Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Donasi
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
Cd/vcd/dvd
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
[MA01] MAKNA DIVINE LOVE
Posted by Darmayasa on 2005-12-31
[ print artikel ini | beritahu teman ]

“Wahai muridKu yang terkasih pakailah Divine Love sebagai baju dalam kehidupanmu”
(Guruji Acharya Shri Kamal Kishore Gosvami)


Sudah seharusnya siapapun yang menyandang nama “Divine Love” mengerti dan memahami makna dari Divine Love itu. Menurut pemahaman saya Divine jangan diterjemahkan atau ditujukan ke Dewa tertentu melainkan adalah berarti Tuhan Yang Maha Esa dan Love yang dimaksud adalah Cinta Kasih . Jadi Divine Love adalah uncondional Love atau Prema atau cinta kasih yang tidak terbatas seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan kepada Tuhan dan juga ciptaanNya.

Sedikit kita mulai dari awal. Ketika itu hanya ada KETIADAAN yang dalam bahasa Jawa kuno disebut dengan “duk tan hana paran-paran anrawang anruwung”. KETIADAAN yang mempunyai kecerdasan luar biasa. Kenapa kita percaya bahwa KETIADAAN itu mempunyai kecerdasan? Sederhana saja, kita mengambil metode kesimpulan logika bahwa tidak mungkin ada sesuatu tanpa ada yang merencanakannya dan membuatnya. Sebuah rumah tidak mungkin berdiri begitu saja di sebuah tanah kosong tanpa ada yang merencenakan dan membangunnya, sebuah meja tidak mungkin akan terbentuk begitu saja tanpa ada yang merencanakan bentuknya dan kemudian membuatnya. Apalagi bentuk-bentuk yang rumit seperti alam semesta dan tubuh manusia, pasti ada yang merencanakan yang memiliki kecerdasan yang luar biasa. Ketiadaan yang mempunyai kecerdasan luar biasa itulah kita namakan dengan Tuhan sebagai istilah yang diterima secara umum di Indonesia untuk menamakan kecerdasan yang luar biasa tersebut walaupun kemudian masing-masing Agama memberikan sebutan yang berbeda pada Tuhan. Proses perencanaan dan penciptaan yang dilakukan oleh Tuhan dilakukan hanya dengan “NIAT”. Mengenai “ NIAT’ ini nanti kita akan mengetahui bahwa “NIAT” memegang kunci penting dalam pergerakan energi terutama yang berkaitan dengan metafisik. Untuk apa Tuhan berniat membuat ciptaan , kalau sesungguhnya Tuhan sendiri sudah maha segala-galanya? Ya, ada suatu kebutuhan Tuhan yang tidak bisa dilakukan oleh hanya dan hanya satu keberadaan yaitu ada kebutuhan untuk merasakan cinta, mencintai dan dicintai. Agar kebutuhan itu terpenuhi maka minimal harus ada dua keberadaan yang terlibat yaitu yang menerima dan yang memberi. Nah dari konsep inilah kemudian dari “Niat” Tuhan pada awalnya muncul dua polaritas atau kekuatan bipolar dimana yang satu bersifat rohaniah dan yang satu bersifat kebendaan. Dari kekuatan bipolar ini muncul segala bentuk ciptaan yang halus sampai yang kasar.

