Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Cd/vcd/dvd
Donasi
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
MELAYANI GURUJI
Posted by Widnya on 2004-05-11
[ print artikel ini | beritahu teman ]

Ketika saya memasuki ruang meditasi di Safdarjung Enclave, New Delhi. Guruji Acharya-Shri Kamal Kisor Goswami menyambut kehadiran saya dengan ucapan minta maaf. Waktu itu Guruji duduk di atas asana beliau (tempat duduk Guru) dan telah melepaskan baju sehingga beliau benar-benar telanjang dada. Dengan ucapan mohon maaf tersebut, beliau mengungkapkan latar belakang kebudayaan India, kebudayaan Weda, bahwa tidaklah sopan menerima seseorang dalam keadaan telanjang dada. Tapi, soal minta maaf ini kemudian dinetralkan karena tujuan hari itu adalah untuk memijat beliau. Namun sesungguhnya, yang benar adalah Guru memberikan kesempatan pada kami untuk menyentuh badan beliau dan mendapatkan berkah langsung dari beliau. Peristiwa ini terjadi pada hari Jumat malam (7/5/2004) di rumah Kakek India bernama Mr. Garga di B-5/66, Safdarjung Enclave New Delhi.

Sebelum acara memijat Guruji dimulai, dihaturkan beberapa jenis makanan seperti keripik pisang, kacang kapri, pisang goreng dan buah cheery. Semua hidangan ini disuguhkan diatas meja tamu dan diletakkan dihadapan Guruji. Diantara jenis makanan tersebut, Guruji pertama kali mengambil kacang kapri sambil mengatakan, “inilah makanan yang paling saya sukai”. Kemudian beliau mencicipi beberapa keping keripik pisang dan hanya satu potong pisang goreng. Setelah itu, beliau memerintahkan supaya semua makanan dibagikan kepada yang hadir kecuali buah cheery agar disimpan karena beliau ingin menyantapnya kemudian.

Sementara kami menikmati prasadam dari Guruji, Dewi Kusumasanthi memasuki ruangan dengan secangkir teh untuk dihaturkan kepada Guruji, “Dewi, teh kamu enak sekali’, kata Guruji setelah menikmati teh tersebut.

Guruji siap dipijit. Semua perlengkapan, seperti tikar dan matras untuk tempat beliau berbaring beserta bantal dan minyak gosok, semuanya telah disiapkan. Suasana tiba-tiba menjadi penuh keakraban sebab guruji tiba-tiba melemparkan lelucon. Katanya, sebelum berangkat dari Vrindavan menuju New Delhi, salah seorang putri beliau meminta beliau untuk makan siang. Guruji membalas permintaan putri beliau demikian, “kamu membuat saya seperti sapi; memberikan makan lalu…”, kata guruji sambil menggerakkan tangannya memperagakan orang sedang memerah susu. Rupanya, putri beliau ingin “menyogok” guruji dengan menyuguhkan makan siang lalu ujung-unjungnya mengharapkan guruji memberikan uang. Semua orang yang berkumpul di ruangan di rumah beliau di Vrindavan, seperti guruji menceritakannya kembali, tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan peristiwa ini. Tidak luput, kami pun ikut tertawa.

Guruji kemudian menceritakan waktu yang ditempuh dari kota suci Vrindawan menuju New Delhi. Beliau berangkat dari Vrindawan jam 2.30. dan tiba di New Delhi sekitar jam 7 malam. Perjanan ini cukup panjang karena jarak Vrindawan-New Delhi hanya 145 Km. Rupanya sore hari jalanan agak macet. Seharusnya jarak tersebut bisa ditempuh dalam waktu 3 jam maksimal jika menggunakan kendaraan sedan seperti yang digunakan guruji. Vrindavan-New Delhi dihubungkan oleh jalan toll yang cukup lebar. Jalan bebas hambatan ini terbagi menjadi dua jalur dan dipisahkan oleh pemisah jalan yang cukup lebar pula, dimana di sepanjang pemisah jalan tersebut bisa ditanami berbagai jenis bunga. Pada musim semi, di sepanjang pemisah jalan ini tumbuh berbagai jenis bunga sehingga pemandangan di tempat itu berubah menjadi taman yang indah.

Kami kemudian memulai memijat guruji. Semua anggota pemijat jumlahnya 7 orang: I Ketut Widnya, Gede Wismagiri, Dewi Kusumasanthi, Made Suarsa Santika, I Nyoman Giri Raja Bhusana, dan I Dewa Putu Tagel. Turut pula Pak Darmayasa sambil sekali-sekali mengajarkan tehnik memijat kepada kami.

