ORANG BALI KURANG NGERTI DAN HARGAI BALI Posted by Nusa on 2005-02-25 [ print artikel ini | beritahu teman ]DENPASAR, NUSA
Jumat, 25 Februari 2005
Maestro Kundalini dan penemu Meditasi Angka dari Vrindavan India, Acharya Kamal Kishore Goswami menilai, datangnya bencana yang menelan korban jiwa, tidak terlepas dari merosotnya moral umat manusia. "Tak hanya Bali, moral umat seluruh dunia telah merosot," terangnya, ketika ditemui di Jl Gatot Subroto Timur No 1 Denpasar, kemarin.
Tokoh spiritual yang khusus datang untuk mendoakan Bali dan korban tsunami Aceh ini, menegaskan semua bencana itu terkait dengan kesucian yang berhubungan dengan manusia dan kemanusiaan. "Tanpa kemanusiaan tak akan ada kesucian," urai pria yang mengaku separuh hidupnya untuk India dan separuhnya lagi untuk Indonesia, terutama Bali.
Ditegaskannya, kian banyak manusia mengabaikan hidup harmonis dengan sesama, juga dengan alam dan sesama makhluk hidup. Tokoh spiritual yang didampingi murid tunggal Prabu Darmayasa ini menambahkan, kesucian baru bisa terwujud bila kesucian itu terbentuk dalam batin manusia itu sendiri. "Soal ini bukan hanya problem Bali, tapi dunia," imbuhnya.
Diutarakannya, ada berbagai cara untuk membangkitkan kemanusiaan itu, seperti menumbuhkembangkan cinta kasih dan meditasi angka. "Mungkin saja ada cara lain yang dikembangkan orang. Maka, lakukanlah itu secara jujur dan tulus," pesannya.
Lalu, kenapa kemerosotan moral ini juga terjadi pada masyarakat Bali, padahal berbagai ritual telah dilakukan sebagai penyeimbang? "Saya ke sini tidak melihat atau pun menilai apa yang dilakukan, tapi lebih kepada siapa yang melakukannya," ujarnya. Pria yang disapa Guru Ji ini mengaku tak mempunyai bahasa yang tepat untuk menggambarkan Bali. "Kekuatan spiritual Bali tidak mungkin ada di tempat lain. Namun orang Bali kadang kurang menyadarinya," ucapnya.
Ditegaskannya, orang yang tinggal di Bali kurang mengerti Bali karena tinggal di Bali. "Saya orang luar Bali mengerti soal Bali. Karena itulah saya menghargainya dan selalu merindukan Bali," terangnya. Selain untuk merayakan ulang tahun kelima Meditasi Angka, Sabtu (26/2), kedatangan Guru Ji dan Prabu Darmayasa sangat terkait dengan berbagai bencana yang menimpa negara ini.
Karena itu pula, saat tiba di Bali, Guru Ji langsung meditasi beberapa jam di kamar hotel sendirian. Ketika hujan turun dengan deras, Guru Ji baru keluar sembari berkata : "Semua doa telah dikabulkan, dan sudah berhasil yang kulakukan,"tuturnya kepada Prabu Darmayasa dalam Bahasa Hindi.
Setelah itu, Guru Ji keluar menuju pantai Kuta dan melarung semua pakaiannya ke laut sebagai simbolik melepas semua kesialan dan bencana untuk Bali. "Perubahan bisa terwujud bila semua mengupayakannya bahu membahu. Kita tak ada perbedaan, mata Anda dengan orang lain dua, demikian juga kaki dan yang lainnya," paparnya.
Bila menginginkan perubahan untuk Bali, lanjutnya, hanya ada dua hal yang dapat mewujudkannya, yakni harus adanya perkembangan manusia dalam hal kemanusiaan dan harus ada rasa cinta kasih antarsesama. "Sebab, selain kemanusiaan semuanya mengalami perubahan di dunia ini. Bila kemanusiaan itu tak terwujud, maka tak akan ada hal-hal yang akan berjalan baik di dunia ini," pungkasnya.
Ketika disinggung soal tanda coretan di pelinggih dan sejumlah pura yang muncul secara misterius, Guru Ji meminta waktu khusus lagi diwawancari. "Saya lebih awal mengingatkan umat di Bali, setelah itu baru bicara soal tanda misterius itu," papar Prabu Darmayasa yang menerjemahkan Bahasa Hindi Guru Ji ke Bahasa Indonesia.
sumber: Harian Nusa
|