Kita tidak berbicara lebih jauh tentang proses penciptaan ini, kita hanya memperhatikan satu hal yang sangat penting bahwa kemudian dari kekuatan bipolar ini muncul “pikiran”. Pikiran awal ini kemudian dengan suatu proses pembelahan yang luar biasa menjadi banyak, tidak terhitung jumlahnya pikiran. Konsep pembelahan inilah yang sering disampaikan oleh parasuci bahwa Tuhan membelah diriNya sendiri menjadi diriNYa-dirinNYa sehingga diriNYA dapat mencintai diriNYa. Masing- masing pikiran yang memiliki komponen ego (keakuan) ini diberikan autonomi yang seluas-luasnya sehingga setiap pikiran mempunyai potensi yang luar biasa untuk berkembang. Autonomi yang tak terbatas yang diberikan Tuhan inilah yang disebut sebagai kehendak bebas (freewill). Komponen lain dari pikiran adalah rasa , dalam hal kita berbicara masalah rasa cintakasih.Cinta kasih adalah salah satu unsur dari rasa. Ada pertanyaan kenapa Tuhan memberikan autonomi yang tidak terbatas kepada pikiran-pikiran? Tuhan memberikan hal demikian karena Tuhan berkeinginan “MENERIMA CINTA KASIH YANG TIDAK TERBATAS” atau cinta kasih tanpa sayarat (unconditional love) dari pikiran-pikiran itu. Bayangkan saja dalam suatu kisah asmara, jika seorang pria memaksa seorang wanita untuk mencintainya maka apa yang dapat diberikan oleh wanita itu adalah ketakutan bukannya cinta. Cinta kasih yang tidak terbatas hanya dapat diberikan oleh pikiran-pikiran jika tidak ada persyaratan , tidak ada batasan apa-apa dan juga tidak ada pemaksaan pada pikiran-pikiran tersebut.

Pada awalnya pikiran-pikiran diberikan belenggu oleh kekuatan kebendaaan yang sesungguhnya juga bersumber dari kekuatan Tuhan. Pikiran-pikiran yang terbelenggu mengalami kegelapan dengan mencari-cari cinta kasih atau kebahagiaan pada aspek kebendaan. Agar pikiran dapat memiliki cinta kasih yang tidak terbatas pada Tuhan, pikiran perlu menjalani proses pembelajaran dalam kehidupan fisik. Proses inilah yang memunculkan evolusi melalui proses reinkarnasi pada makhluk-makhluk. Rasa cinta kasih yang sederhana sudah muncul mulai dari kehidupan yang paling sederhana dalam bentuk ketertarikan sesama jenis makhluk, tikus tertarik dengan tikus lainnya, harimau tertarik dengan harimau lainnya. Demikianlah cinta kasih yang dimiliki oleh pikiran-pikiran mengalami evolusi dengan proses reinkarnasi. Setiap tahap kehidupan adalah merupakan pembelajaran dari pikiran untuk mengembangkan lebih lanjut cinta kasih itu menjadi cinta kasih yang tidak terbatas pada Tuhan. Sebelum mendapatkan badan fisik manusia , pikiran menjalani proses pembelajaran dalam wadah fisik tumbuh-tumbuhan dan hewan yang berjuta-juta tahun lamanya.

Ketika pikiran menempati wadah manusia , pikiran sudah demikian berkembang karena komponen pikiran yang disebut dengan budhi atau intelek yaitu kemampuan memahami sesuatu dan kemampuan membedakan yang benar dan yang salah , yang spiritual dan yang non spiritual dan yang bersifat cintakasih kepada Tuhan dengan yang bukan cinta kasih pada Tuhan. Kelahiran sebagai manusia memungkinkan pikiran untuk mengembangkan cinta kasih ke tingkat yang tidak terbatas sehingga kelahiran sebagai manusia dianggap kelahiran yang paling sempurna dibanding makhluk-makluk lain. Lebih dari pada itu kelahiran sebagai manusia memungkinkan manusia dapat memiliki cinta kasih yang tidak terbatas dan mencapai kesempurnaan hidup dengan meleburkan diri pada keberadaan Tuhan (Yoga).

