Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Cd/vcd/dvd
Donasi
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
PEMANTAPAN MEDITASI ANGKA HARI KE-3 TANGGAL 23 FEBRUARI 2005
Posted by Ketut Adi on 2005-02-23
[ print artikel ini | beritahu teman ]

Salam kasih,

Latihan pemantapan tanggal 23 Febbruari 2005 diawali oleh Bpk Wismagiri yang kembali melatih peserta pada 3 gerakan utama dan gerakan Surya Namaskar. Diakhiri dengan relaksasi yang sering membuat peserta sampai tertidur.

Hari ini Bapak Darmayasa menyampaikan sebuah kisah menarik. Begini kisahnya:
Ada seorang pendeta yang memimpin suatu upacara besar melewati sungai. Dia terkenal miskin, bukan karena tak punya harta, tapi semua hartanya disimpan. Apa gunanya kekayaan jika tidak digunakan dengan baik? Selesai memimpin upacara, beliau diberikan daksina sebagai ucapan terima kasih berupa semangkok emas, karena ini adalah upacara khusus yang besar. Beliau sangat senang menerima hadiah yang besar itu.

Saat pulang, beliau melewati sungai. Karena sudah waktunya akan sembahyang, beliau hendak untuk mandi di sungai. Menoleh kiri kanan takut-takut ada orang yang akan mengambil emasnya. Kemudian beliau berpikir mencari jalan mengamankan emasnya. Beliau menggali pasir dan menimbun emasnya. Untuk menandai tempatnya, dibentuk Siwa Lingga dari pasir di atasnya. Kemudian beliau bergegas mandi ke sungai.

Pada saat tersebut, datang seorang penduduk melihat apa yang diperbuat oleh pendeta tadi. Dia berfikir, ternyata seharusnya sebelum mulai mandi ke sungai kita harus membuat Siwa Lingga di pasir ini sebagai wujud bhakti pada Tuhan. Dia mengira bahwa Tuhan telah memberinya petunjuk melalui pendeta itu untuk membuat simbul Siwa Lingga. Dia pun segera membuat Siwa Lingga di sebelahnya dengan bentuk yang dibuat sedemikian rupa agar sama persis dengan yang dibuat oleh pendeta tadi. Dia pun turut menyembah pada Siwa lingga sebelum mandi ke sungai. Kemudian datang lagi penduduk lainnya dan turut ikut membuat Siwa Lingga meniru orang-orang sebelumnya. Demikian seterusnya. Karena saat itu hari suci, ribuan orang datang mandi ke sungai tersebut.

Saat selesai mandi, pendeta begitu kaget melihat ada ribuan Siwa Lingga di pinggir sungai. Dia pun dengan cemas bergegas mencari emasnya dengan menggali Siwa Lingga tersebut. Sekian banyak yang telah digali, keringatnya bercucuran, tak juga ditemukannya emasnya. Dengan sedih dan pasrah dia menghentakkan kakinya ke tanah tanda kesal.

Dari cerita tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa kita jangan meniru membuta, jangan hanya melihat siapa yang memulainya. Pergunakanlah akal sehat dan nurani kita. Jika salah meniru kita bisa jatuh di tempat yang berbahaya. Kitab suci menyebutkan, apa saja yang dilakukan oleh pemimpin dan para orang tua, itulah yang akan diikuti oleh masyarakat umum. Dalam beragama dan spiritual kita lebih sering kita menggunakan rasa saja yang akan membuat kita menjadi fanatic tanpa arah. Dalam meditasi pun kita sangat gampang ditipu oleh orang lain atau manipu orang lain. Kita banyak yang alami sakit namun tak ada yang mau mengakui dirinya sakit.

