Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Cd/vcd/dvd
Donasi
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
[MA01] KEDEWASAAN
Posted by Widyastana on 2005-12-31
[ print artikel ini | beritahu teman ]

Anak-anak balita sering kali cukup sulit bila disuruh makan atau mandi. Para orangtua sering harus mengiming-imingi hadiah agar anaknya mau makan atau mandi. Hadiah itu bisa berupa ajakan jalan-jalan, beli mainan, atau membeli makanan kesukaannya (permen, coklat, atau jajan). Tak hanya anak balita, bahkan yang lebih besarpun memiliki masalahnya sendiri. Ada yang tak mau belajar, malas membuat pekerjaan rumah, tak rajin sembahyang, dan masalah lainnya. Kadang-kadang mereka mau melakukan kewajibannya hanya bila diberi hadiah. Mereka ini belum memahami bahwa sebetulnya pelaksanaan dari semua itu merupakan kewajiban dan demi kepentingan mereka. Demi masa depan mereka.

Namun sesungguhnya masalah kemalasan itu bukan hanya terjadi pada anak kecil tapi terjadi pula pada orang yang lebih tua. Bukan pula hanya pada masalah makan, belajar, atau bekerja. Tapi juga dalam pelaksanaan spiritual. Berapa diantara kita yang betul-betul tekun melaksanakan perintah Tuhan tanpa terlebih dahulu diiming-imingi pahala?

Menurut Svami Vivekananda jalan spiritual adalah perjalanan mendaki. Mendaki dari kebenaran yang lebih rendah menuju ke kebenaran yang lebih tinggi. Jadi, mungkin benar bila untuk mengajarkan kedisiplinan spiritual pada anak kecil kita perlu memberi janji surga dan ancaman neraka. Perlahan kemudian keyakinan itu dirubah sedemikian sehingga, pada saatnya nanti, kegitan spiritual dilaksanakan semata-mata karena rasa bhakti, cinta, dan kerinduannya pada Tuhan. Tanpa perduli lagi dengan pahala surga atau siksa neraka. Melaksanakan perintah Tuhan sebagai ungkapan terima kasih pada Tuhan karena telah diciptakan sebagai manusia, dengan segala keutamaannya.

Kita mungkin satu diantara ‘anak-anak spiritual’. Selama kita bertekun diri melaksanakan kegiatan ibadah hanya karena ingin mendapat pahala, ingin dihapuskan segala dosa, atau melaksanakan perintah Guru spiritual kita hanya karena ingin mendapat berkah, maka kita tergolong ‘anak-anak spiritual’. ‘Anak-anak’ yang mau melakukan sesuatu hanya karena janji ‘sekeping coklat’.

Dari masa ke masa para orang suci yang telah berhasil meniti jalan spiritual selalu mencoba mengajak ‘anak-anak spiritual’ ini mengikuti jalan yang telah ditempuhnya. Mereka tak terlalu berharap para ‘bocah’ yang masih senang melompat kian kemari itu mengikuti jejaknya, tapi cukup mengikuti jalannya. Setiap orang bebas memilih pijakan kaki yang disukai, asal tetap di jalan rohani. Menghadapi ‘anak-anak’ yang masih suka meleng kaena tertarik keindahan di sisi jalan, para Guru seringkali harus menunjukkan keajaiban-keajaiban yang mereka miliki untuk menarik perhatian. Tujuan mereka jauh dari kesombongan, tapi sungguh hanya agar si ‘anak’ mau mendekat pada mereka dan dengan demikian lebih mudah bagi Guru untuk membimbing dan meminta si ‘anak’ mengikuti dan menjalankan ajaran yang disampaikan. Guru selalu berharap agar si ‘anak’ ini kelak bisa menjadi dewasa. Lebih dewasa. Mau melaksanakan ajaran ketuhanan tanpa terpengaruh lagi oleh keajaiban-keajaiban sang Guru. Karena sesungguhnya sangatlah melelahkan membuat dan menunjukkan keajaiban. Akan sangat menyenangkan bagi Guru bila masyarakat mau melaksanakan ajaran ketuhanan hanya dengan mendengar wejangan dan bimbingannya saja. Itu akan menjadi lebih mudah. Karena sesungguhnya, para Guru suci mengharap kita melaksanakan jalan rohani dalam ketulusan dan dalam kebeasan dari keinginan mendapat pahala. Bukan karena kagum pada keajaiban.