Pada tahap awal, cinta kasih dalam diri manusia hampir sama dengan hewan yaitu hanya melindungi anak dan istrinya serta di dominasi oleh insting atau naluri rendah. Pada tahap yang sudah lebih maju dari perkembangan cinta kasih manusia, dia sudah mulai dapat mengikuti larangan-larangan dan perintah-perintah sesuai dengan apa yang tertulis di kitab suci agama yang dianutnya. Dia dapat memberikan cinta kasih bukan hanya pada keluarganya melainkan juga kepada sesamanya dalam satu agama atau kelompok. Tetapi cinta kasih yang demikian terjadi lebih banyak karena rasa takut akan hukuman yang akan diberikan Tuhan. Jadi dia mencintai Tuhan dan sesamanya karena takut, dan dengan demikian cinta yang diberikan adalah cinta yang terbatas. Semakin berkembangnya persepsinya inteleknya maka manusia menyadari bahwa segala sesuatu adalah perwujudan dari Tuhan dan dia mulai mencintai Tuhan bukan karena ketakutan tetapi karena merasa bahagia kalau selalu merasakan kehadiran Tuhan. Dia juga mencintai sesama manusia tanpa membedakan agama, ras, suku dllnya. Bahkan lebih dari itu dia mulai dapat mencintai mahluk lain yaitu binatang , tumbuh-tumbuhan serta lebih dari itu dia mencintai lingkunganya. Dia melihat Tuhan hadir dimana-mana. Semakin lama getaran cinta kasihnya semakin dasyat dan semakin menggebu-gebu. Pikirannya dipenuhi kehadiran Tuhan, air mata anandam (kebahagian yang luar biasa) akan selalu mengalir melalui matanya kalau dia mengingat kebesaran Tuhan, tidurnya adalah meditasi pada Tuhan, kata-katanya adalah pujian pada Tuhan, dia hanya mau mendengarkan tentang Tuhan,dia melangkahkan kakinya hanya untuk menuju lebih dekat kepada Tuhan, menggunakan tangannya untuk melayani Tuhan, dia menangis jika melihat orang lain menderita , dia sangat sedih melihat binatang yang mengalami kesakitan bahkan dia sangat kasihan dengan jentik nyamuk yang ada di got karena dia menyadari ada pikiran yang terbelenggu dalam jentik nyamuk itu dalam tingkatan yang sangat rendah. Semakin dasyat dan semakin dasyat perkembangan cinta kasihnya. Dia melepaskan kehendak bebasnya dan bahkan membekukan pikirannya sehingga hanya kehendak Tuhanlah yang berlaku pada dirinya. Akhirnya pada puncaknya Tuhan memberkatinya dan menganugrahi orang yang demikian dengan kebahagiaan yang tertinggi yaitu larut dalam kebahagian Tuhan.

Nah, dengan uraian di atas marilah kita mengukur diri sampai dimana kira-kira tingkatan cinta kasih ilahi (Divine Love) yang kita miliki. Kalau kita hanya masih berkutat memikirkan diri sendiri atau keluarga kita maka barangkali cinta kasih kita ada di level kaki gunung cinta kasih, jika cinta kasih diibaratkan sebuah gunung. Kalau kita masih belum bisa mencintai orang yang berbeda agama maka kita dapat menduga bahwa kita masih ada di lereng bawah dari gunung cinta kasih. Kalau kita sudah mencintai sesama tetapi belum dapat mencintai seekor anjing kudisan maka kira-kita kita masih di lereng tengah bawah gunung itu. Kalau kita sudah sudah dapat mencintai semua makhluk tetapi hati kita belum bergetar dasyat ketika ada suara pujian kepada Tuhan dalam sebutan apapun mungkin kita masih di lereng tengah atas gunung cinta kasih dan seterusnya dan seterusnya. Itu hanya gambaran sangat dangkal karena kita belum dapat mengukur berapa tingginya gunung cinta itu , karena kita tidak bisa melihat puncak gunung cinta kasih itu dan karena kita dapat membayangkan cinta kasih yang tidak terbatas itu. Tetapi sampai dimanapun kita, tetaplah memanjat walau perlahan. Setiap langkah kehidupan akan menjadi pembelajaran, pembelajaran untuk mengenal cinta kasih yang lebih baik. Biarlah Tuhan yang menilai seberapa besar cinta kasih kita kepada Tuhan yang kita miliki.











Godaan Spiritual (bag-1)
Peliharalah Badan Kita
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (3)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (2)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (1)
Tak Ada Yang Gagal
Tabloid Suluh Meditasi Edisi Nopember 2011
Kenapa Medang?
Dalam Baju Spiritual
Legenda Cinta Radha Krishna
Geliat Pembangunan Aula/wantilan Di Parama Dhama Denpasar
Bersama Guru Dalam Setiap Langkah
Menolak Kesempatan Emas (bagian 2)
Menolak Kesempatan Emas (bagian 1)
Teknik Menerima Berkah (bagian 2)
Teknik Menerima Berkah (bagian 1)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.2)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.1)
Sembah Sujud
Kucing Putih Di Parama Dhama

Gerakan Suryanamaskar