Perhatikanlah keseimbangan hidup kita, untuk kegiatan spiritual dan material. Sifat kama, lobha dan krodha itu ada di mana-mana. Bahkan sesaki sifat krodha/marah kita perlukan dalam hidup ini. Jangan berfikir dengan menjalankan meditasi nafsu kita akan menjadi hilang atau sifat lobha akan hilang. Kita pun terlahir adalah karena pertemuan hawa nafsu. Dengan melakukan meditasi kita bisa mengendalikan sifat buruk itu sehingga tidak menjatuhkan kita malahan bisa membantu kita untuk mencapai tujuan. Bagi yang tidak melakukan meditasi, nafsu, marah dan lobha bisa datang setiap saat. Kemarahan yang tepat waktu dan sasaran adalah sebuah ibadah. Hiduplah dengan normal, itulah tujuan meditasi kita. Kita akan mencapai kepuasan bathin.

Kita harus bergerak maju menuju tujuan. Jangan hanya berputar-putar di tempat sebagai orang bodoh seperti sapi yang diikat berjalan berputar untuk memeras gula tebu. Jadilah orang pintar agar kita tak mudah disesatkan oleh orang lain. Jangan seperti orang buta yang dipimpin/dituntun oleh orang buta juga. Sempurnakanlah diri kita melalui meditasi angka atau kundalini tanpa terlalu memperhatikan hasil-hasil khayalan.

Kembali Bapak Darmayasa memberikan wejangan dengan melalui sebuah kisah yang menarik: Ada dua orang pendeta. Seorang pendeta tersebut sangat sakti, bisa terbang, bisa berjalan di air dan lain-lain. Pendeta satunya adalah pendeta baik yang biasa-biasa saja dan hidup dengan normal. Suatu ketika kedua pendeta tersebut hendak menyeberangi sungai Gangga.

Pendeta sakti berkata,”Lihat, bagaimana caraku menyeberangi sungai ini!” Pendeta tersebut memang mampu berjalan di atas air bahkan seperti orang terbang dan segera sampai di seberang sungai. Pendeta satunya lagi membayar 1 rupee untuk menyeberang dengan perahu.

Sesampainya di seberang sungai, pendeta sakti berkata,”Kamu ini, menyeberang sungai begitu saja tidak mampu. Waktumu banyak terbuang, harus menunggu perahunya penuh baru perahunya diseberangkan.”
Pendeta biasa itu berkata,”Keistimewaannya apa? “
Pendeta sakti menjawab,”Mengapa kamu tanya apa keistimewaannya? Kamu lihat sendiri, saya bisa berjalan di atas air”.
Pendeta biasa menimpali,”Kalau kesaktian anda untuk menyeberagi sungai gangga nilainya hanya 1 rupee, saya tak heran kok. Saya memilih hidup normal”.

Lakukan meditasi secara normal. Kebangkitan Kundalini akan terjadi dengan pelan dan normal. Pada saatnya tiba, jika telah siap dan layak, kita akan mencapai tujuan yang diinginkan.

Di akhir acara pemantapan, setiap harinya selalu dilakukan acara tanya jawab dengan para peserta. Bahkan banyak juga yang ingin mendapatkan pelayanan penyembuhan setelah acara pemantapan, meski sudah dijadwalkan bahwa pelayanan penyembuhan akan dilakukan tanggal 27 Pebruari. Namun karena besarnya kasih dari Bapak Darmayasa dan Guruji, hampir tiap kesempatan ada acara penyembuhan.











Godaan Spiritual (bag-1)
Peliharalah Badan Kita
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (3)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (2)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (1)
Tak Ada Yang Gagal
Tabloid Suluh Meditasi Edisi Nopember 2011
Kenapa Medang?
Dalam Baju Spiritual
Legenda Cinta Radha Krishna
Geliat Pembangunan Aula/wantilan Di Parama Dhama Denpasar
Bersama Guru Dalam Setiap Langkah
Menolak Kesempatan Emas (bagian 2)
Menolak Kesempatan Emas (bagian 1)
Teknik Menerima Berkah (bagian 2)
Teknik Menerima Berkah (bagian 1)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.2)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.1)
Sembah Sujud
Kucing Putih Di Parama Dhama

Gerakan Suryanamaskar