PEMANTAPAN MEDITASI ANGKA HARI KE-2 TANGGAL 22 FEBRUARI 2005 Posted by Ketut Adi on 2005-02-22 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam kasih,
Pemantapan pada hari kedua diawali dengan dipimpin oleh Bapak Ida Komang yang mengajarkan beberapa asanas/sikap duduk. Peserta diajarkan berbagai posisi duduk yang bisa membantu bangkitnya kundalini, mulai dari sikap yang mudah sampai sikap-sikap yang susah dilakukan oleh orang awam. Kemudian Bapak Wismagiri mengajarkan sikap Surya Namaskar yang sangat penting bagi penekun meditasi. Kemudian Guru Darmayasa datang menyampaikan wejangan tentang Bhagawad Githa.
Kitab Bhagawad Githa adalah salah satu kitab suci bagi umat Hindu. Berasal dari kata “Bhaga” yang artinya semua kemuliaan, “wan” artinya yang memiliki. Tuhan disebut Bhagavan karena Beliau memiliki segala kemuliaan, segala kemewahan. Githa artinya nyanyian ata wejangan, wejangan Sri Krishna kepada Arjuna yang disampaikan sebagai nyanyian di medan perang dengan sangat cepat. Ajaran ini disampaikan oleh Krishna karena sudah mau hilang.
Banyak yang mempelajari Bhagawad Gita tapi kebanyakan mempelajarinya dengan tanpa Guru. Banyak orang yang mengambil isinya hanya untuk tujuan tertentu yaitu untuk menunjang kepentingan yang bersangkutan. Kitab ini sangat luar biasa. Jika kita menganggap kitab ini sebagai Tuhan sendiri, dengan rasa hormat yang begitu tinggi, meskipun tanpa membacanya, dia akan terberkati oleh semua ajaran di dalamnya. Bhagawad Gita adalah sebagai sarana bagi kita untuk mendekatkan diri dengan Guru Sejati, Tuhan.
Hari itu juga diajarkan sebuah kisah menarik. Kisah ini ada persis seperti di kitab suci dan Bapak Darmayasa langsung kejadian ini secara nyata. Dikisahkan ada 2
orang pendeta berteduh di bawah pohon mangga. Tiba-tiba ada buah mangga terjatuh. Pendeta pertama mengatakan: mangga jatuh karena mangga itu sudah matang dan tertiup angin sehingga terjatuh. Pendeta kedua mengatakan: mangga itu jatuh karena tadi ada burung yang hinggap di atasnya sehingga mangga itu terjatuh. Mereka terus saling membantah, lama seklai, sampai diskusinya memanas dan urat lehernya keluar.
Kemudian datang pendeta ketiga berjalan sambil terus mengucapkan nama suci Tuhan. Dia melihat mangga yang terjatuh. Dengan riang diambilnya mangga tersebut dan dikupas. Sebelumnya dipersembahkan dahulu pada Tuhan kemudian mangga tersebut dimakan dengan nikmat sekali. Rasanya sungguh nikmat. Setelah habis dan perutnya kenyang, beliau kembali melanjutkan perjalanan ke sungai Yamuna. Sementara itu pendeta pertama dan kedua masih tetap berdebat dengan sengitnya. Kisah ini sungguh menarik dan perlu kita renungkan secara mendalam apa hikmah yang bisa kita pelajari dari kisah tersebut.
|