Bila kita termasuk ‘anak-anak spiritual’ akankah kita memilih tetap menjadi ‘bocah’ tanpa mau menjadi lebih dewasa? Akankah kita melaksanakan perintah Guru hanya karena kita ingin mendapat berkahnya? Apakah selamanya kita beribadah hanya karena ingin mendapat pahala dan bukan karena rasa cinta dan kerinduan kita untuk dekat pada Tuhan?

Memang sulit menjadi dewasa dalam dunia spiritual. Kedewasaan dalam iman berarti ketulusan dan berserah diri sepenuhnya pada Tuhan. Dalam keadaan ini, ibadah bukan lagi karena ketakutan pada hukuman Tuhan; Menolong dan mengasihi sesama bukan lagi karena mengharap pahala dari Tuhan; Bermeditasi bukan lagi karena menginginkan kemampuan-kemampuan supranatural; dan mematuhi perintah Guru bukan lagi karena mengharap berkah beliau.

‘Masalah’ akan muncul ketika kita mencoba untuk tulus berserah diri pada Tuhan dan membebaskan segala kegiatan kita (termasuk ibadah) dari segala pahala. Tuhan akan memberi ujian. Ujian ini bukan karena Tuhan ingin tahu karena sesungguhnya Beliau adalah Maha Tahu. Tapi Tuhan ingin menyadarkan kita agar kita tidak menjadikan jalan ketulusan itu sebagai ‘topeng’.

Apakah kita ingin tetap menjadi ‘anak-anak spiritual’ dengan mengikatkan segala kegiatan rohani kita pada pahala dan berkah? Atau kita bertekad maju selangkah demi selangkah dalam jalan pendakian spiritual untuk menjadi lebih dewasa, dan melakukan segala kegiatan rohani dalam iman kita dengan membebaskan diri akan harapan pahala dan berkah? Mari kita tanyakan pada diri kita sendiri. Jangan bertanya pada Guru, orang lain, apalagi pada rumput yang bergoyang…..

Saya teringat akan sebuah cerita. Konon ada seorang suci (maaf saya lupa namanya) yang berlari dengan membawa segentong air di tangan kanan dan sebuah obor menyala di tangan kiri. Ketika seseorang bertanya apa yang hendak dia lakukan, dia menjawab, “Aku akan menyiram api neraka dan membakar sorga sehingga tak ada lagi orang yang beribadah karena takut siksa neraka dan mengharap keindahan sorga.”

Dalam bimbingan Guru, mari kita mendaki menuju kedewasaan.

Widyastana











Selamat Di Jalan Spiritual
Menjaga Ketundukan Hati ( Bag. 2)
Jangan Kotori Tanganmu Dengan Urusan-urusan Tidak Perlu
Kebanggaan Dalam Harta Dan Kecerdasan Hanya Menunjukkan Bahwa Kau Tidak Kaya Dan Tidak Terpelajar
Jangan Kecil Hati Jika Pasukan Lalat, Nyamuk Dan Kala Jengking Tidak Mendukungmu
Menjaga Ketundukan Hati ( Bag. 1)
Salah, Jika Kau Menganggap Orang Mencakupkan Tangan Berarti Menyembah Dirimu
Minuman Penyegar Seorang Guru Spiritual ( Bag. 2)
Minuman Penyegar Seorang Guru Spiritual ( Bag. 1)
Jangan Mencoba Memegang Tuhan Tetapi Biarlah Tuhan Memegangmu. Itulah Jalan Yang Selamat Bagimu
Sudah Waktunya Kita Berhenti Merintih, Sebab Ia Bukanlah Nyanyian Penyejuk Sukma
Karawang Yatra
Bunuh Diri Bukanlah Tindakan Pengecut, Bukanlah Dosa Melainkan Ia Adalah Neraka Itu Sendiri
Engetahuan Suci Memerlukan Hati Yang Suci Bersih Dan Bukan Status, Kedudukan, Kasta Maupun Keterpelajaran Duniawi
Jangan Pernah Bermimpi Bahwa Orang Yang Tangannya Terbelenggu Rantai Emas Akan Mampu Membukakan Ikatan Tanganmu
Liputan Hut Medang Tahun 2010 Hari Ke-7, Puncak Perayaan & Inisiasi
Liputan Hut Medang Tahun 2010 Hari Ke-6, Ke Lempuyang
Liputan Hut Medang Tahun 2010 Hari Ke-4, Pemantapan Meditasi Ii
Liputan Hut Medang Tahun 2010 Hari Ke-3, Pelayanan Kesehatan Gratis
Liputan Hut Medang Tahun 2010 Hari Ke-2, Lomba Anak-anak

Gerakan Suryanamaskar