Bersama Guru Dalam Setiap Langkah
Menolak Kesempatan Emas (bagian 2)
Menolak Kesempatan Emas (bagian 1)
Teknik Menerima Berkah (bagian 2)
Teknik Menerima Berkah (bagian 1)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.2)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.1)
Sembah Sujud
Kucing Putih Di Parama Dhama

Gerakan Suryanamaskar