PRABU DARMAYASA Posted by Admin on 2003-12-12 [ print artikel ini | beritahu teman ]Melihat situasi politik di Bali yang kian memanas, sangat memungkinkan konflik akan melentik di berbagai sudut di Bali. Tanda-tanda itu sudah mulai tampak di permukaan, seiring dengan HUT Golkar Ke-39 yang dipusatkan di Lapangan Kapten Japa, Padanggalak, Sanur. Bentrok antarpartai sambung-menyambung terjadi, baik di Buleleng dan Tabanan.
Prabu Darmayasa:
Jangan Terseret Arus, Di Bali Akan Muncul Kubangan Air
DENPASAR, NUSA
Senin, 27 Oktober 2003
Melihat situasi politik di Bali yang kian memanas, sangat memungkinkan konflik akan melentik di berbagai sudut di Bali. Tanda-tanda itu sudah mulai tampak di permukaan, seiring dengan HUT Golkar Ke-39 yang dipusatkan di Lapangan Kapten Japa, Padanggalak, Sanur. Bentrok antarpartai sambung-menyambung terjadi, baik di Buleleng dan Tabanan.
Kecemasan tokoh spiritual Prabu Darmayasa cukup beralasan, mengingat sejumlah prediksinya soal Bali jarang meleset. Pria kelahiran Padangtegal,Ubud yang menjadi murid tunggal Maestro Kundalini India Acharya Kamal Kishore Goswami ini, beberapa bulan lalu pernah mengatakan akan ada berita heboh dari Timur Bali.
Ketika dikatakan bahwa ada kecelakaan di Gunung Rinjani, Lombok, menewaskan putra Bali, Prabu Darmayasa tak sependapat. "Bukan itu, ada sesuatu yang lain," paparnya lewat telepon dari India. Manakala dikasitahu soal terpilihnya kembali Dewa Beratha menjadi Gubernur Bali yang memungkinkan letupan berita heboh pun ditampiknya. "Saya melihat akan ada sesuatu yang heboh di kawasan Bali Timur dan akan menjadi santapan seluruh media di Indonesia," paparnya berulangkali.
Teka-teki soal berita heboh dari kawasan Bali Timur itu tak terjawab. Namun setelah berjalan sepekan, akhirnya muncul peristiwa heboh yakni tenggelamnya kapal Wimala Bhakti yang menewaskan 8 orang di Selat Lombok, dan kemudian disusul dengan tenggelamnya kapal barang Sentosa Bahari yang hingga kini korbannya belum diketemukan.
Munculnya peristiwa tersebut akhirnya menjawab teka-teki itu. Berkaca dari pengalaman tersebut, Prabu Darmayasa kembali mewanti-wanti masyarakat Bali karena dari kacamata bathinnya melihat akan ada sesuatu di Pulau Bali, seperti ada air menggenang.
"Saya tak bisa menterjemahkan penampakan itu karena yang perlu adalah sikap awas, jangan justru masyarakat Bali yang dengan sengaja menggelar bencana," sarannya. Bila melihat penampakan spirit itu, tampaknya akan ada peristiwa yang identik dengan semburatnya air atau bisa jadi darah. "Apakah bencana yang berkaitan dengan air atau bencana lainnya karena juga nampak ada tanah yang turun," urainya.
Berkaitan dengan penglihatan niskala itu, Prabu Darmayasa mengharapkan masyarakat di Bali tidak mudah diseret arus untuk menghancurkan Bali dari dalam. "Ingat jalan masih panjang, galang kenyamanan, kedamaian karena masyarakat Bali belakangan ini kian rapuh. Bahkan, begitu mudah meletupkan emosinya dan menyakiti orang lain. Masyarakat Bali harus kembali ke tekad awal untuk menjaga Bali secara skala dan niskala," ujarnya.
Bila semua niat positif yang dilandasi kebersamaan membangun Bali, lanjutnya, niscaya semua prediksi itu akan hilang dengan sendirinya.
Prabu Darmayasa yang kemarin meletakkan batu pertama pembangunan ashram di kawasan Imam Bonjol, disertai juga pemandangan aneh di awan di atas lahan ashram. Sejumlah orang yang hadir melihat awan di atas ashram membentuk aksara suci 'Om' yang kemudian berubah perlahan menjadi Ganesha, dan terakhir berubah menjadi Khrisna. "Sebuah pemberkatan dan anugerah yang sangat indah," urai Prabu Darmayasa. dok
sumber: DENPASAR, NUSA
Senin, 27 Oktober 2003
|