Selama kegiatan memijit berlangsung, guruji bercerita terus menerus. Guruji mengatakan, bahwa banyak orang yang ingin melakukan pelayanan dengan memijit beliau. Bahkan saudara dan keluarga beliau juga ingin melakukan pelayanan yang sama. Tapi semua mereka itu tidak diijinkan memijit. Mengapa? Karena guruji secara khusus ingin memberikan karunia beliau kepada orang-orang Indonesia. “Itulah sebabnya saya memberkahi meditasi angka dengan memilih angka 1 sampai dengan 9 bagi orang Indonesia”, kata guruji sambil menegaskan bahwa meditasi angka tersebut sekarang ini semakin banyak diminati orang di Indonesia karena meditasi tersebut telah memberikan manfaat yang nyata.

Lebih jauh guruji mengatakan, bahwa melalui meditasi angka tersebut, beliau ingin agar apa yang beliau dapatkan selama 40 tahun melakukan pertapaan, supaya juga bisa didapatkan oleh semua orang yang sedang memijit beliau dan juga orang-orang Indonesia lainnya.

Alasan lain mengapa guruji secara khusus memberi karunia kepada orang Indonesia ialah karena orang-orang Indonesia pada umumnya sangat lugu sehingga tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di seluruh dunia. Guruji meyakinkan bahwa beliau tidak ingin mencari uang atau kekayaan melalui jalan pengabdian ini. Disini guruji memberikan cerita yang membuat kami semua terpingkal-pingkal. Kisahnya adalah sebagai berikut:

Suatu hari, teman beliau, Lallan Prasad Vyas, memperkenalkan seorang gadis Barat kepada beliau untuk belajar spiritual. Belakangan, gadis Barat tersebut ingin menjadi warga negara India. Dia minta bantuan guruji supaya membuat surat pernyataan yang menerangkan bahwa dia (guruji) adalah suami dari gadis Barat tersebut. Kontan saja guruji menolaknya sambiul mengatakan bahwa hubungan mereka adalah hubungan saudara dengan saudari. Guruji juga melakukan protes keras kepada Lallan Prasad Vyas atas kelakuan gadis Barat tersebut.

Tetapi dasar gadis yang tidak pantang menyerah, dia terus melakukan petualangan. Alkisah dia menemukan lelaki India lain yang bersedia memberikan surat pernyataan yang menerangkan dirinya sebagai suami dari gadis Barat tersebut. Tetapi sebelum surat pernyataan tersebut keluar, gadis Barat tersebut telah memberikan uang sebesar 150 ribu rupees (sekitar tiga puluh lima juta rupiah) kepada lelaki India tersebut. Guruji menjelaskan, gadis Barat tersebut kemudian tidak hanya mendapatkan kewarganegaraan India, melainkan juga mendapatkan suami India dan membangun keluarga dan beranak pinak di India, tetapi sayang sekali, mereka akhirnya bertengkar satu dengan yang lainnya.

Disini guruji menekankan prinsip-prinsip spiritualitas beliau bahwa seseorang hendaknya benar-benar tegar (dhira) didalam menghadapi berbagai paksaan duniawi yang bisa menjungkir-balikkan norma-norma agama, moral dan etika. Melalui cerita tersebut, Guruji juga ingin menegaskan bahwa bukan kepentingan uang yang menjadi dasar pertimbangan pengabdian didalam lapangan spiritual. Dicatat didalam sastra, bahwa wanita, uang dan kekuasaan, adalah tiga hal yang dapat menjatuhkan seseorang dari kekuasaan material dan spiritual.


(K Widnya)











Godaan Spiritual (bag-1)
Peliharalah Badan Kita
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (3)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (2)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (1)
Tak Ada Yang Gagal
Tabloid Suluh Meditasi Edisi Nopember 2011
Kenapa Medang?
Dalam Baju Spiritual
Legenda Cinta Radha Krishna
Geliat Pembangunan Aula/wantilan Di Parama Dhama Denpasar
Bersama Guru Dalam Setiap Langkah
Menolak Kesempatan Emas (bagian 2)
Menolak Kesempatan Emas (bagian 1)
Teknik Menerima Berkah (bagian 2)
Teknik Menerima Berkah (bagian 1)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.2)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.1)
Sembah Sujud
Kucing Putih Di Parama Dhama

Gerakan Suryanamaskar